
Airin melongo. Tadinya dia mengira kalau Julian akan benar-benar marah besar, tapi ternyata laki-laki itu hanya merengek.
Iya, merengek layaknya orang yang memang butuh perhatian dari istrinya. Jujur, Airin bahagia jika Julian sedang dalam keadaan seperti ini.
Sebenarnya sikap manja, posesif, dan lainnya ini seharusnya sudah tidak asing, Airin lihat. Pasalnya, laki-laki itu akan melakukan akting seperti seorang suami yang sayang banget kepada istrinya saat ada, Ibunya di sini.
Iya, sebajing-bajinganya, Julian. Laki-laki itu masih tahu yang namanya berbakti kepada ibu. Sebenarnya, selain karena perjanjian bisnis. Laki-laki itu juga menikahi, Airin karena permintaan ibunya.
Seandainya wanita yang dia sayangi tidak memohon, Julian bisa d menolak perjanjian bisnis yang terdengar konyol itu.
"Kau tahu, Suamimu bercerita kalau dia belum makan dari pagi." Arum menyeletuk, membuat Airin menolehkan kepala ke arahnya.
Julian pun sama. Laki-laki dewasa itu menoleh dengan bibir yang mencibir. Arum yang melihat ekspresi anaknya hanya bisa menggelengkan kepala dan tangannya langsung meraup wajah sang anak.
Wanita paruh baya itu sedikit berjinjit agar bisa meraih wajah anaknya, "Mama." Julian berucap dengan nada yang kesal, tapi wajahnya tidak memancarkan kemarahan.
"Lihat, e kau itu sudah dewasa, sudah beristri, tapi masih saja manja." Arum mencibir dan Julian yang mendengar itu hanya menghedikkan bahu.
"Emangnya kenapa? Salahkah Julian jika manja ke ibu sendiri?" Julian berucap sembari bergerak merentangkan tangan hendak memeluk tubuh, Arum.
Namun, wanita paruh baya itu dengan cepat menghadang gerakan anaknya dengan tangan kiri, sedangkan tangan satunya menutup hidung.
"Jangan deket-deket, bau, Yan. Lebih baik pergi bersihkan diri."
Julian kembali mencibir. Laki-laki itu menjauhkan diri dari ibunya dan memilih berdiri di sebelah kanan istrinya, "Julian bau seperti ini, karena berusaha membuat cucu untu, Mama. Bukan begitu, Sayang?" tanya Julian sembari bergerak merangkul sang istri dengan sayang. Pun yang paling mengejutkannya, laki-laki itu mengecup pucuk kepala, Airin.
Airin lagi-lagi tersentak kaget. Dia padahal sudah terbiasa mendapati sikap manis dan hangat seperti ini jika di depan ibu mertuanya, tapi tetap saja dia terkejut dan akan langsung menunduk, karena malu.
Jujur, Airin merasa kalau sikap Julian ini bukanlah sebuah akting belaka. Dia merasa perlakuan sayang dan hangat itu layaknya nyata.
Kalian harus tahu, kalau perlakuan seperti inilah yang membuat benih-benih, cinta bertaburan di hati Airin.
Seandainya Julian tidak pernah bersikap seperti ini. Dia pasti tidak akan jatuh cinta dengan suaminya.
"Buat terus, tapi enggak jadi-jadi,' sindir Arum dan itu berhasil membuat Julian tersenyum lebar.
Sumpah garis lengkung itu terkesan sangat natural dan tidak terlihat seperti orang yang sedang pura-pura.
"Sayang, sepertinya, Mama belum tahu bagaimana perjuangan kita setiap mal-"
"Aku akan menyiapkan air untuk, Mas mandi. Kemudian akan memasak. Maaf karena sudah pulang terlambat."
Airin yang sudah tidak tahan memilih untuk pergi. Jujur, saat ini jantungnya berdegup sangat kencang. Retakan yang tadi pagi dan kemarin malah, entah sejak kapan menyatu kembali.
"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Sayang." Airin yang hendak menaiki anak tangga langsung diam.
Wanita itu menoleh, "Akan aku buatkan kopimu sekarang." Airin mengurungkan niatnya untuk ke kamar. Dia memilih berjalan ke dapur.
__ADS_1
Julian yang melihat itu tersenyum dan itu tentu saja adalah sebuah sandiwara. Sementara Arum yang melihat anak dan menantunya itu, hanya geleng-geleng kepala.
"Julian, sejak kapan kau menjadi manja seperti ini. Sebelum menikah, kau dulu bisa menyiapkan air sendiri, masak sendiri, dan bahkan membuat kopi sendiri." Arum tak habis pikir dengan tingkah anaknya. Sebenarnya dia sudah sering mendapat cerita seperti ini dari menantunya, tentang Julian yang tidak akan mandi kalau belum disiapkan air, kemudian tentang Julian yang tidak akan makan kalau belum dimasakin.
Pokoknya, wanita paruh baya itu sudah mendengar semua sikap, Julian yang berubah. Namun, ini kali pertama dia melihat dengan terang-terangan.
"Tentu saja sejak menikah, Mama." Julian berjalan ke ruang tv, tempat di mana dia akan menunggu Airin menyiapkannya air.
Iya, Julian berubah setelah menikah. Dia berniat membuat Airin jengah dengan memperlakukan wanita itu layaknya seorang pembantu, tapi bukannya lelah, Airin terlihat seperti menikmatinya. Malahan, Julian menjadi terbiasa mendapati perlakuan seperti itu dari istrinya.
***
"Mama bawa sopir kan?" tanya Julian sembari menoleh ke arah mobil, Mamanya yang ternyata di dalam sana sudah ada seseorang.
Sekarang tiga orang itu tengah berada di teras rumah. Setelah mengobrol dan berbincang-bincang cukup lama, Arum memutuskan untuk pulang, karena dia juga sudah mendapatkan panggilan dari suaminya.
Sebenarnya wanita paruh baya itu tidak ada niatan untuk datang berkunjung. Namun, karena arah pulang setelah berkumpul dengan teman-temannya melewati jalanan, yang menuju perumahan sang anak. Arum memutuskan untuk sekalian mampir.
"Bawa, itu kan, Pak Amat." Arum menunjuk sopirnya yang sudah siap di dalam mobil.
Julian menganggukkan kepalanya dan dia langsung menyalami tangan ibunya, "Mama hati-hati di jalan." Arum mengangguk kepalanya.
"Pasti, nak," jawab Arum dengan tersenyum lebar. Wanita paruh baya itu sekarang sedang senang, karena sudah melihat betapa harmonisnya hubungan rumah tangga anaknya.
Setelah menyalami tangan ibunya, Julian menoleh ke sebelah kiri untuk melihat sang istri yang ternyata diam dengan bibir yang menyunggingkan senyum.
"Iya, Mas. Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Airin gelagapan dan Julian yang mendengar itu terkekeh pelan.
Laki-laki itu mencubit hidung istrinya, "Mama mau pulang, bukannya salim kau malah diam. Lagi mikirin apa?" Airin bersemu merah dan dia langsung meraih tangan ibu mertuanya.
Wanita cantik yang sudah rapi dengan baju santai tertutup dan juga sebuah hijab itu membungkuk tubuhnya, "Mama hati-hati di jalan," ujar Airin memperingati.
"Iya, kalau begitu, Mama pulang dulu. Kalian baik-baik yah, Assalamualaikum." Dengan melambaikan tangan, Arum berlalu pergi. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam mobil.
Pak Amat, sopir pribadi dari ibu Julian membunyikan klakson, seolah ingin berpamitan.
Julian yang mendengar klakson itu menganggukkan kepalanya, dan laki-laki itu tak lupa melambaikan tangan.
Airin pun begitu. Dia ikut melambaikan tangan dengan wajah yang berseri dan garis senyum yang tak pudar.
"Tutup gerbangnya!" Suara hangat dan penuh sayang, Julian seketika berubah menjadi nada bicara yang seperti biasanya. Dingin dan tidak bersahabat.
Airin yang mendengar itu langsung menurut, tanpa ada kata bantahan. Wanita itu berjalan mendekati gerbang dan Julian malah berjalan masuk ke dalam rumah.
Tidak memerlukan waktu yang lama, Airin sudah kembali dari menutup gerbang. Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah, untuk menyusul sang suami.
"Sejak kapan kau berani membantahku?" Baru saja Airin membuka pintu dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, Julian lagi-lagi sudah berdiri di belakang pintu.
__ADS_1
Laki-laki itu langsung menarik kasar tangan istrinya, agar masuk ke dalam rumah. Setelah itu, dia menutup pintu dengan sedikit kasar, hingga mengeluarkan debuman.
"Katakan. Apa begini sikap seorang istri kepada suaminya? Aku jelas-jelas memintamu untuk pulang, tapi kau mana?" Airin masih diam. Dia tidak ingin menjawab, karena itu percuma saja.
Julian yang melihat isyrinya diam dan membisu mengetatkan rahang. Dia memilih untuk menormalkan ekspresinya, "Pergi dan bereskan kamar. Ganti seprai dengan yang-"
"Kenapa harus aku?" Airin menyela ucapan sang suaminya dengan tatapan lurus ke depan. Julian yang mendengar itu menaikkan satu alis matanya, "kalian yang berbuat dosa, kenapa aku yang harus membersihkannya? Kenapa kau tidak menelepon ******-"
"Diam!" Julian berteriak dengan jari telunjuk yang mengacung tepat ke wajah, Airin.
"Kenapa hari ini kau begitu banyak bicara? Apa sulitnya kau menuruti perkataan suamimu, hah?"
"Aku juga istrimu, Mas. Kau suamiku, aku istrimu." Airin membalas perkataan suaminya dengan berani dan itu berhasil membuat, Julian membulatkan mata terkejut.
***
02 Oktober
Pagi harinya, Airin langsung disibukkan oleh acara menata sarapan di meja makan. Wanita itu terlihat sedikit diam, setelah semalam mendapatkan kata-kata yang membuat dirinya tertampar akan kenyataan.
Namun, biar begitu. Dia sudah tampil cantik dengan stelan hijabersnya. Dia berias bukan karena ingin dilirik oleh, Julian.
Awalnya memang dia merubah penampilannya untuk mendapatkan perhatian dari suaminya, tapi ternyata walaupun dia sudah tampil cantik. Julian tidak merubah pandangannya.
Laki-laki itu tetap menganggap sang istri sebagai sebuah rongsokan yang dibuang oleh keluarga, karena sudah tak berguna.
Bunyi suara pantofel yang beradu dengan lantai, membuat Airin menaikkan pandangannya. Dia milih sosok, Julian yang sudah terbalut pakaian kerja yang tadi dia siapkan.
Wanita itu tersenyum, tapi justru mimik wajah masam yang dia terima, "Makananmu sudah siap, Mas."
Julian tidak bergeming. Laki-laki itu melangkah ke kursi yang sudah ditarik oleh, Airin. Sedikit informasi, tadi Julian sedikit terkejut dengan penampilan istrinya, tapi tetap saja laki-laki itu tidak peduli.
Julian mendudukkan pantatnya di permukaan kursi dan Airin dengan cekatan menarik piring yang sudah berisikan nasi dan beberapa lauk pauk.
"Ap-"
Suara bel depan membuat perkataan Airin terhenti, "Bolehkah aku melihat siapa yang datang?" Wanita itu meminta izin dan Julian hamya mengeluarkan dehaman sebagai jawaban.
Airin yang mendengar itu Tan berlama-lama langsung berjalan cepat ke pintu masuk rumahnya. Sesampainya di sana, dia langsung menarik pintu ke belakang dan kedua matanya membulat saat melihat sosok yang ada di depannya.
"Raka?"
...T.B.C...
...Part kedua hari ini. Yok banyakin hadiah dan komen yang banyak juga. Satu lagi bantu share dan jangan lupa kasih gift agar aku semangat....
...Bab tiga dan empat nyusul nanti yah. agak sore....
__ADS_1
...Semoga suka. ...