
"Kenapa mereka sedekat ini?" Julian bergumam sembari menggulir layar ponsel istrinya ke atas.
Saat ini laki-laki itu sedang kepo. Dia tidak marah, malahan senang. Melihat semua ini, Julian berpikir kalau keinginan pisahnya akan segera tercapai.
"Mas?" Julian tersentak kaget dan laki-laki itu langsung mematikan layar ponselnya. Julian menoleh ke arah Airin yang sudah berdiri dengan dua tangan membawa nampan yang di mana, di atas sana sudah tersedia secangkir kopi yang mengepulkan uap panas.
Airin berjalan. Wanita yang sudah memakai baju tidur itu menendang pintu ruang kerja, untuk menutupnya hingga menimbulkan sedikit dentuman.
"Maaf, Mas, enggak sengaja." Dengan sedikit terkekeh geli, Airin meminta maaf. Wanita itu berjalan mendekati meja kerja suaminya dan menaruh cangkir berisikan kopi itu di atas meja, tepat di sebelah gelas yang sudah kosong.
Dengan memeluk nampan, Airin berjalan ke sofa yang di mana di tempat itu, masih ada Julian, "Mas, ada apa? Kenapa kau membawa ponselku?" Airin bertanya dengan nada bicara yang biasa saja.
Dia tidak menaruh curiga kepada sang suami yang terlihat masih setia memegangi ponselnya.
"Mas-"
"Jangan geer! Tadi ada orang yang menelepon dan kau tahu aku paling tidak suka dengan kebisingan. Jadi, bawa barangmu dan pergi dari sini." Julian berucap dengan sini dan laki-laki itu tanpa hati melempar ponsel sang istri.
Airin dengan sigap menangkap ponsel itu. Setelah berhasil berada di tangannya, wanita itu menggaruk kepalanya, "Salahku apa lagi sih, Mas. Aku sudah bawain kopi, terus apa lagi?" Airin bertanya dengan nada geram dan Julian tidak menanggapinya, karena dia lebih memilih untuk kembali ke tempat duduknya.
Airin yang melihat sikap acuh, Julian diam dan memilih untuk duduk di sisi sofa dengan mata yang melihat ke arah suaminya.
Airin menatap suaminya dengan lekat. Dia tidak melewatkan satu pun gerakan tubuh yang dikeluarkan Julian, seperti saat laki-laki itu mulai kembali bermain dengan laptopnya, saat sang suami mengangkat cangkir kopi dan selepas itu menyesapnya. Pokoknya dia terus memperhatikan semua itu, layaknya menonton film.
Di sisi Julian. Laki-laki itu hanya melirik acuh kepada, Airin. Dia sudah tidak akan terkejut lagi, karena selama pernikahannya, hal ini sudah seperti kebiasaan. Awalnya dulu dia risih, tapi lama kelamaan dia menjadi tidak peduli.
Suara notifikasi pesan masuk membuat, Airin kembali menghidupkan layar ponselnya. Wanita itu tersenyum saat ternyata pesan itu dari, Raka. Entahlah, wanita itu suka sekali jika mendapatkan pesan dari, Raka, karena pasti isinya lucu-lucu.
Besok pagi kita pergi, bagaimana?
Airin menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tak pernah memudar.
Emang kau punya keberanian membawa pergi wanita yang sudah bersuami sepertiku?
Airin cekikikan sendiri dengan balasan pesan yang dia kirim. Wanita itu kembali mengetuk Laya ponselnya. Dia berniat memberikan, Raka tantangan.
__ADS_1
Begini saja. Aku akan bersedia pergi denganmu jika kau berani menjemputku.
Airin mematikan ponselnya dan dia langsung membuang benda pipih itu ke belakang. Beruntunglah mendarat ke sofa.
"Apa ada yang mau butuhkan lagi, Mas?" tanya Airin dan Raka menaikkan pandangannya untuk melihat sang istri yang tengah tersenyum.
"Kepergainmu," jawab singkat Julian dengan entengnya dan itu berhasil membuat Airin terkejut.
***
03 Oktober, 06.00
"Mas, bangun udah pagi!" Airin menggoyangkan tubuh suaminya yang masih terbungkus selimut. Tidak seperti biasanya laki-laki itu bangun terlambat.
Mungkin karena semalam dia begadang hingga jam 3 dan itulah kenapa hari ini Julian harus dibangunkan.
Airin juga tadi malam begadang hingga jam tiga atau bisa dikatakan. Dia menemani laki-laki itu hingga semua pekerjaannya selesai.
Namun, biar begitu. Dia tetap bisa bangun saat adzan subuh berkumandang. Iya, Airin tidak pernah telat dalam urusan bangun, karena dia tahu kalau dirinya adalah seorang ibu rumah tangga.
Tuh, apa kurangnya Airin, hingga Julian begitu tidak suka dan selalu menganggap wanita itu layaknya sebongkah barang rongsokan.
"Mas!" Airin terus berusaha membangunkan laki-laki itu hingga, Julian yang terbungkus selimut mulai meringis.
"Kenapa kau berisik sekali, Rongsokan. Ini masih pagi dan kau sudah membuatku pening." Julian bangkit dari tidurnya dengan mata yang masih dalam keadaan merem melek.
Laki-laki itu terlihat malas dan dia ingin kembali menidurkan diri, tapi, Airin jauh lebih dulu menghentikan punggung laki-laki itu.
"Kemarin kau mengatakan akan ada meeting jam tujuh pagi dan ini sudah jam eman." Julian langsung membuka matanya.
Laki-laki itu menoleh melihat ke arah sang istri dengan tatapan tak bersahabat, "Kenapa baru sekarang kau membangunkanku?" Julian mendorong, Airin hingga tubuh wanita itu menepi.
"Kau memang tidak pernah berguna." Julian mendumel sembari bergerak turun dari atas ranjang.
Airin mencibir. Dia yang sudah rapi mendumel di dalam hati, salah lagi.
__ADS_1
"Di mana handukku, rongsokan?" Julian yang sudah berad di dalam kamar mandi berteriak.
Airin yang mendengar itu langsung bergegas membuka lemari dan mengambil satu handuk di sana.
Wanita itu berlari dan membuka pintu kamar mandi, "Ini, Mas." Airin memasukkan tangannya dari celah pintu yang dia buka sedikit.
"Lelet." Airin diam dan kembali menarik tangannya untuk keluar dan setelah itu debuman suara pintu yang ditutup kasar menyalami gendang telinga, Airin.
"Gini salah, gitu salah, punya beban hidup apa sih, Mas." Airin hanya berani mendumel seperti itu dengan suara pelan dan setelahnya dia akan cekikikan sendiri.
***
"Berkas penting, laptop, flashdisk, sudah masuk semua kan?" tanya Airin berniat membantu suaminya untuk mengingat barang-barang penting itu.
Julian melirik sinis ke arah istrinya. Dia tidak berbicara apapun, malahan laki-laki itu langsung melengos pergi tanpa ada satu pun kata pamit.
Airin menghedikkan bahu. Wanita itu menutup pintu saat melih mobil suaminya sudah keluar dari pekarangan rumah.
"Sekarang aku harus apa?" gumam wanita itu sembari berjalan menuju ruang tv, tapi sialnya wanita itu terpaksa menghentikan langkah karena dia mendengar suara pintu rumahnya diketuk.
Airin dengan malas kembali ke pintu depan, "Sebentar. Ketuk pintu biasa aja kal-"
"Hai, sudah siap?" Raka langsung melambaikan tangan saat pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok Airin yang sudah cantik dengan baju hijabers masa kininya.
"Kita jadi pergi kan, Rin?" tanya Raka memastikan dan Airin yang masih terkejut hanya bisa diam dan mencerna semua yang laki-laki itu katakan.
...T.B.C...
...Raka berani juga yah guys😀...
...Itu Julian lagi datang bulan yah, sensi mulu bawaannya🤣....
...Part keduanya nyusul agak malam yah. ...
...Jangan lupa hadiah kalian yah, vote juga, serta komen sih yang penting. Apa lagi kalian mau rekomendasikan ini ke temen-temen. pasti tambah semangat aku....
__ADS_1