Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 32. Kolase Keluarga Airin


__ADS_3

"Bapak, tokeknya ditaruh dulu. Kasihan loh temannya Airin ketakutan. Bahkan dia sampe pucat tuh."


Suara ceria ibu Airin— Laras, berhasil merebut perhatian suaminya yang saat ini tengah fokus menyiuli tokeknya.


Airin menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Pasalnya, masa iya tokek disiuli layaknya seekor burung.


Aneh, itulah satu kata yang mampu menggambarkan tingkah laku ayahnya. Selain aneh, Bapak Airin— Haidar juga bisa dibilang sangat receh.


Kenapa begitu? Iya, Haidar punya selera humor paling receh di keluarga besarnya. Contoh saja beberapa hari lalu saat semvak anak bungsunya ketukar dengan miliknya. Padahal itu hanya hal sepele, tapi, Haidar bisa tertawa hingga tiga hari.


"Yang takut kan dia, terus kenapa bawa-bawa tokek bapak? Si Jojo juga hewan. Dia punya rasa lapar dan akan makan bareng kita." Bapak sewot dan itu berhasil membuat Laras, sang istri terkejut.


"Kalau bapak bawa si Jojo, nanti kasihan anaknya. Bukankah seorang ayah tidak boleh pisah dari anak mereka? Jadi, demi menjadi seorang majikan yang berbudi baik, Bapak kudu balikin si Jojo ke kandang. Nanti Jojo durhaka dan dikutuk jadi komodo sama anak-anaknya, bapak mau?" Dia— Dafa Wigantara, anak pertama keluarga Wigantara menyeletuk membuat Haidar berpikir.


Airin terkekeh ke arah Dafa. Wanita itu mengacungkan jari jempolnya seolah ingin memberikan pujian yang sudah pasti mempan kepada, Bapak.


"Enak aja jadi komodo. Ini tokek andalan Bapak, dia selalu juara satu lomba angkat suara pertokekan Jojo's Family."


Dengarlah suara laki-laki Lima puluhan tahun itu menjawab. Dia akan sangat sewot jika sudah mengenai, Jojo dan keluarga besarnya. Namun, biar begitu dia tetap saja masuk kembali ke dalam rumah untuk memasukkan Jojo kembali ke dalam kandangnya.


Jojo itu juga punya keluarga besar dan kebetulan dia adalah kepala keluarga. Jojo punya tiga anak hasil dari kawin sembunyi-sembunyinya dengan tokek betina yang ada di rumah tetangga.


Bukan sembunyi sih, Jojo emang awalnya kabur meninggalkan kandang hanya demi mencari sang tokek betina yang tinggal di seberang. Pernah waktu itu dia hujan-hujanan hanya untuk mengapeli sang pujaan.


Saat hubungan mereka sudah berjalan tiga bulan. Si tokek betina mengatakan kalau dirinya hamil. Jojo yang hewannya sudah dilatih sebagai hewan yang bertanggung jawab, langsung membawa si betina pulang ke kandangnya. Mereka tinggal bersama hingga si betina mengeluarkan tiga butir telur, tapi naas. Si betina mati karena, Lestari tak sengaja melayangkan sutil ke arahnya.


Jojo nangis. Tokek pejantan itu tidak ada henti-hentinya membuat keributan tiga hari tiga malam. Bukan apa-apa yah, ia membuat kegaduhan lantaran tidak mau menyandang status duda. Apalagi dia dihadiahi oleh si Jantan yang dia panggil tokek itu meninggalkan tiga buah hati untuknya.


Untuk kontes Jojo's Family itu adalah, lomba yang dibuat oleh Haidar untuk para tokeknya. Dia mengadakan itu untuk mencari suara siapa yang terbaik untuk mengalahkan tokek Lia sebelah rumah, yang selalu membuat dia geems, karena suaranya yang nyaring.


"Sewot, tapi nurut. Bapaj siapa sih, Kak?" Airin menyeletuk, membuat Dafa menghedikkan bahu.

__ADS_1


Laki-laki itu melirik ke arah ibunya yang saat ini tengah membakar beberapa daging bersama seorang wanita yang di mana, itu adalah istrinya.


"Mak, Bapak siapa?" tanya Dafa, membuat Lestari menolehkan kepalanya kepada seorang anak laki-laki yang sedari tadi tak berhenti mengemil sosis.


"Dek, Bapak siapa?" tanya Lestari dan itu berhasil membuat dia— Kai Wigantara, laki-laki yang baru saja menginjak remaja itu.


Kai menghedikkan bahunya acuh, "Mama nanyak ke aku, aku nanyak ke siapa?" Keluarlah Wigantara langsung terkekeh saat mendengar penuturan si bungsu yang bisa dibilang sedikit mengundang tawa.


Raka yang melihat tingkah laku keluarga Airin hanya bisa cengo. Dia bingung dengan percakapan yang orang itu lakukan, tapi dia juga merasa terhibur.


"Ternyata kalian semua tidak berubah." Raka menyeletuk tanpa sadar, membuat semua pasang mata mengarah kepadanya.


***


Tanah Abang, 17.23pm


"Kalian udah mau pulang?" tanya Haidar yang sekarang tengah berjalan mengantar Airin dan temen anaknya itu ke teras depan.


Jujur, Raka tidak pernah merasa sebahagia ini bertamu ke rumah orang, "Oh iya, Apa Julian benar-benar keluar kota atau gimana, Rin?" tanya Bapak membuat langkah anaknya dan juga Raka berhenti.


Mereka sekarang sudah berada di teras depan rumah. Terlihat hari sudah mulai mendekati petang, "Iya, Bapak. Kenapa sih enggak percayaan bener? Tanya aja nih orang yang kerja sama bareng dia!" Airin sewot dan itu berhasil membuat Haidar terkekeh geli sembari meraup wajah ayu sang anak.


Jujur, Airin hanya berani bersikap seperti ini hanya bersama keluarganya saja. Namun, anehnya dia juga bisa mengeluarkan perilaku seperti ini di depan, Raka.


Airin juga tidak tahu kenapa dia bisa begitu. Mungkin karena bawaan Raka yang supel seperti, Bapak. Jadi, itulah kenapa dia bisa sangat mudah akrab dengan laki-laki itu.


"Benar, Tuan." Raka menjawab dan Haidar yang mendengar itu langsung melirik tajam ke arah teman anaknya ini.


"Tuan, tuan, emang aku siapa. Bukankah kita sudah sepakat kalau kau harus memanggilku dengan sebutan, Bapak."


Dengan nada yang tidak terima, Haidar berucap. Raka yang mendengar itu tersenyum, "Maksudku, iya, Bapak."

__ADS_1


Haidar tersenyum dan itu tentu saja menular ke Airin, "Bapak, aku dan Raka pamit pulang dulu yah," ujar Airin pamit. Wanita itu mengulurkan tangan untuk sungkem.


Haidar yang melihat itu tentu saja langsung mengulurkan tangan, "Hati-hati di jalan." Airin menganggukkan kepalanya sembari menegakkan tubuhnya saat dia sudah selesai dengan aktivitasnya.


Melihat itu, Raka pun ikut sungkem. Haidar kembali memberikan tangannya untuk disalami, "Kau antar anakku ke rumah suaminya dengan baik-baik."


"Siap, kapten!" Raka menjawab dengan lantang, membuat Haidar tersenyum.


"Kalau begitu kami pamit yah. Salam buat, Mama dan Kakak." Haidar mengangguk kepalanya.


Airin dan Raka yang melihat itu langsung mengambil langkah. Baru saj dia menurunkan kakinya menapak ke pekarangan rumah, gerakan dua orang itu terhenti karena mendengar suara dari belakang.


Mereka berdua menoleh, "Kalian sepertinya melupakan sesuatu."


Airin dan Raka menaikkan dua alisnya bingung. Seingat mereka berdua tidak ada tuh yang namanya kelupaan.


"Lupa, apa?" tanya Airin yang kelewat penasaran.


Haidar yang mendengar pertanyaan sang anak sudah tidak bisa lagi menyembunyikan tawanya, "Telapak kaki kalian, ea." Laki-laki lima puluh tahunan lebih itu langsung berjalan masuk ke dalam meninggalkan Airin dan temannya dengan wajah yang cengo.


***


"Terima kasih yah. Jujur, keluargamu sangat ramah, Rin. Jika orang yang tidak ingin menua, aku sarankan untuk bertemu kalian saja nanti."


Raka tak henti-hentinya memuji. Laki-laki yang bajunya tidak berubah sama sekali itu, sudah mengulangi kata-katanya berulang kali atau bisa dibilang hanya itu yang sedari tadi dia katakan.


"Sudah aku bilang. Kalian berdua akan selaras jika bersama," jawab Airin dengan tersenyum.


Saat ini, Raka tengah memacu mobilnya di jalanan kota Jakarta. Laki-laki itu terlihat fokus menghadap ke depan saat ternyata percakapan mereka sudah tak terlaksana.


"Bagaimana kalau kita pergi malam mingguan dulu, baru terus pulang. Mau enggak?" tiba-tiba Raka menyeletuk hal-hal yang tidak-tidak, membuat Airin tidak pernah berhenti mengeluarkan mimik wajah cengo.

__ADS_1


...T.B.C...


__ADS_2