Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 48. Apakah Kau Mencintainya


__ADS_3

14 Oktober.


Seperti hari-hari berikutnya. Suasana kompleks perumahan tempat Airin tinggal sekarang tengah ramai oleh beberapa orang yang tengah joging.


Airin yang sedang menyapu halaman rumah hanya bisa melihat. Dia ingin, tapi pekerjaan rumah masih terbengkalai. Bagaimana pun, membersihkan dan merawat rumah adalah hal wajib yang harus dia lakukan.


Memang waktunya untuk tinggal di sini tidaklah lama lagi. Entah kenapa hari serasa begitu cepat berlalu. Tidak ada hal istimewa yang terjadi, selain dia pergi menghabiskan waktu dengan Raka.


.


Iya, seperti pergi-pergi bernostalgia gitu. Senang, tapi entah kenapa ada satu rasa yang mengganggu benaknya. Dia tidak tahu apa itu, tapi setiap melihat tanggalan yang semakin dekat dengan akhir bulan, Airin merasa takut.


Terlebih sikap Julian yang semakin hari semakin acuh tak acuh, membuat dia bingung, "Tinggalkan sapu lidi itu dan ganti pakaianmu!" Suara serak Julian langsung membuat, Airin tersentak kaget.


Bahkan apa yang sedari tadi dia pikirkan, langsung menguap dan pergi entah ke mana, "Eh." Ekspresi dan suara khasnya jika terkejut, langsung keluar. Apa lagi saat ini dia tengah melongo bingung melihat penampilan suaminya yang sudah rapi dengan celana training dan baju kaos lengan pendek.


Sementara, Julian. Laki-laki itu berkacak pinggang. Dia memicingkan mata saat mendapati raut wajah bodoh, istrinya.


"Ha, he, ha, he. Bisa enggak jangan memperjelek dirimu seperti itu?" Dengan sedikit kesal, Julian berucap. Laki-laki itu bahkan menggerutu setelahnya.


Airin masih tidak mengerti. Dia bingung dan tidak bisa mencerna apa pun karena tadi dia dikagetkan, "Malah bengong. Cepat pergi ganti baju!" Julian semakin kesal, karena Airin diam layaknya orang bodoh.


"Buat apa? Kau tak lihat halamannya?" Buksnnya menurut, Airin malah mengajukan pertanyaan dan lebih gilanya lagi, dia kembali menyapu halaman disaat Julian sedang menatapnya dengan penuh kekesalan.


"Kita akan joging di sekitaran sini, Rongsokan. Jadi, bersiap-siap." Dengan masih meredam amarah, Julian berucap.


Laki-laki itu sekarang tengah melayangkan tatapan mata yang tajam ke pada, Airin yang entah kenapa masih setia menyapu halaman, "Jangan biarkan aku menyeret paksa kau ke dalam dan."


"Kau kenapa sih? Tumben bener pengen joging bareng aku?" Airin menyela dengan ekspresi mencibir.

__ADS_1


Julian yang mendengar itu entah kenapa sedikit menyunggingkan senyum, "Aku tidak punya teman. Jadi, jangan banyak tanya. Sekarang pergi bersiap-siap sebelum aku menyiapkanmu." Dengan sedikit memamerkan seringai, Julian berucap.


Airin kesal. Entah dapat keberanian dari mana, dia melempar sapu tepat ke arah, Julian dan setelah itu. Dia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa ada raut bersalah sedikit pun.


Julian yang melihat itu terkekeh dalam hati. Dia menyapu halaman dengan seutas senyum yang tersungging di wajahnya.


"Setelah sibuk semingguan di kantor, ternyata healing dengan cara menggoda dia lebih ampuh dari pada pergi ke Bar," gumam laki-laki itu dengan sunggingan senyum yang tidak pernah luntur.


***


"Apa kesibukanmu di tujuh hari terkahir ini?" tanya Julian tiba-tiba dan membuat Airin menoleh dengan tampang cengo seperti biasanya.


Julian yang sudah jengah menoyor kening istrinya. Saat ini dia sedang berlari-lari kecil mengelilingi kompleks perumahan. Bukan hanya mereka berdua sih, tapi ada beberapa orang juga tengah menikmati suasana Minggu pagi mereka.


Bahkan tak jarang Julian bertegur sapa dengan bapak-bapak yang sepertinya mengenal dirinya, "enggak ada wajah lain kek yang kau keluarkan. Masa iya, setiap aku nanyak kau selalu, ha, he, ha, he," kesel Julian dan laki-laki itu mulai berjalan kecil.


Airin yang melihat itu ikut melakukannya. Dia yang tadinya sedikit terhuyung menjauh dari, Julian. Sudah kembali ke sisi kiri suaminya.


"Aneh?" beo Julian dengan tangan yang berkacak pinggang dan kening yang mengkerut.


Airin mengangguk kepalanya, "Iya, aneh. Sekarang kau sering bangun, menyiapkan air dan bahkan baju sendiri," ujar Airin dan itu berhasil membuat mimik wajah penuh tanya, Julian menguap.


Laki-laki itu kembali melanjutkan perjalanan. Dia sepertinya belum mau menjawab, karena sekarang pria itu tengah menerawang langit.


Airin mengikuti. Wanita itu berjalan disebelah kiri, Julian dengan kepala mendongak melihat ke arah sang suami.


"Aku tidak aneh. Kebetulan saja kemarin kantor sedang sibuk-sibuknya. Makanya aku tidak punya waktu menunggu kau yang lelet bangun." Akhirnya Julian menjawab dan bahkan dia menoyor kening istrinya hingga wanita itu hampir jatuh, tapi beruntunglah dengan sigap laki-laki itu meraih tangan, Airin dan menariknya hingga berdiri tegak kembali.


Jangan berharap kalau akan ada adegan peluk memeluk, karena Julian sudah pasti tidak mau melakukan itu, "Berdiri yang bener." Setelah mengatakan itu, Julian mengayunkan langkah kembali.

__ADS_1


Airin hanya bisa tersenyum kikuk dan menganggukkan kepalanya, tapi percayalah kalau sekarang wanita itu tengah mengomel di dalam hati.


"Oh iya, bagaimana menurutmu dengan Tuan Satriawan?" tanya Julian setelah menyadari kalau sang istri sudah berjalan di sebelah kirinya.


"Maksudmu, Raka?" tanya Airin dan Julian yang mendengar itu melirik kesal.


"Aku penasaran. Kenapa kau begitu akrab dengan laki-laki itu?" tanya Julian.


Airin tersenyum kikuk, kau sendiri yang meminta dia akrab denganku. Jangan mengira kalau aku tidak tahu permainan yang sedang kau lakukan dengan, Raka, batin Airin kesal dan itu sangat kontras dengan mimik wajah bingung yang dia keluarkan.


"Tentu saja aku dan Raka, akrab. Dia orang yang supel, murah senyum, ramah, receh. Kau memang tidak salah memilih rekan bisnis." Airin memberitahu dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh senyum.


Julian melanjutkan langkah. Melihat cara Airin berbicara dia sepertinya mulai tahu kalau istrinya itu sudah tertarik kepada orang itu.


Airin kembali melangkah. Tiba-tiba atmosfir yang ada di sekitar pasnagan suami istri itu berubah canggung, "Aku sering melihat kau pergi dengan dia. Apa di antara kalian ada hubungan spesial?" Julian mengajukan pertanyaan itu dengan gamblang. Padahal wanita disebelahnya itu adalah istrinya sendiri, tapi dia mengajukan pertanyaan layaknya ke orang yang lajang.


Airin yang mendengar pertanyaan itu tersenyum. Wanita itu semakin sadar, kalau ternyata dia memang tidak ada di hati suaminya.


"Ada, kami berdua sahabat kecil."


Julian menghentikan langkah dan langsung menoleh ke arah sang istri, "Sahabat kecil?" laki-laki itu membeo. Sungguh, dia tidak tahu akan hal ini.


Airin mengangguk kepalanya, "Iya, dia sahabat kecilku. Makanya aku katakan, kau tidak salah mencari rekan bisnis," jawab Airin dan Julian mengangguk kepalanya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya setelah mengetahui fakta itu.


"Aneh yah, tapi nyata. Kenapa bisa kebetulan seperti itu?" Julian melanjutkan langkah laki-laki itu tadi berucap dengan senyum kikuk, karena jujur. Dia merasa aneh setelah mengetahui fakta kalau laki-laki tempat dia akan menyerahkan istrinya adalah sahabat kecil dari wanita itu.


"Kalian sahabat dari kecil, apa dulu kalian sangat dekat?" tanya Julian sembari menoleh melihat ke arah sang istri yang berjalan di sebelahnya.


"Sangat dekat. Aku dulu menangis waktu dia mengatakan akan ke luar negeri. Tapi, sekarang kami sudah ketemu lagi dan aku masih senang, karena dia tidak berubah. Raka masih seperti dia yang dulu." Airin berbicara cukup banyak.

__ADS_1


Julian tersenyum dan entah apa arti sunggingan senyum itu, "Apakah kau Mencintainya?" tanya Julian dan itu keluar dengan spontan dari mulutnya.


...T.B.C...


__ADS_2