
"Bagaimana bisa, kau?" Airin tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Padahal semalam dia cuma bergurau dan dia juga berpikir kalau, Raka tidak akan berani.
Namun, lihatlah. Mata kepalanya sendiri saat ini sudah jelas-jelas melihat, Raka. Dan wajah yang selalu memancarkan kebahagiaan itu sekarang sudah jelas di depan Airin.
"Tentu bisa. Tinggal pakai mobil aja kok." Raka menjawab dengan guyonan, tapi Airin yang sekarang larut dalam keterkejutannya hanya bisa menganga.
Raka menjentikkan jarinya di depan wajah, Airin hingga wanita itu tersentak kaget, "Malah bengong. Jadi pergi enggak nih?" Laki-laki itu kembali berucap dan Airin malah bingung mau menjawab apa.
Wanita itu menggaruk kepalanya yang dilapisi hijab. Mimik wajah bingung tercetak nyata di wajah wanita itu dan Raka melihat semua itu dengan sangat jelas.
"Jika kau melupakannya, aku bisa memperlihatkan chat semalam, Rin."
Airin yang sedang dilanda kebingungan berdecak kesal. Sial, dia menyesal telah mengatakan semua itu. Seharusnya, Airin tidak bermain-main dengan orang yang bisa dibilang masih asing dalam hidupnya ini.
Wanita itu melihat Raka yang saat ini mengenakan baju santai, "Kantor?" tanya Airin dengan dua alis terangkat.
Raka yang mendengar pertanyaan singkat itu mengetahui apa maksud ucapan dari wanita yang ada di depannya ini, "Aku ambil cuti. Lagian di kantor tidak ada yang penting," jawabnya dan itu berhasil membuat Airin mau tidak mau memikirkan suatu cara untuk menolak ajakan ini.
"Sepertinya aku harus menelepon, Mas Jul-"
"Kebetulan kami tadi bertemu di depan dan aku sudah izin kepadanya." Raka menyela dan Airin yang mendengar itu membulatkan mata terkejut.
Sebenarnya, Airin tidak perlu terkejut seperti itu, karena Julian emang begitu kan. Dia tidak pernah memperlihatkan sikap pedulinya.
"Dia mengizinkan?" tanya Airin dan Raka menjawab dengan anggukan kepala.
Melihat anggukan kepala itu, Airin nampak berpikir, "Jam berapa?" tanya wanita itu dan Raka berdecak kesal.
"Ya sekarang dong, Rin." Raka menjawab dengan agak judes dan Airin yang mendengar itu melirik kesal ke arahnya.
"Maksudku sekarang jam berapa, Raka. Ya Allah nih orang." Dengan lirikan sinis, Airin menjawab dan Raka yang mendengar itu terkekeh.
"Oh, siapa suruh nanyak setengah-setengah." Raka mengangkat tangannya dan kedua matanya melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangannya, "Jam, tujuh lebih dikit," imbuh laki-laki itu dan Airin yang mendengar kata lebih dikit itu kembali kesal.
"Lebih dikitnya itu berapa, Raka?" tanya Airin yang jengah. Raka berdecak.
"Jika aku bilang dikit ya pasti dikit. Kau enggak perlu tahu lebihnya berapa. Sekarang yang paling penting, kau ambil tas dan kita gas."
__ADS_1
Raka berniat mengakhiri obrolan dan Airin yang mendengar penuturan laki-laki itu kembali berpikir untuk menimbang-nimbang.
"Baiklah, kalau begitu aku ambil tas dulu." Raka menganggukkan kepalanya.
Laki-laki itu menyunggingkan senyum saat, Airin beranjak masuk ke dalam. Raka terlihat bahagia. Laki-laki bujang itu tengah berteriak kegirangan di dalam hati.
"Ayok, berangkat." Raka tersentak kaget saat mendapati, Airin yang ternyata cepat sekali kembali.
Raka menormalkan ekspresinya, "Ayok," ajak laki-laki itu sembari bergerak menepi untuk memberikan Airin jalan keluar.
Airin tersenyum ramah, "Makasih," ujar wanita itu dan Raka hanya menjawab dengan anggukan kepala serta kedua sudut bibir terangkat.
"Oh iya, kita akan pergi ke mana?" tanya Airin yang tadinya hendak berjalan ke pekarangan rumah.
Raka menghentikan langkahnya. Laki-laki itu tersenyum, "Ke tempat kesukaanmu," jawab Raka dan itu berhasil membuat Airin menaikkan satu alis matanya.
"Emang kau tahu tempat kesukaanku?" tanya Airin dan itu berhasil membuat Raka gelagapan.
***
Kantor Julian.
"Sial, sial, sial. Dasar tidak berguna." Julian mengumpat saat ajakan panggilan suaranya tidak ditanggapi oleh, Airin.
Iya, sekarang laki-laki itu tengah berusaha menelepon Airin. Julian mengajak panggilan suara pasti ada maunya. Dia tidak akan menelepon jika tidak ada alasan yang mendesak.
"Tuan, Pak Suryo mulai bosan menunggu." Seorang wanita berpakaian kantor yang baru keluar dari dalam ruang meeting, langsung menghampiri Julian.
"Biasa diam tidak?" Bukannya mendapatkan jawaban baik-baik, wanita itu malah mendapati teriakan dari Julian.
"Maaf, Tuan." Wanita itu berlalu pergi dan Julian yang sudah kembali sendiri langsung menjatuhkan pantatnya di kursi panjang yang ada di sisi lorong.
"Sialan. Kenapa juga aku sampai lupa?" Laki-laki itu semakin kesal dan semua ini karena dia melupakan flashdisk yang berisikan presentasi.
Padahal sebelum berangkat, Airin sudah mengingatkannya, tapi Julian yang benci dengan kehadiran wanita itu, malah sok sinis.
"Angkat dong, Rongsokan. Kau berguna sedikit." Julian masih berusaha menelepon istrinya, tapi laki-laki itu belum juga mendapatkan jawaban.
__ADS_1
Julian bangkit dari duduknya. Laki-laki itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, "Kau didiamkan ternyata semakin bertingkah, yah. Awas saja jika aku menemuimu di rumah."
Akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk kembali pulang dan dia akan mengambil sendiri berang yang dia tinggalkan.
Seandainya dia seperti biasa membiarkan, Airin yang menyiapkan perlengkapan kantornya, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Jadi, di sini hanya dia yang salah dan Julian tidak sepantasnya menyalahkan sang istri.
***
"Raka kenapa kita ke sini?" Dengan pandangan berbinar, Airin melihat sekeliling.
Raka yang melihat ekspresi terpukau Airin, hanya bisa mengulam senyum. Sungguh, setiap kali melihat pancaran kebahagiaan milik wanita itu. Entah kenapa Raka senang.
Sekarang, Raka dan Airin tengah berada di Timezone. Setelah mengendari mobil selama beberapa menit, mereka berdua memilih mendatangi tempat itu, karena Raka tahu kalau Airin menyukai hal-hal yang berbau permainan.
"Kenapa kau bisa tahu kalau aku menyukai tempat seperti ini?" tanya Airin dengan masih mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling Timezone yang ternyata di penuhi oleh bocah.
Iya, jelas lah banyak bocah. Kan tempat itu memang dikhususkan untuk anak-anak, tapi Airin suka memainkan permainan anak-anak.
"Hanya menebak," jawab Raka dengan mimik wajah sombong dan sedikit terlihat songong.
Airin yang melihat itu mencibir, "Karena Ki di sini. Ayok kita langsung mandi bola."
Raka melebarkan pupil matanya, terkejut, "Mandi bola?" beo Raka dan Airin yang sudah tidak sabaran, tanpa sadar menarik tangan laki-laki itu agar bergerak.
Biar pun belum bermain-main, Airin sudah terlihat sangat bahagia. Wanita itu berteriak kegirangan, tanpa dia ketahui kalau di sisi lain, suaminya sekarang tengah uring-uringan.
...T.B.C...
Di sini siapa yang sealiran dengan, Airin. biarpun dan gede masih suka ke Timezone? 👉
Ada yang kasihan dengan Julian?👉
Dukung siapa nih?
Julian dan Airin, 👉
Raka dan Airin, 👉
__ADS_1
...Jangan lupa kasih hadiah, kirim tiket vote, dan komen biar aku semangat. Sekalian bantu rekomendasikan bacaan ini kepada teman-teman yah....