Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 43. Maaf, Tidak, dan Terima Kasih


__ADS_3

Malam menjelang, saat ini Julian tengah mengerikan rambutnya sembari berdiri di depan cermin. Laki-laki itu bergerak melempar handuk basa tersebut ke atas ranjang, saat dia merasa air di rambutnya sudah terhisap.


Airin yang saat ini duduk di sisi depan Ranjang, langsung terkejut saat sehelai handuk putih beraromakan sampo khas Julian, bertengger di kepalanya.


Wanita itu bergerak memindahkan handuk tersebut di sisi ranjang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Julian yang melihat reaksi istrinya yang tidak biasa, menyatukan alis.


Lagi-lagi kebingungan hinggap di kepala laki-laki itu. Dia ingin bertanya kenapa wanita itu diam dan tidak seperti biasanya. Namun, egonya ternyata lebih besar dari keinginan hatinya.


Emang yah, ego manusia itu sangat sulit untuk diruntuhkan. Apalagi orangnya modelan, Julian yang sok acuh tapi sebenarnya ingin perhatian.


"Dari pada duduk enggak jelas. Bawakan makanan malamku ke sini. Aku malas untuk turun ke bawah."


Airin menaikkan pandangannya terlebih dahulu. Dia melihat suaminya saat ini tengah menyemprotkan parfum ke ketiaknya. Padahal udah malam, tapi kenapa dia harus menggunakan parfum segitu banyaknya.


Namun, Airin hanya bisa menghedikkan bahunya. Dia melepas pakaian yang saat ini dia coba jahit bagian ketiaknya yang bolong.


Setelah melepas itu, Airin hendak beranjak pergi, tapi dering ponsel membuat langkah kakinya tertahan di udara. Wanita itu memanjangkan kepalanya dan saat dia melihat nama, Rakata, Airin kembali.


Wanita itu dengan senyum girang, langsung menerima ajakan panggilan suara itu, "Selamat malam, Ra kata-kata." Dengan sedikit cekikikan, Airin berucap, membuat suara tawa khas Raka terdengar mengalun merdu dari dalam ponsel.


"Berhentilah memanggilku seperti itu, Ririn. Mentang-mentang sudah mengingat kata-kata itu, kau mulai lagi."


Airin hanya tertawa dan itu tak luput dari pandangan, Julian yang saat ini melihat istrinya mulai berjalan keluar dari dalam kamar.


Satu rasa penasaran kembali masuk secara paksa ke dalam hatinya, "Masa bodoh." Pada akhirnya, Julian memilih untuk lagi-lagi tidak peduli. Dia berjalan ke sofa yang ada di kamarnya dan duduk di sana menunggu makan malam yang akan dibawakan oleh istrinya.


***


Malam semakin larut, tak terasa jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Airin masih terjaga di kamarnya dengan ponsel yang masih menyala.


Wanita itu sekarang tengah tiduran di sofa, tempat tidur wanita itu sebenarnya. Dari tadi dia tidak berhenti cekikikan.


Kenapa kau menjadi lebih santai setelah mengetahui aku adalah Rakata?


Airin cekikikan. Entah kenapa setiap dia membaca kata rakata. Dia langsung membayangkan wajah Raka oas kecil dulu.


Jadi, gini. Airin memanggil, Raka dengan sebutan Rakata, karena dulu pas pidato perpisahan kelas enam, Raka mau mengatakan tanpa berkata-kata. Eh, dia malah mengucapkan tanpa rakata-kata.

__ADS_1


Airin masih ingat ekspresi gugup, Raka waktu itu. Awalnya dia lupa, tapi setelah berbicara dengan Raka di gedung tua siang tadi, dia mengingat semuanya.


Ririn, bagaimana reaksi orang tuamu? Apa mereka terkejut? Teru, bapak gimana?


Mereka terkejut, termasuk bapak. Setelah mengatakan itu dia langsung menyesal, Ken tidak lebih menakut-nakutimu.


Bilangin ke bapakmu. Cari hobi yang bagusan dikit. Kek ikan ******, atau apa gitu. Ini malah pelihara tokek.


Bilang sendiri, gih.


Airin tidak berhenti cekikikan. Malam ini dia sangat bahagia dan bisa tertawa lepas, karena tidak ada Julian yang akan mengomentari.


***


Masih di rumah Julian dan Airin


Di satu ruangan yang juga terletak di lantai dua. Saat ini, Julian tengah berkutat dengan laptopnya. Namun, sedari tadi dia tidak berhenti menoleh ke arah pintu untuk mencari tahu, kenapa wanita itu tidak menemaninya.


Bukan apa-apa yah. Hanya saja Julian merasa sepi. Dia yang setiap kali lembur selalu ditemani suara ceriwis, Airin merasa sedikit ada yang hilang.


"Ke mana dia? Tumben sekali." Julian bergumam sembari memanjangkan kepalanya untuk melihat ke arah pintu.


Namun, berbeda dengan malam ini. Julian masih belum melihat tanda-tanda pintu ruang kerjanya terbuka. Padahal dulu, kurang dari tiga detik setelah dia masuk, Airin juga ikut nyelonong. Dia tidak membantu, tapi hanya duduk-duduk di sofa sembari mengoceh hal yang tidak berguna.


"Kenapa aku harus peduli? Begini lebih baik. Sepi dan aku bisa fokus Tan harus diganggu oleh suara rongsokan itu."


Julian kembali fokus. Laki-laki itu mengeluarkan kata-kata untuk menolak perasaanya yang tadi mencari-cari keberadaan Airin.


Lagi, lagi ego. Kapan manusia akan lepas dari yang namanya sifat itu. Apa salahnya jujur dan mengatakan kalau dia memang membutuhkan sosok, Airin untuk menemani dirinya di sini.


"Sial, sial, sialan!" Julian mengumpat dan dis langsung bangkit dari duduknya.


Dengan langkah yang lebar, Julian keluar dari balik meja kerjanya dan kemudian berjalan untuk meninggalkan ruangan itu.


Sesampainya di luar, Julian langsung mengayunkan langkah ke arah kamarnya yang berjarak tidak terlalu jauh.


Julian berhenti tepat di pintu kamar dan laki-laki itu langsung mendorong pintu. Dia tidak masuk, tapi hanya saja ia berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang langsung mengarahkan ke sofa.

__ADS_1


"Bagus, terus lanjutkan. Kau di sini tertawa enak-enak dan aku di ruang kerja mengantuk. Apa aku harus meminta dulu, baru kau membawakannya, hah?" Dengan nada bicara yang kesal dan sedikit berteriak marah, Julian berucap.


Airin yang mendengar penuturan suaminya langsung bangkit. Dia melihat ke arah, Julian dengan mimik wajah yang datar. Mungkin jika, Airin yang sebelumnya mendapati itu, pasti akan mengeluarkan senyum kikuk.


Namun, Airin yang ini berbeda. Dia diam dan sepertinya tidak ada niatan untuk berbicara, "Aku akan menunggu, tapi jika kau belum sampai dalam waktu tiga menit. Jangan salahkan ponselmu itu terbang ke jalanan kompleks!"


Setelah mengatakan itu, Julian berlalu pergi dengan mimik wajah penuh kemenangan. Sementara, Airin. Wanita itu langsung beranjak untuk membuatkan suaminya kopi.


***


Suara pintu ruang kerja menyalami gendang telinga, Julian dan membuat laki-laki itu menaikkan pandangannya.


"Buat kopi aja kudu makan waktu lima menit?" Julian mengomel dan Airin tidak menanggapinya. Wanita itu justru meletakkan secangkir kopi ke atas meja pun dengan semangkuk cemilan.


Julian memperhatikan dalam diam. Jujur, dia yang didiamkan seperti ini merasa sudah muak. Sangat muak hingga dia ingin memecahkan sesuatu.


"Apa mulutmu keram hingga tidak berbicara sedikit pun?" tanya Julian dan Airin masih bungkam dan malahan lebih parahnya dia berbalik seolah ingin kembali keluar.


Namun, gerakannya terhenti saat sebuah vas terbang dan membentur pintu ruang kerja yang masih terbuka, "Aku bicara padamu. Percuma mulutmu itu kalau ia enggak guna sedikit pun." Julian semakin marah dan dia mulai mengeluarkan nads tinggi.


Airin yang mendengar itu menghela napas dan kembali berbalik untuk melihat sang suami, "Mau kau apa sih? Aku diam marah, banyak bicara marah. Emang yang aku itu enggak pernah bener."


Telak. Julian langsung bungkam. Dia melihat ke arah, Airin dengan tatapan mata yang tidak bisa percaya. Jujur, Julian tidak pernah menduga kalau wanita itu berani bicara dengannya tanpa ekspresi.


"Gini yah. Kau kan risih tuh jika lihat aku ada di sekeliling sini. Nah, makanya aku diam di kamar. Jadi, jika kau mau kopi, bikin sendiri saja. Katanya 'kan enggak mau lihat aku."


Airin berucap sekenanya dan itu lagi-lagi berhasil membungkam Julian. Wanita itu kembali berbalik dan hendak melangkah pergi.


Namun, wanita itu diam. Dia menoleh ke arah Julian, "Besok aku akan bertemu dengan orang tuaku. Jadi, sebelum pergi aku izin dulu walau sepertinya kau tidak akan peduli."


"Untuk apa?" tanya Julian dan Airin menghedikkan bahunya.


"Entah," jawab wanita itu singkat.


"Kalau begitu, aku akan mengantarmu." Entah kerasukan apa, tiba-tiba Julian menawarkan tumpangan. Airin yang mendengar itu tersenyum kecut.


"Maaf, sepertinya itu tidak perlu. Mungkin kau ada kesibukan dengan kekasihmu itu, tapi terima kasih atas tawarannya." Setelah mengatakan itu, Airin benar-benar keluar dari ruang kerja, membuat suasana hampa tercipta di sana.

__ADS_1


...T.B.C...


__ADS_2