
Beberapa menit lalu.
Julian keluar dari sebuah restoran bintang lima yang ada di sekitar, Menteng. Laki-laki itu mengayunkan langkah menuju parkiran. Langkah kakinya terhenti saat gendang telinganya menangkap nada dering panggilan masuk, yang keluar dari ponselnya.
Laki-laki itu meronggoh saku celana kain yang dia pakai, "Mama?" gumam Julian saat membaca nama si penelepon yang muncul di layar ponselnya.
Julian langsung menerima ajakan panggilan suara itu. Laki-laki berwajah tegas itu bergerak menempelkan benda pipihnya ke depan telinga.
"Julian!" Laki-laki itu menjauhkan ponselnya dari depan telinga saat dia mendapati teriakan melengking, Arum.
Julian kembali menempelkan benda pipih itu ke depan telinganya saat dia rasa, Arum— ibunya yang ada di seberang sana sudah tidak mengeluarkan suara lagi, "Ada apa sih, Ma?" Dengan sedikit kesal laki-laki itu bertanya. Dia juga terlihat kembali melangkahkan kakinya menuju perkiraan.
"Kenapa, kenapa. Tadi Mama telepon istrimu dan dia bilang kalau sekarang dia ada di rumah ibunya." Julian hanya bisa sabar mendengarkan nada bicara ibunya yang tentu saja cerewet.
"Terus?" tanya Julian sembari membuka pintu mobil bagian kemudi dan langsung bergerak masuk ke dalam sana.
"Terus kau susul dia, Julian. Masa iya istri pergi ke rumah orang gua di kasih sendirian." Julian memejamkan mata dan berdecak dalam hati.
"Aku bekerja, Ma. Lagian, dia yang menita kok. Aku juga tadi sudah memaksa cuti, tapi katakanya tidak perlu," terang Julian dan dia langsung mendapatkan suara decakan kekesalan dari seberang sana.
"Susul istrimu sekarang!" Sambungan telepon terputus, Julian menjauhkan ponselnya dari telinga dan laki-laki itu langsung membuang benda tersebut ke jok yang ada di sebelahnya.
"Menyebalkan!" Julian berteriak malas, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. Entah apa arti sunggingan bibir itu, "tapi, itu bukan ide buruk juga."
***
Julian melangkah mundur sembari meremas bungkus burger yang terbuat dari kertas berwarna cokelat itu dengan kasar.
Padahal tadi dia berniat untuk membelikan, Airin ini. Memang cuma di beli di McD, tapi dia nunggu loh. Julian mengantri dan itu membuang waktu.
__ADS_1
Namun, lihat. Apa yang ada di depannya. Laki-laki itu berbalik. Dia sepertinya kecewa, tapi entah rasa itu datang untuk apa. Julian juga marah, tapi dia juga tidak mengerti kenapa bisa marah.
Pokoknya suasana hatinya sekarang campur aduk udah kek gado-gado. Laki-laki itu berjalan keluar. Dia membanting bungkus berwarna cokelat itu dengan kasar. Sungguh, entah kenapa dia merasa menyesal ke tempat ini.
Seharusnya dia kembali saja ke kantor, walau pasti akan bosan karena tidak akan ada yang dikerjakan, "Sial, sial, sialan!" Julian kesal sendiri dan bergerak memukul udara.
Julian bergerak membuka pintu mobil dan langsung masuk dengan gerakan cepat ke dalam sana, "Menantu!" Suara Haidar yang saat ini tengah nongkrong di tetangga depan rumah, memanggil. Namun, mobil Julian malah melaju pergi meninggalkan area depan rumahnya.
Mendapati panggilannya yang tidak ditanggapi, Haidar menghedikkan bahu dan kembali duduk, "Menantu dan anakku memang aneh," ujarnya, membuat bapak-bapak yang sudah menjadi kantetnya main catur mengerutkan kening.
"Emang kenapa?" tanya laki-laki seumuran Haidar itu sembari mengelus dagu berpikir, bidak catur mana yang akan dia majukan.
"Aku juga enggak tahu, tapi yang jelas mereka berdua aneh."
***
Sore menjelang, saat ini halaman belakang rumah keluarga Airin tengah ramai-ramainya dan itu tentu tidak lepas dari tingkah Haidar yang memanggil cucu laki-lakinya dengan nama, Daya.
Daya a.k.a Dafa dan Maya. Nah itulah kenapa, Haidar menolak nama cucunya itu adalah Jason. Sementara, Dafa. Laki-laki itu menolak keras anaknya dinamai seperti itu.
Kalian bayangkan, Jason anak laki-laki yang tampan. Persis deh seperti bapaknya yang berkulit putih, tapi masa iya namanya Daya, kan enggak banget.
"Daya, sini sama kakek. Kita pergi ke kandang si Jojo. Nanti kakek kenalin ke anak-anak, jo-"
"Pak, namanya Jason," sela Dafa yang sudah kesekian kalinya, tapi malah decakan kesal yang dia terima sebagai jawaban.
"Terserah, pokoknya bagi Bapak namanya, Daya." Bapak sewot. Dia bahkan sudah siap memukul kepala anaknya dengan kipas sate.
Iya, sekarang semua keluarga tengah berkumpul untuk melakukan bakar-bakar ikan. Jangan tanyakan mereka mendapatkan itu dari mana, karena jawabannya sudah jelas dari kolam, Dafa.
__ADS_1
Sungguh, tadi, beberapa jam lalu di rumah ini terjadi perang antara Dafa yang tidak mau ikannya di korbankan dan Haidar yang memaksa untuk mengorbankan empat ekor koi bertubuh gembul, milik anaknya.
Tentu saja yang menang Haidar. Patut Anda ketahui kalau mulut laki-laki itu sangat lemes. Sebenarnya, Haidar juga tidak ingin mengorbankan ikan anaknya. Dia memaksa, karena, Raka, teman masa kecil sekaligus bocah laki-laki yang selalu dia usili lantaran enggak berani sama tokok, datang kembali.
Itulah kenapa, Haidar menegaskan pesta penyambutan dadakan. Bahkan Kei yang tadi ingin keluar konfoi bareng temen-temennya, terpaksa diam di rumah.
"Bapak dan kakakmu tidak berubah sama sekali yah." Raka menyeletuk, membuat Airin yang duduk di sebelahnya menoleh.
Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia kembali melihat ke depan, tepat ke arah keluarganya. Saat ini Airin dan Dafa tengah duduk di kursi penjang yang terbuat dari besi. Dibelakang kursi itu ada kolam renang.
"Iya, mereka memang begitu. Tidak ada yang berubah selain-"
"Kamu." Raka menyela dan Airin yang mendengar itu langsung bungkam. Seketika suasana di antara mereka berubah suram dan itu karena ekspresi Airin yang tiba-tiba kehilangan senyum.
"Bagaimana?" tanya Raka setelah tadi dia menghela napas. Airin menoleh dengan tatapan mata yang tidak mengerti, "apa dia sudah minta maaf?" imbuhnya, membuat wanita itu mengerti.
Airin menghela napas dan mimik wajahnya terlihat jelas memancarkan kelelahan, "Tidak. Seperti yang kau katakan. Dia tidak minta maaf dan malah diam seolah tidak punya salah. Sebenarnya, aku juga sudah menduga itu, tapi aku terlalu berharap, Ka."
Raka hanya bisa mendengar. Jujur, dia ingin sekali menengakan, Airin demgan cara memeluk wanita itu seperti waktu kecil dulu. Namun, dia sadar akan statusnya.
"Berarti langkah yang akan kau ambil?" Raka hanya bertanya seperti itu, tapi dia tahu kalau Airin pasti mengerti.
Buktinya, wanita itu mengangguk kepalanya, "Iya, aku akan mulai tidak terlalu akrab dengannya, agar bisa dengan musa melupakan dia."
Kara menaikkan kedua alis matanya bingung, "Lalu?" tanya Raka yang benar-benar kebingungan.
"Lalu aku akan coba mencintaimu seperti dulu lagi," jawab Airin dan itu berhasil membuat, Raka tersenyum. Entah yang pasti dia merasa senang.
Setelah mengatakan itu, Airin tersenyum, tapi dalam hati dia bertanya, apakah keputusanku ini benar? Tidak salahkan aku memilih seperti itu?
__ADS_1
...T.B.C...
...Kita mulai eksekusi si Iyan. ...