
Airin masih diam mematung. Wanita itu merasa sangat sulit untuk membuat langkah. Jangankan melangkah, melakukan satu gerakan pun dia merasa tidak bisa.
Tubuhnya serasa membeku, jantungnya terpompa sangat cepat, membuat aliran darahnya tak terkendali, "Ma-"
Kata-kata Airin berganti menjadi teriakan, karena Julian— suaminya dengan kasar menarik masuk dirinya kemudian laki-laki itu, membanting pintu dengan kasar untuk menutupnya.
"Kau didiamkan semakin menjadi." Dengan nada geram, Julian berucap. Bahkan laki-laki itu sekarang tengah menyeret istrinya menuju ke lantai atas.
Airin hanya bisa meringis sekaligus membulatkan mata saat melihat barang-barang di lantai satu berantakan pun banyak pecahan kaca di tempat itu.
Seketika, Airin sadar dan otaknya tiba-tiba memutar kejadian-kejadian satu tahun yang lalu, saat dia pertama kali membuat Julian marah.
"Kau dibaik-baikkan malah kelewatan." Julian mulai menaiki tangga, membuat kaki Airin melangkah dengan terseok-soek.
Bahkan beberapa kali, mata kaki wanita itu terbentuk dengan undakan tangga. Airin meringis, tapi Julian masa bodoh dengan suara itu.
Sekarang laki-laki itu marah, sangat marah hingga dia tidak bisa mengontrol diri. Julain bersikap seperti ini hanya karena sebuah flashdisk yang lupa dibawa, hinga membuat dia kehilangan kontrak kerja sama.
Padahal itu sudah jelas-jelas kesalahannya, tapi entah kenapa dia melimpahkannya ke sang istri, yang notebenenya tidak tahu apa-apa.
Airin berteriak saat laki-laki itu menghempaskan tubuhnya masuk ke dalam kamar dan mendarat jatuh tepat atas pecahan beling vas bunga yang bercampur dengan kaca.
"Kau sudah ke mana, hah?" Laki-laki itu bertanya dengan tatapan mata yang nyalang.
Julian baru masuk ke dalam kamar dan laki-laki itu langsung berdiri tegas di hadapan istrinya yang masih terjatuh.
"Salahku apa lagi, Mas?" Bukannya menjawab, Airin malah bertanya dan wanita itu juga mencoba untuk bangkit dari terjatuhnya.
Namun, saat dia hendak mengangkat tubuh. Julian justru melangkah menahan otot tangannya. Padahal laki-laki itu tidak menggunakan alas kaki, tapi dia begitu berani menapakkannya di atas pecahan kaca.
"Siapa yang memberimu hak untuk bertanya, rongsokan?" Dengan penuh penekanan, Julian berucap pun tatapan matanya sekarang tajam ke arah netra hitam Airin yang tidak terlihat menampakkan kesedihan.
Julian marah. Dia tidak suka melihat tatapan berani yang keluar dari mata istrinya. Entah kenapa akhir ini dia merasa kalau wanita itu berubah. Sangat-sangat berubah.
Padahal dulu dia tidak pernah mendapati istrinya balas menatap dirinya, "Kenapa begitu? Siapa yang membuat aturan kalau aku di sini tidak punya hak bertanya?" Airin bertanya dengan sorot mata berani.
__ADS_1
Julia yang mendengar itu semakin menguatkan genggamannya di tangan Airin, "Aku. Di sini akulah kepala keluarga. Di tempat ini akulah yang membuat aturan dan kau sebagai istri hanya harus menurut dan jangan pernah keluarkan bantahan dari dalam mulutmu itu."
Airin tidak terima. Dia juga punya hak di sini, "Ken-"
"Jika kau tidak terima, tanda tangani surat cerai itu dan kau akan bebas melakukan apa pun yang kau mau."
Airin langsung menciut dan wanita itu langsung tidak berani mengeluarkan kata-kata lagi.
***
Malam semakin larut, tapi Airin masih setia duduk di sisi depan ranjang dengan kedua kaki naik ke atas.
Singkatnya, wanita itu duduk dalam keadaan bersila. Setelah mendapatkan amarah suaminya selama hampir tiga jam, tepat saat jam sebelas malam, Julian langsung tertidur.
Airin yang mendapati hal itu langsung melakukan tugasnya layaknya seorang istri, yaitu membenahi rumah yang diberantaki oleh, Julian.
Airin tidak membutuhkan waktu, lama. Paling tadi dia hanya memakan waktu lima puluh empat menit saja.
Sekarang, tepat saat jam dinding di kamarnya hampir menunjukkan pukul dua belas malam, Airin masih terjaga.
Wanita itu membuka kotak obat dan mulai mengeluarkan kapas dan sebotol rivanol. Sekarang wanita itu mencoba untuk mengobati luka Julian. Dia sudah tiga kali mengecek apakah Julian sudah tertidur pulas atau belum.
Airin mulai menuang rivanol ke kapas dan setelah dirasa cukup, dia langsung mengoleskan itu kepermukaan kaki suaminya dengan pelan.
Padahal, dia juga terluka, tapi Airin justru memilih mendahului suaminya. Katanya, luka di lengan dan pinggulnya, tidak terlalu parah. Hanya sebuah goresan yang tidak mengeluarkan setetes darah pun.
Seperti itulah, Airin. Dia sebenarnya seorang istri yang baik, tapi entah kenapa Julian tidak menyukainya. Tidak ada yang tahu, karena hanya laki-laki itu dan tuhan yang tahu.
***
"Cepatlah, kenapa kau begitu lama?" Julian yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu berteriak, memanggil istrinya.
Sementara di dalam rumah, Airin yang sudah selesai merias diri langsung bergerak cepat untuk mengambil tas dan kemudian dia berlari untuk menyusul suaminya.
Di ambang pintu masuk rumah, Julian berdecak. Laki-laki itu bergerak mengangkat tangan untuk mencari tahu pukul berapa sekarang.
__ADS_1
"Hai, ap-"
"Sudah." Airin yang baru datang langsung menyela perkataan, Julian, membuat laki-laki itu diam dengan wajah datarnya.
"Ayok!" ajak Airin dengan wajah yang berseri dan senyum yang lebar.
Julian yang melihat itu tidak ada niatan untuk menjawab. Malahan, dia langsung melengos pergi meninggalkan istrinya.
Melihat itu, Airin tetap menyunggingkan senyum. Dia beberapa menit lalu mendapatkan telepon dari mertuanya. Dia di ajak oleh, ibu dari suaminya itu untuk pergi ke mall. Untuk shopping katanya.
Airin hanya mengiyakan. Dia langsung minta izin ke suaminya, sesuai apa yang laki-laki itu katakan semalam.
Iya, Airin diberikan wejangan untuk minta izin setiap ingin pergi. Dia minta izin dan Airin terkejut saat Julian mengizinkannya dan bahkan akan laki-laki itu yang akan mengantarnya ke rumah orang tua.
***
Plaza Indonesia, 10.30
"Beneran enggak mau masuk dan pilih-pilih pakaian?" Arum, sekali lagi mengajak menantunya untuk masuk ke sebuah toko baju, tapi Airin lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
Iya, setelah diantar ke rumah mertuanya. Airin tidak langsung pergi ke Mall. Dia malah menghabiskan waktu di rumah orang tua suaminya.
Airin di sana mengobrol dengan pars pekerja rumah dan ibu mertuanya. Mereka malah berkumpul di gazebo yang ada di taman belakang.
Setiap kali Airin datang ke sana, dia selalu disambut baik-baik oleh para pekerja.
"Enggak, Ma. Airin nunggu sini aja." Arum memicingkan mata.
"Beneran." Airin mengangguk kepalanya dan Arum yang melihat itu menyerah. Dia akhirnya memilih untuk masuk ke dalam.
Bersamaan dengan masuknya, Arum. Airin hendak pergi mencari tempat nongkrong yang bagus. Namun, keinginannya tertahan saat kedua matanya menemukan sosok, Clara dengan seorang pria.
Airin memicingkan mata untuk mencari tahu siapa pria yang saat ini menggandeng tangan, Clara, "Itu Clara, tapi dia bersama siapa?" gumam Airin dan wanita itu terkejut saat mendapati waja laki-laki itu bukan suaminya.
...T.B.C...
__ADS_1
...Double yah. jadi, vote dan hadiahnya juga double dong. ...
...Bantu share yah, Makasih....