
Airin masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan cara dibanting, dan setelah itu dia menyandarkan punggungnya di sana.
Airin memejamkan mata. Kedua pundaknya tiba-tiba bergetar dan wanita itu langsung terjatuh dengan kedua kaki yang terlipat.
Satu iskan lolos dari mulutnya. Airin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sebenarnya, sudah sedari tadi dia ingin menangis, tapi dia begitu enggan mengeluarkan air bening itu di depan suaminya.
Padahal sebelas hari yang lalu, Julian masih bersikap acuh tak acuh padanya. Namun, malam ini kenapa laki-laki itu kembali kasar. Padahal dia tidak berbuat apa-apa yang mengganggu, tapi kenapa Julian bersikap begitu tidak sopan.
Dengan terisak, Airin bergerak bangkit dari duduknya. Wanita itu menghapus air mata yang ternyata keluar dengan begitu sangat derasnya, "Airin, kau harus kuat."
Airin bergumam menguatkan diri. Wanita itu memejamkan mata dan tetiba, bayang-bayang Raka dengan senyum yang sangat lebar, terputar di otaknya.
Airin tersenyum. Dia terenyuh, karena ternyata kebiasaannya pas kecil dulu kembali. Dulu, wanita itu sering sekali membayangkan Raka jika dimarahi, Bapak atau Mamak.
Airin melihat ponsel yang ada di tangannya. Seandainya benda pipih itu tadi tidak jatuh ke kolam ikan, Kak Dafa. Mungkin dia akan langsung menelepon, Raka. Seperti dulu, wanita itu sering membawa telepon rumah ke kamarnya untuk mengadu kepada, laki-laki itu.
Kalau kau mau ngobrol, panggil saja namaku tiga kali,
Airin lagi-lagi terenyuh. Entah kenapa di situasi seperti ini. Dia masih sempat-sempatnya memikirkan, Raka. Laki-laki yang sebelas hari terakhir ini sudah menemaninya, membagi tawa bersama dengan dirinya, hingga mungkin sekarang Airin sudah mulai kepincut dengan orang itu.
"Ada-ada aja," gumam Airin sembari merebahkan pantatnya di sofa, tempat di mana setiap malam dia melepas penat, "tapi, dicoba tidak ada salahnya kan?"
__ADS_1
Airin cekikikan. Padahal tadi, wanita itu menangis, tapi setelah mendapati wajah Raka yang gentayangan di pikirannya, membuat kesedihan itu menguap.
"Raka, Raka, Raka." Airin membuka mata dan wanita itu malah tertawa ngakak, karena merasa kalau dirinya konyol.
***
Di sisi lain. Julian saat ini tengah mengendari mobilnya di jalanan kota Jakarta yang malam ini lumayan lenggang.
Guratan kemarahan masih terpancar nyata di netra hitamnya. Bahkan sedari tadi rahang laki-laki itu tidak berhenti mengetat. Apa lagi sekarang kedua tangannya mencengkram stir mobil dengan sangat erat. Saking eratnya, buku-buku tangan laki-laki itu memutih.
Julian menginjak rem, membuat mobil hitam itu berhenti mendadak di slaah satu kelab malam yang bangunan bagian depannya bercahaya, remang-remang.
Julian merebahkan kepalanya di stir mobil. Laki-laki itu memejamkan mata dan entah kenapa sekelabat bayangan istrinya yang berupa hari lalu, dia lihat berjalan di Pecenongan dengan Raka.
Itulah yang membuat dia begitu marah. Mungkin, jika perhatian wanita itu masih ada untuknya, Julian tidak akan marah sampai seperti tadi. Ini udah tidak diperhatiin dan yang lebih membuat kesal lagi, Clara.
Iya, beberapa hari terakhir ini. Clara tidak pernah meneleponnya atau memberikan dia kabar sedikit pun. Wanita itu seperti menghilang entah ke mana.
Julian menghela napas. Laki-laki itu kembali melajukan mobilnya untuk masuk ke parkiran, kelab malam yang selalu dia kunjungi jika dalam keadaan begini.
***
__ADS_1
Suara dentuman musik DJ, semerbak aroma alkohol, dan penerangan yang samar-samar langsung menyambut, Julian yang baru saja masuk ke dalam salah satu kelab malam, yang terkenal di kota itu.
Julian saat ini berjalan di sebuah lorong gelap, yang di mana di sisi kanan san kirinya terdapat beberapa pasangan yang tengah bercumbu, saling mer*ba satu sama lain dan bahkan ada juga yang melakukan lebih dari itu.
Memang begitulah, kelab. Kalian jangan terkejut jika masuk ke tempat para kaum penikmat dunia malam itu menghabiskan waktu.
"Buatkan aku minuman yang mengandung alkohol tinggi!" Baru saja dia duduk di salah satu bangku yang ada di depan pentry, Julian langsung memesan.
Sementara laki-laki yang menjadi bartender di tempat itu, menaikkan satu alisnya. Dia tidak bicara, tapi langsung mengerjakan apa yang tadi dikatakan pelanggannya.
Julian melengos ke kanan dan kiri, seolah mencari sesuatu. Kepala laki-laki itu langsung diam saat dari arahnya duduk. Dia melihat sebuah punggung wanita yang sangat familiar di matanya.
Julian memicingkan mata, mencoba untuk melihat lebih jeli lagi. Di saat dia mulai curiga, barulah laki-laki itu bangkit dari duduknya. Dengan langkah yang begitu lebar, dia berjalan mendekati salah satu sofa yang saat ini sedang diduduki oleh laki-laki tua. Di pangkuan laki-laki itu ada seorang wnaita yang, Julian duga adalah, Clara.
"Ara?" panggil Julian ragu-ragu setelah tiba di sofa yang diduduki oleh laki-laki tua itu. Julian membulatkan mata terkejut saat wanita yang tadi dia panggil dengan nama, Ara menoleh, "A ... Ada apa ini, Ara?" imbuhnya bertanya dengan mata yang memancarkan ketidak percayaan.
Clara yang mendapati kehadiran, Julian, membulat mata terkejut. Dia bahkan langsung turun dari atas pangkuan sugar dedehnya.
"I ... Iyan, sed- akhh!" Perkataan Clara terganti menjadi jeritan saat, Julian mencengkram erat lengan wanita itu.
...T.B.C...
__ADS_1