
"Rokok dulu." Samsul menyodorkan sebungkus rokok tepat ke sisi, Julain.
Saat ini laki-laki itu tengah berada di warung lalapan milik Samsul, temannya pas zaman SMP sampai kuliah dulu.
Jika kalian ingin mencari saksi kisah cinta Julian dan Clara, ada baiknya kalian berkenalan dengan si Samsul— laki-laki pemilik warung lalapan pinggir jalan yang ada di emperan toko.
Padahal, laki-laki itu sudah ditawari kerja oleh Julian. Namun, dia lebih memilih untuk melanjutkan bisnis keluarga yang itu-itu aja hingga saat ini dia juga sudah berkeluarga.
"Udah aku bilang buat lupain, tapi kau malah." Samsul geregetan sendiri dan saling eneknya, dia sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
Julian terenyuh. Mata laki-laki itu saat ini sembab, "Aku enggak tahu kalau akan ada kejadian seperti ini, Sul," dengan nada gemetar, Julian berbicara. Laki-laki itu bahkan sampai mengelap ujung matanya, agar air mata tidak keluar lagi.
Sudah cukup dia menangis dan menghabiskan tisu milik sahabatnya itu. Dia tahu kalau harga tisu tidak murah. Jadi, itulah kenapa dia tidak ingin menangis lagi.
Namun, lebih dari itu. Alasan paling besae adalah dia tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang yang singgah ke warung lalapan, Samsul.
"Aku dan Anto udah bilang buat lepas tuh si arang-arang, tapi kaunya yang keras kepala. Padahal udah punya istri secantik Airin, malah gitu." Samsul berbicara sembari meletakkan tangannya di pundak, Julian.
Julian yang mendengar nama, Airin malah merasa asing. Apa mungkin gara-gara dia tidak pernah menyebut nama itu? Julian hanya menghedikkan bahu, tapi entah kenapa bayang-bayang wanita itu tetiba terngiang di pikirannya.
Entah saat dia menyiapkan air, nada bicaranya, eskpresinya, semua muncul di otak Julian.
"Yan, jujur. Sebenarnya aku sudah tahu Arang-arang itu sering jelan karo om-om. Dia bahkan terang-terangan mampir ke sini," imbuh Samsul dan itu berhasil membuat, Julian menoleh dengan sorot mata yang tajam.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Ka-"
"Apa kau akan percaya padaku?" sela Samsul dan itu berhasil membuat, Julian bungkam.
"Aku tahu bagaimana cintanya kau dengan wanita itu. Saking cintanya, kau bahkan rela memukuli Anto yang memberitahukan tentang sikap, Arang-arang yang sebenarnya," imbuh Samsul dengan nad ayang terenyuh.
Julian lagi-lagi sadar. Dulu, beberapa tahun lalu, tepat saat setelah dia menikah dengan Airin. Sunanto memberitahukan padanya kalau Clara itu bukan wanita baik-baik.
Julian marah dong, tapi dia tetap tenang waktu itu dan memberikan Sunanto untuk menjelaskan.
Sunanto waktu itu menjelaskan, kalau dia sering mendapati Clara masuk ke dalam restorannya dengan seorang om-om.
__ADS_1
Nah mendengar kata itu, Julian langsung terbakar amarah karena secara tidak langsung, Sunanto menuduh kekasih yang dia kira baik-baik adalah seorang yang tidak lebih dari simpanan. Setelah insiden itu, hubungannya dengan Sunanto renggang.
Julian terkekeh geli jika mengingat dirinya yang dulu begitu sangat percaya dengan, Clara, "Kenapa malam ini aku terlihat bodoh, Sul?" tanya Julian yang sepertinya sudah bingung ingin berbuat apa.
Bahkan untuk pulang ke rumah saja dia tidak mau, karena entah kenapa merasa malu bertemu dengan istrinya.
"Kau dari dulu sudah bodoh, Yan. Jujur, malam ini aku sangat ingin memukul kau." Dengan marah, Samsul berbicara. Bahkan laki-laki itu tidak sadar akan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Julian diam. Dia tidak berbicara lagi. Samsul yang melihat itu menghela napasnya dan memilih mendongak untuk menatap langit.
"Kau bodoh saat tega menyia-nyiakan, Airin yang bagiku dan bagi Anto adalah pasangan cocok untukmu. Apa kurangnya Airin. Dia perhatian, baik, dan menghormatimu." Samsul kembali berorasi. Nada bicaranya yang tegas mampu membungkam, Julian yang saat ini menunduk diam.
Samsul ikut diam. Dia kembali menatap langit, "Apa yang haeus aku lakukan? Aku bingung dengan hidupku? Aku tidak mengerti tentang semua kejadian malam ini."
"Buat apa bingung?" Julain membulatkan mata dan laki-laki itu menoleh ke belakang, "Pulang dan minta maaf kepada dia yang sudah jelas punya status sah denganmu," imbuh Sunanto yang tetiba datang mengejutkan Julian, tapi tudak untuk Samsul karena dialah yang meminta laki-laki itu datang.
"Nto." Julian bangkit dari duduknya dan langsung berlari hendak mendekati Sunanto .
"Jamgan dekati aku," dengan logat Jawa yang kental, Sunanto berucap pun mimik wajahnya tentu datar, karena itu ekspresi natural miliknya.
"Kau ...." Julian meraih tubuh mungil Sunanto dan langsung memiting leher laki-laki itu. Padahal mereka sudah berusia dua puluh tujuh tahun, tapi tetap saja sikap dan perilaku mereka jika kumpul tidak akan berubah.
***
Julian menghentikan mobilnya tepat di pekarangan rumah. Setelah diberikan siraman rohani, laki-laki itu memberanikan diri untuk pulang. Sungguh, sebenarnya tadi dia sudah berniat untuk pergi ke rumah keluarnya dan menetap beberapa malam di sana.
Suara dering ponsel tiba-tiba terdengar, membuat laki-laki itu tersadar dari lamunannya. Julian menoleh dan saat dia mendapati nama Ara yang terpajang di layar hpnya membuat laki-laki itu, mengeluarkan decakan.
"Aku tidak akan peduli, aku tidak akan peduli," bisik Julian dan laki-laki itu langsung memilih keluar dari dalam mobilnya. Iya, dia sudah bertekad tiska akan peduli dengan wanita itu lagi, walau tadi ada keinginan untuk menerima ajakan panggilan suara itu.
***
Julian membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan kedua matanya langsung disambut oleh gelapnya ruang tidur itu, tapi di sisi ranjang masih terang, karena ada lampu tidur yang menyala.
Julian masuk sembari menutup pintu dengan pelan. Dia menghela napas dan kembali mengingat kata-kata yang dia dapatkan dari kedua bestienya tadi.
__ADS_1
Julian menghela napas dan dia langsung beranjak untuk mendekati sofa yang di mana, di sana adalah tempat tidur khusus istrinya.
Julian menghentikan langkah saat dia sudah sampai di depan sofa panjang yang di mana, sekarang Airin tengah tidur memunggunginya.
Raut gugup terlihat di wajahnya yang sembab, sial, apa yang harus aku katakan untuk membuka percakapan? batin Julian bingung sendiri.
"A ... Ai-"
Julian berhenti berucap. Dia tadi ingin menyebut nama, Airin tapi entah kenapa gengsi malah menahan dan menyekat suaranya.
"Aku tahu kalau kau belum tidur." Julian berucap dan itu berhasil membuat, Airin membuka mata tapi dia tetap mempertahankan posisinya, yaitu, tidur memunggungi Julian.
"A ... Ai-"
Julian kembali menghentikan perkataanya yang hebdak melontarkan nama istrinya. Sementara, Airin. Dia masih tetap diam. Jujur, saat ini dia tengah penasaran dengan apa yang akan suaminya katakan, Karen tumben sekali laki-laki itu mendatangi dirinya di waktu tidur seperti ini.
"A ... Air, aku butuh air. Kenapa kau tidak menyiapkannya untukku?" Pada akhirnya, gengsi menang malam ini. Julian tidak berani mengutarakan apa yang sebenarnya ingin hatinya katakan.
Airin yang mendengar itu kecewa dan memilih untuk memejamkan matanya, "Lupakan. Aku juga tidak berniat mandi." Julian layaknya orang bodoh berbicara dan dia bahkan langsung melengos pergi ke ranjangnya.
...T.B.C...
...Guys. aku punya rekomendasi cerita nih. punya temen aku. seru kok....
Judul : Dendam
Karya : nazwa talita
Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?
...Jangan lupa mampir yah...
__ADS_1