
07 Oktober, 06.22am
Bunyi ayam tetangga menggema seantero kompleks dan itu adalah suara awal yang membuka Minggu pagi ini.
Julian membuka mata dengan sedikit kesusahan. Laki-laki itu bergerak membersihkan belek yang membuat kedua indera pengeluarannya itu terhalang.
Namun, gerakan tangan Julian terhenti saat dia menyadari kalau tubuh besarnya tengah dibekap oleh tangan yang sangat mungil.
Lebih parahnya lagi, dia juga menyadari kalau sekarang kepalanya sedang tiduran tepat di depan dada wanita dan itu tentu saja berhasil menarik kesadaran, Julian sepenuhnya.
Laki-laki itu tidak bergerak. Dia justru menggerakkan bola matanya ke atas, untuk melihat wajah wanita yang sekarang tidur bersamanya.
Kedua mata Julian terkunci saat netra hitam itu berhasil menangkap sosok ayu, Airin. Tidak ada yang berubah dari wanita itu.
Julian masih melihat Airin yang jika tidur akan memancarkan kedamaian. Dia tahu, karena laki-laki itu sering memandang Airin saat setiap dia ditemani lembur.
"Sudah, jangan takut. Aku di sini bersama denganmu." Airin mengigau sembari mengelus punggung, Julian.
Julian yang mendengar kata-kata itu kembali mengingat kejadian di malam tadi. Dia terkekeh kecil dan tanpa sadar tangannya bergerak untuk memeluk pinggang sang istri.
Ketahui saja. Ini kali pertama mereka seranjang. Dulu setiap musim penghujan bertandang dan langit dipenuhi oleh suara petir, Julian selalu siap siaga. Dia akan lebih dulu mengunci sekitar dan langsung tiduran di atas ranjang sembari memeluk guling dan menutup telinga menggunakan headset.
Namun, semalam dia tidak begitu. Entah karena ketakutan atau apa, Julian kemarin memeluk Airin sangat erat. Bahkan dia masih mengingat cara dia memeluk istrinya.
"Kenapa kau naif sekali?" Julian berbicara dengan berbisik. Dia benci dengan wanita yang sedang memeluknya ini, "aku menghinamu, aku mencacimu, dan aku merendahkanmu. Tapi, kenapa kau masih seperti ini?"
__ADS_1
Hening, setelah kata-kata itu, Julian kembali diam. Dia hanya mengabsen setiap inci wajah, Airin yang di mana masih terbalut hijab dan bahkan pakaian kemarin masih melekat di tubuh wanita itu.
"Apa susahnya menanda tangani surat itu? Kenapa kau membuat aku sulit. Aku pun hidup dan kau pun mungkin begitu. Jika, alasannya keluargaku, aku bisa membantumu. Akan aku jelaskan semuanya, walau Mama pasti tidak akan terima."
Suara itu mengalun dengan nada yang begitu tenang. Jujur, kata-kata itu sudah lama ingin diucapkan oleh, Julian, tapi dia tidak bisa menemukan situasi yang tenang dengan Airin.
Iya, Julian sangat susah menemukan ketenangan jika berhadapan dengan wanita itu. Namun, dia jauh lebih sudah lagi jika tidak melihat wanita itu.
Entah, Julian bingung dengan dirinya sendiri. Jika Airin bersamanya, dia akan marah dan jika Airin tidak bersama dengannya. Dia juga akan marah.
Aneh, bukan?
Iya, itulah Julian. Dia adalah keanehan. Dia bilang tidak membutuhkan kehadiran wanita itu, tapi selalu menunggu disiapkan air dan bahkan hingga makanan pun dia bergantung pada, Airin.
Jadi, apakah pantas Julian mengatakan kata-kata tidak butuh?
Itulah kenapa Julian orang yang aneh. Sangat aneh malahan. Laki-laki itu bergerak memindahkan tangan istrinya. Jujur, ini kali pertama dia melakukan itu dengan sangat pelan dan lembut.
Julian meletakkannya di pinggang sang istri dan langsung bergerak bangkit tanpa melakukan sedikit pun hal-hal yang akan mengganggu tidur wanita itu.
Julian beranjak dari atas ranjang dan sikap aneh kembali muncul. Dia bergerak menaikkan selimut untuk istrinya dan lebih anehnya lagi, dia melebarkan senyum.
Senyum yang dia sungging kan terlihat sangat tulus, "Terima kasih." Julian beranjak pergi ke kamar mandi. Dia sepertinya berniat mandiri untuk hari ini.
Padahal ini hari Minggu yang di mana, dia harus mendapatkan keramasan dari, Airin. Minggu kemarin tidak, karena Clara datang berkunjung.
__ADS_1
***
Airin membuka mata. Wanita itu menguap dengan kedua tangan terlentang ke udara. Sungguh sekujur tubuhnya pegal-pegal, "Jam."
Wanita itu membuka mata dan dia langsung melihat jam dinding yang ada di depannya. Pukul tujuh pagi.
Airin bangkit dari tidurnya dan langsung melompat turun dari atas ranjang, "Ini udah dua kali loh aku telat bangun di hari Minggu."
Dengan panik Airin berucap. Dia bahkan lagi-lagi menghiraukan pakaian yang dikenakannya hanya karena terburu;buru untuk ke bawah.
" Eh, ini dikamar terus tadi aku todur di ranjang, lalu mas Julian?" Wanita itu berhenti di depan pintu hanya untuk berpikir.
Airin memerah malu saat sekelabat ingatan malam kemarin muncul layaknya teater dan di sana yang jadi pelakon adalah dirinya dan sang suami.
"Makanan, kopi, air. Aku harus menyiapkannya sebelum, Mas Jul- eh dia ke mana?" Kata-kata panik yang dia ucapkan berubah menjadi kebingungan di akhir.
Airin mengabsen sudut-sudut kamar, tapi tidak menemukan suaminya. Dia juga mendiskusikan untuk mendengarkan suara gemericik air, tapi tidak ada juga.
Airin menggelengkan kepalanya dan langsung melangkah keluar dari kamar. Sekarang, wanita itu tengah berjalan menuruni anak tangga yang akan membawanya langsung ke ruang tv.
"Bau masakan, siapa yang ada di dapur? Ibu mertua kah?" Airin bergumam. Wanita itu semakin mempercepat langkahnya.
Sesampainya dia di lantai dasar rumahnya. Airin langsung berjalan ke sebelah kanan dan kedua kakinya terhenti saat melihat tubuh tinggi dan tegap suaminya yang sudang menata meja makan.
"Mas?" cicit Airin dengan kedua mata yang membulat sempurna.
__ADS_1
...T.B.C...
Oleng guys, oleng.