Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Promosi: Is There True Love


__ADS_3

Deru suara kendaraan terdengar memenuhi jalan kota Mataram. Entah itu motor ataupun mobil, semua melaju di jalanan yang sama dengan jalur yang sama, yaitu ke barat.


Dari puluhan kendaraan yang melaju dengan kecepatan standar, ada satu motor Scoopy berwarna putih sedikit kecoklatan yang di mana, sekarang tengah dinaiki oleh dua orang gadis dan mereka melaju dengan sangat pelan.


"Ya ampun, By. Dari tadi lu make up mulu, make up mulu. Emang enggak bosen apa?" kesal wanita yang sekarang tengah mengemudikan motor scoopy itu memberitahukan kepada temannya yang saat ini tengah dia bonceng.


"Enggak lah. Inikan salah satu hobi gue, Ta," celetuk si wanita yang saat ini tengah berkaca sembari mencoret-coret wajah bagian alisnya menggunakan sebuah pensil.


"Udahan atau gue ngebut nih!" ancam dia— Mita Riyanti dengan air muka yang terlihat ingin melakukan apa yang tadi dia katakan.


Sedangkan wanita yang sedari tadi berkutat dengan alat make upnya itu langsung menghentikan aktivitasnya. Dia tanpa bicara bergerak memasukkan pusaka kecantikan yang selalu dia gunakan itu, ke dalam sling bag mininya.


"Gitu dong. Kitakan jadi bisa ngebut dan nyampe ke sana cepet." Mita— wanita yang sekarang menggunakan baju kaos hitam yang dipadukan dengan hijab coklat dan bawahan celana jeans itu langsung menambah kecepatan kendaraannya.


Dia— Feby Reahagata, orang yang saat ini tengah diboncengnya langsung memeluk pinggang Mita dengan gerakan refleks


"Anj*ng, Ta," umpat Feby diikuti suara kekehan yang keluar dari mulutnya. Terlebih lagi wanita itu mengeluarkan raut wajah terkejut, pun jantungnya hampir saja loncat ke luar.


Pasalnya tadi Feby masih memasukkan alat make up ke dalam sling bag mini miliknya, tapi dia hampir saja jatuh karena Mita— sahabat laknatnya itu menambah kecepatan kendaraan roda dua yang saat ini dia tumpangi, tanpa bilang-bilang terlebih dulu.


Sedangkan Mita yang mendengar umpatan itu hanya terkekeh, seolah terhibur dengan tingkah laku sahabatnya itu.


***


"Ya ampun, Ta." Mita yang saat ini berjalan di sebelah Feby langsung menoleh ke arah wanita itu karena dia merasa tadi namanya terpanggil.


"Apaan?" tanya Mita dengan nada judes khasnya.


Feby menghentikan langkah dan kedua matanya menatap ke arah Mita dengan penuh dramatis, "Kok gue cantik banget sih."


Mita hanya bisa mengernyit saat mendengar penuturan Feby yang begitu kelewat narsis. Dia langsung melihat sekeliling mall lantai dua, untuk memastikan kalau mereka tidak menjadi pusat perhatian lagi.


Pasalnya sedari tadi mereka berdua selalu jadi pusat perhatian dan semua itu karena ulah Feby, "By, udah dong. Lu itu malu-maluin," bisik Mita yang sedari tadi merasa malu untuk memamerkan wajahnya.

__ADS_1


Iya, sekarang mereka sudah berada di mall lama yang ada di kota Mataram, tapi anehnya tempat ini tidak pernah bosan untuk dikunjungi oleh semua orang.


"Please, By. Lu jaga image dong sedikit," imbuh Mita dengan masih berbisik.


Feby yang mendengar bisikan itu langsung menghentikan live streaming yang dia lakukan di Ig. Matanya memicing melihat ke arah Mita yang saat ini terkesan sok tidak kenal. Bahkan wanita itu sampai sedikit menjauhkan diri darinya.


"Yang malu kan lu, bukan gue," jawab Feby dengan santai dan tampang sok tidak acuhnya. Mita yang mendengar itu hanya melongo.


Wanita itu tidak lagi menegur Feby. Dia memilih merogoh sling bag mininya untuk mengeluarkan ponsel, "Tadi katanya lu mau beli apa?" tanya Mita dengan masih mencari-cari keberadaan ponselnya di dalam tas, membuat Feby yang sekarang tengah berkaca menggunakan kaca yang terpasang di alat bedaknya itu menoleh ke belakang.


"Bukannya lu yang tadi mau belanja? Terus lu juga mau beli baju, sekalian ingin traktir gue," ujar Feby dan setelahnya wanita itu kembali menghadap ke depan.


Feby kembali berjalan dengan tangan kanan masih setia menepukkan spon bedaknya ke permukaan seluruh area wajah.


"Gue? Bukannya tadi lu bilang mau beli lipstik?" ujar Mita dengan langkah kaki yang cepat. Dia juga mencoba untuk mengingatkan Feby akan perbincangan yang terjadi di basemen tadi.


"Lu salah denger kali. Lagian nih, gue mana pernah bilang kalau mau beli lipstik." Mita menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah toko makanan cepat saji yang di mana, di dalam sana cukup ramai di datangi.


"By, yang bener? Jelas-jelas tadi lu yang ngajakin ke sini." Feby menolehkan kepala untuk melihat Mita yang saat ini berdiri mematung.


"Lagian, apa masalahnya jika enggak belanja? Dulu juga kitakan pernah kek gini. Dateng ke mall buat gaya-gayaan doang," imbuh Feby dengan nada berbisik.


Wanita itu kembali fokus ke arah kaca bedaknya. Dia mulai menoleh ke kanan dan kiri untuk mengecek bagian wajah mana yang masih belum tertutup bedak, tapi saat dia menoleh ke arah kanan. Kedua matanya terbelalak saat melihat keberadaan seseorang yang sangat dia kenali


"Ta ... Riki, Ta. Riki!" Wanita itu berucap dengan nada dibuat sedramatis mungkin. Mita yang tadinya hendak berteriak untuk menyalurkan kekesalan mengurungkan niat dan memilih untuk menoleh ke sisi kanan, tepat ke arah dalam restoran cepat saji.


Kedua matanya langsung membulat terkejut, pun kilatan marah mulai terlihat jelas keluar dari tatapan netra hitamnya yang begitu tajam dan itu tertuju ke seorang laki-laki yang tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita.


Jantung Mita langsung terpompa dengan cepat, diikuti kepalan tangan yang membuat buku-buku jarinya memutih, "Kurang ajar," gumam wanita itu dengan rahang yang mengetat.


***


"Apa maksud dari ini semua, Riki?" Tanpa banyak omong dan drama. Mita langsung menggenggam baju bagian leher milik pria yang tadi dipanggil oleh Feby dengan nama— Riki itu.

__ADS_1


"Ta, lu-"


"Gue tanya, maksud lu apa kek gini?" Mita memotong perkataan Riki yang berbicara blak-blakan itu dengan nada bicara tegas, pun raut wajah yang sangat menyeramkan. Sangat berbeda dengan ekspresi wanita pada umumnya.


"Lu jangan salah paham dulu. Gue— gue bisa jel-"


"Gue enggak butuh penjelasan lu." Mita menghempas tubuh Riki hingga laki-laki itu terduduk kembali ke kursinya.


"Lu salah sangka, Ta. Gue sama di-"


"Tetap duduk, sialan!" potong kembali Mita membuat Riki yang tadinya hendak berdiri, kembali mendudukkan pantatnya.


"Lagian, gue juga masih bukan siapa-siapa lu. Jadi, buat apa susah-susah ngejelasinnya." Mita langsung berlalu pergi dari dalam restoran setelah dia berhasil membuat pandangan mata seluruh pengunjung terarah kepadanya.


"Ta! Mit-"


"Mau apa? Lu jangan coba-coba ngejer yah," tekan Feby si perempuan cabe rawit yang di mana, saat ini tengah memamerkan wajah sangarnya.


"By, semua yang kau lihat in-"


"Bodoh!" Feby meraih gelas yang berisikan coca cola dan dia tanpa ras takut langsung mengguyurkan minuman soda itu ke arah wajah Riki yang sudah panik dan kebingungan.


"Lu juga. Dasar wanita gatel." Feby kembali meriah gelas yang berisikan jus mangga dan dia tanpa hati mengguyurkan minuman lengket itu tepat ke kepala wanita centil yang duduk di depan Riki.


Feby dengan tampang tanpa dosanya bergerak memutar tubuhnya, "Mita! Tunggu!" teriaknya dan langsung berlari.


Mita yang mendengar sahabatnya berteriak terus saja berjalan tanpa mau berhenti, tapi tiba-tiba kedua kakinya terhenti dengan sendiri tepat di depan pintu masuk restoran cepat saji itu.


"Mita?" ucap laki-laki itu dengan nada bicara yang kedengaran sedikit ragu, pun sorot matanya memperlihatkan sebuah keraguan yang nyata.


T.B.C


lanjutan di cerita👇

__ADS_1



__ADS_2