Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 60. Perasaan Yang Entah.


__ADS_3

28 Oktober


Hari begitu cepat berlalu dan tak terasa pertaruhan tiga puluh hari itu sudah mendekati penghujung.


"Silahkan dinikmati minumannya, Mas, Mbak." Seorang pelayan berucap, membuat Raka dan Airin yang saat ini berada di sebuah cafe, menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih," ujar Raka dengan wajah yang tentu jasa ramah seperti bisanya.


Airin hanya mengangguk dengan terus menyunggingkan senyum. Setelah pelayan wanita itu pergi, Mereka berdua— Airin dan Raka kembali saling menatap


Tidak ada yang memulai percakapan, hingga Raka mengeluarkan suara terenyuh yang mengundang, Airin untuk terkekeh sembari menggelengkan kepalanya merasa aneh.


"Kamu kenapa tiba-tiba ketawa gitu?" tanya Raka dengan lipatan di kening dan tatapan yang penuh selidik.


Airin kembali tertawa hingga semburat warna merah muncul di pipinya, "Kok aku sih?" tanya Airin dengan masih tersenyum, "Kamu yang duluan ketawa, tapi malah aku yang disalahkan pertama," imbuhnya dan Raka yang mendengar itu tersenyum.


Laki-laki itu menghela napas dan bergerak menyenderkan punggungnya di kepala kursi yang tengah dia duduki sekarang ini.


"Aku bingung mau membicarakan apa denganmu," ujar Raka jujur.


Airin yang mendengar itu tersenyum. Dia mulai bergerak mencicipi kentang goreng yang sudah tersaji di meja.


"Kalau bingung buat apa ngajakin ketemuan? Lebih baik kamu kerja yang rajin agar-"


"agar secepatnya bisa menyuntingmu, benar begitu?" potong, Raka dan itu berhasil memunculkan kembali semburat rona merah di pipi, Airin.

__ADS_1


Aneh, setiap Raka mengeluarkan godaan, Airin selalu saja dibuat malu. Dia tidak tahu apa alasannya, tapi yang jelas wanta itu merasa meleot-leot.


Dibilang cinta, Airin juga ragu akan itu. Beberapa hari ini dia bingung akan dirinya sendiri dan semua itu karena tingkah laku lembut, Julian yang katanya ingin menebus dosa.


Namun, entah kenapa Airin merasa kalau perlakuan itu tidak begitu spesial. Malahan hatinya biasa-biasa saja, tapi berbeda Jika Raka yang memberikan sikap manis.


dia akan berdebar dan malahan tak jarang mengeluarkan rona merah seperti tadi. Jadi, bisakah Airin mengartikan perasaan aneh itu adalah cinta?


Jika memang Airin sudah Mencintai, Raka, salahkah wanita itu?


Bayangkan saja. Siapa sih wanita yang tidak akan jatuh cinta jika mendapati perhatian sangat banyak dari laki-laki baik, mapan, murah senyum, dan tampan seperti Raka.


Iya, Airin sudah masuk dalam pesona Raka— laki-laki yang dulu menjadi cinta pertamanya waktu bocah.


Airin cengo, "Bagaimana, maksudnya?" tanya Airin bingung sendiri.


Raka menghela napas. tapi dia masih tetap di posisi duduk yang bersandar, "Pertama-tama, Aku mau menanyakan bagaimana perkembangan hubunganmu dengan dia?" tanyanya dan itu berhasil membuat, Airin loading.


"Iya, begitu. Seperti yang aku katakan dua hari lalu. Dia tiba-tiba berubah dan aku menyikapinya biasa saja." Airin menjawab sekenanya.


Raka yang mendengar itu tentu langsung membentuk sebuah garis lengkung ke bawah di bibirnya, "Kenapa? Bukankah dulu kau mengharapkan sikap itu?" tanya Raka dengan kening mengerut.


Airin menghedikkan bahunya, "Entah, tapi aku merasa risih. Gimana jelasinnya yah. pokoknya aku merasa risih dengan perubahan yang dia lakukan. Dari yang sikapnya sangat buruk dan tiba-tiba berubah baik seperti itu." Airin menjelaskan dengan blak-blakan


Raka hanya bisa mengangguk paham, "Kalau denganku bagaimana? Apakah kau merasa risih dengan sikapku?" tanyanya dan itu berhasil membuat, Airin memalingkan wajah.

__ADS_1


***


diwaktu yang bersamaan. Di sisi lain ibu kota jakarta, tepatnya disalah satu cafe yang ada di sekitaran menteng.


"Bagaiman?" Samsul mengajukan pertanyaan dengan mimik wajah terenyuh kepada Julian.


Julian yang duduk di kursi sebelah, Samsul hanaya tersenyum malu-malu. Dia menghedikkan bahu, "Entahlah, Sul. Aku juga bingung dengan perasaanku."


"Apa kau mulai jatuh cinta padanya?" tanya Sunanto dengan mimik wajah yang tentu saja datar.


Sekarang tiga sahabat karib itu sedang berkumpul di restoran milik, Sunanto. Mereka sepertinya mengadakan reuni.


"Entah, To. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri." Julian kembali menjawab dengan kata-kata bingung, tapi kedua sudut bibirnya menyunggingkan senyum.


"Yan, kalau boleh tau, Airin itu gimana?" tanya Samsul dan Julian yang mendapati pertanyaan itu menoleh ke arah sahabatnya.


"Airin, entah. Menurut pengelihatanku, dia wanita yang manis dan sialnya aku baru menyadarinya sekarang." entah sadar atau tidak, Laki-laki itu berucap memuji wanita yang dulu dia katai jelek dan dijuluki rongsokan.


Samsul tersenyum mendengar jawaban temannya, "Dari dulu kami katakan kalau dia memang wanita yang cocok untukmu dibandingkan Arang-"


"Iyan," panggil seorang wanita yang tiba-tiba memotong perkataan Samsul.


T.B.C


Semoga suka yah

__ADS_1


__ADS_2