Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
10. keterlaluan


__ADS_3

"Ridwan dasar gak tau malu ya kamu, di acara seperti ini malah dengan santai membawa pelakor, gak takut selingkuhan kamu itu di serbu ibu-ibu kampung sini?" ucap Intan.


Ridwan membeku ia baru menyadari kesalahannya membawa Weni ke pesta ini bisa menjadi pusat keributan.


"Wen sebaiknya kita pergi dari sini sekarang," ucap Ridwan menarik tangan Weni.


"Tapi Bang ngapain pergi acaranya belum selesai," ucap Weni tak tau malu.


Sedangkan Ridwan mulai tidak nyaman melihat tatapan ibu-ibu terhadapnya kembali menarik tangan Weni.


"Udah nurut aja kita pergi sekarang," ucap Ridwan.


Weni menuruti Ridwan pergi dari acara itu sambil menyentakkan kakinya seperti anak kecil.


Ibu-ibu yang melihat kejadian itu kini menjadikan Rani bahan gosip mereka, ada yang merasa kasihan tapi ada juga yang merendahkan Rani.


"Pantes lah suaminya selingkuh, liat penampilan Rani, gemuk, baju kucel, muka kusam, beda jauh sama selingkuhan suaminya tadi," ucap salah satu ibu-ibu.


"Si Rani itu sebenarnya cantik loh, cuma kayanya kurang modal aja, suaminya aja yang belagu cuma kuli di pabrik aja segala selingkuh padahal istrinya kalau dikasih uang banyak buat perawatan juga cantik," balas ibu yang lain.


"Iya lagian si Ridwan tuh ga mikir apa ya, kalau bukan si Rani mana ada perempuan yang mau nikah sama duda beranak dua, cuma kuli pabrik udah gitu punya ibu yang lumpuh, Nurul aja ninggalin Ridwan karena kurang uang dan ga mau ngurus ibunya yang lumpuh," timpal ibu ibu lainnya.


Rani mendengar semua yang di katakan ibu ibu tersebut, hatinya sangat perih namun sebisa mungkin ia menahan air matanya.


"Suamimu itu keterlaluan Ran, kalau aku jadi kamu sudah aku minta cerai dari lelaki macam itu," ucap Intan.


"Aku mikirin nasib Bintang sama ibu kalau sampai aku cerai dengan Bang Ridwan Mbak," jawab Rani.


Intan menghela nafasnya, ia sangat salut pada wanita yang punya hati tulus di hadapannya ini.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak ingin pisah, setidaknya kamu berubah, buat suamimu melupakan selingkuhannya," ucap Intan.


Rani terdiam mencerna kata-kata dari Intan ia tahu maksud Intan seperti apa tapi ia masih bingung untuk memulainya dari mana.


"Iya Mbak aku juga mau berubah tapi aku bingung mulai dari mana Mbak kan tahu perubahan itu butuh uang butuh biaya sedangkan uang yang aku punya aja hanya untuk cukup keperluan sehari- hari," ucap Rani.


"Kalau aja badanmu sama dengan badanku, aku akan memberikan baju-baju untukmu tapi badanmu dengan badanku itu beda ukuran Coba deh kamu diet atau apa deh gitu biar badan kamu kembali seperti dulu sebelum kamu menikah," ucap Intan.


Rani termenung mendengar ucapan Intan dalam hatinya berpikir Apakah dia harus berhenti untuk suntik KB karena yang dia tahu badannya membesar karena hormon yang didapat efek suntik KB tersebut, Namun jika dia berhenti KB dia belum siap untuk punya anak lagi karena Bintang masih kecil.


"kamu ikut olahraga lah Ran seminggu satu kali gitu senam biar badannya singset lagi nggak mahal kok senang paling cuma 10 sampai 15.000 satu kali pertemuan," ucap Bintang.


"Iya deh Mbak nanti aku coba seminggu sekali untuk senam siapa tahu bisa sehat dan juga langsing lagi terus aku juga mau coba pakai pencuci muka Biar wajah aku nggak kusam," ucap Rani.


"Iya Ran cantik itu bukan hanya untuk membahagiakan suami tapi untuk membahagiakan diri sendiri juga,  nggak perlu lah beli Skin Care yang mahal yang penting itu cocok di wajah kamu Dan nggak kusam gitu dilihatnya," ucap Intan.


"Iya Mbak Makasih untuk sarannya," ucap Rani.


***


Setelah pulang dari pesta itu Rani menangis dan menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan.


Hati istri mana yang tidak sakit melihat suaminya terang-terangan berselingkuh dan menggandeng wanita lain, meskipun ia berusaha tegar saat di pesta tadi tapi sesungguhnya hatinya sangat merasa remuk.


"Kamu tega sekali padaku bang, apa karena aku sudah tak cantik lagi, kau sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, tapi nyatanya kau masih bermain di belakangku," ucap Rani, ia masih terisak.


"Aku memang bodoh, tapi aku mencintai mu Bang," imbuh Rani.


Tangan mungil Bintang terulur mengusap air mata yang mengalir di pipi wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


"Ibu angis, Ibu apa?" tanya Bintang dengan kata yang belum sempurna.


(ibu nangis, ibu kenapa)


Rani memeluk anak laki-lakinya dan semakin terisak, pilu dan sakit yang ia rasakan karna sikap suaminya Bintang dan ibu Mertuanya adalah hal yang membuat ia bertahan dengan suaminya hingga saat ini.


"Ibu ga apa-apa sayang, cepat besar ya doain nenek agar sembuh dari penyakitnya, biar ibu bisa pergi dari hidup ayahmu," ucap Rani masih terisak.


Ya Allah, katakan aku harus apa? Haruskah aku bertahan menjadi wanita yang tak berdaya seperti ini? Hatiku sakit, sungguh rasanya ingin pergi sejauh mungkin namun bagaimana dengan nasib anak dan ibu mertuaku. Ya Allah akankah suamiku seperti ini selamanya ataukah dia akan berubah? Batin Rani bermonolog.


Wanita beranak satu itu sungguh merasa lelah lahir dan batin atas apa yang menimpa rumah tangganya, atas perlakuan suaminya selama ini, ia menunggu dan berharap suaminya dapat berubah namun rasanya seperti mengharap hujan di tengah terik sang mentari.


Suara deru motor terperkir di depan rumah Rani sangat mengenal suara itu adalah suara motor milik suaminya.


Ia bergegas menggendong Bintang lalu ia dudukan di kasur ibu mertuanya.


"Bintang sayang, pinter, di sini dulu ya temani nenek, ibu mau lihat ayah di depan," ucap Rani.


Bintang anak yang pintar dan patuh ia pun mengangguk dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh sang nenek, sedangkan Rani berjalan keluar menghampiri suaminya.


"Sudah puas kamu selingkuhnya Bang, pantas saja kamu menolak pergi kondangan bersamaku, ternyata kamu malah membawa selingkuhanmu ke pesta itu, tega kamu Bang, ga punya hati kamu," ucap Rani sambil berlinang air mata.


Bukannya meminta maaf dan merasa bersalah, Ridwan malah mengucapkan kata kata yang sukses membuat hati Rani semakin hancur.


"Ga usah nyalahin aku, salahin diri kamu yang ga bisa ngurus diri, kamu pikir aku ga malu kondangan sama kamu yang kaya badut gini, badan gemuk muka kusam, jauh sama weni yang cantik dan ****, wajar aku pilih dateng sama dia dari pada kamu," ucap Ridwan.


"Jadi itu alasan kamu? Oke Bang mulai sekarang aku akan urus tubuhku, aku akan kembali menjadi Rani seperti Rani yang masih gadis dulu, yang selalu kau puji cantik dan selalu kau bilang cinta, aku akan kembali menjadi Rani yang dulu," ucap Rani penuh dengan tekat.


"Terserah aku ga peduli," ucap Ridwan berlalu dari hadapan istrinya.

__ADS_1


Rani sungguh sakit dengan perlakuan Ridwan padanya, ia memantapkan hatinya, ia akan menuruti saran dari Mbak Intan.


"Liat saja Bang, kamu akan menyesal telah menyakiti aku," gumam Rani.


__ADS_2