
Ridwan tak terima dengan ucapan Rama, dia hendak melayangkan bogem mentah kepada Rama namun ada tangan seseorang yang menghalanginya.
"Jangan main kasar Pak Ridwan," ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan memegang tangan Ridwan orang itu adalah suami dari Intan, mereka datang untuk takziah karena suaminya Intan baru saja pulang dari luar kota Jadi baru sempat datang. Tapi saat dia datang mereka mendengar keributan dan melihat Ridwan yang akan menampar adik dari Rani.
"lepas, Kenapa kalian selalu ikut campur dengan urusanku kalian ini bukan siapa-siapa," ucap Ridwan yang mencoba melepaskan tangannya dari cekalan suami Intan.
"Ya kami bukan siapa-siapa kami hanya tetangga yang ingin bertakziah kepada keluarga kalian tapi kami mendengar keributan dan kami tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak tidak dalam lingkungan kami karena sikap kasar Pak Ridwan." ucap Bagas suami Intan.
Hidung Ridwan kembang kempis mendengar ucapan dari Bagas, Rama tersenyum karena merasa ada yang membelanya sedangkan karena keributan tersebut Bintang menangis dalam pelukan Rani.
"Maaf pak jika pemandangan yang sangat tidak mengenakan mata, saya tidak bermaksud untuk membuat keributan Tapi Bang Ridwan memang selalu seperti itu Emosi tidak terkendali apapun dan tidak pernah melihat situasinya," ucap Rani.
Ridwan tersenyum miring mendengar ucapan Rani di matanya Rani kini semakin berani untuk mengatakan keburukan Ridwan di depan semua orang, Ridwan semakin kesal dia tidak ingat lagi jika Ibunya baru saja meninggal dunia.
"Bagus Rani kau semakin berani menjelek-jelekkanku di depan orang banyak dasar istri tidak tahu diri kamu," ucap Ridwan.
"Apa yang aku katakan memanglah sesungguhnya yang terjadi Sudahlah Bang aku tidak ingin lagi ribut denganmu ini masih suasana berkabung atas kepergiannya ibu tapi kamu selalu saja menanggapi sama omongan orang dengan emosi kamu tidak pernah memikirkan perasaan orang dengan kata-kata yang kamu lontarkan tersebut aku hanya minta satu darimu saat ini Ceraikan Aku di depan orang tuaku dan juga adik-adikku juga ada anak-anakmu dan juga mantan istrimu sebagai saksinya, aku sudah tidak tahan hidup denganmu Bang lebih baik kita berpisah saja sampai di sini perjuanganku untuk rumah tangga kita," ucap Rani dengan linangan air mata.
Intan,dan suaminya merasa iba pada Rani, begitupun dengan ibu dan Adik adik Rani.
__ADS_1
Bintang masih terus menangis dalam gendongan Rani, Riska sang adik berinisiatif untuk membawa Bintang keluar agar Bintang tidak mendengar keributan dan membuat Bintang menangis lagi.
"Sayang sini sama tante yuk, kita beli mainan di luar yuk jangan nangis lagi ya cup cup cup," ucap Riska.
Bintang pun kini berada di tangan Riska, Riska membawa bintang ke warung untuk dibelikan jajan agar bintang tidak menangis lagi, sementara di dalam ruangan Ridwan masih bersih tegang dengan Rani, Rani masih bersih kuku ingin diceraikan oleh Ridwan sekarang juga, Ridwan yang merasa harga dirinya terinjak-injak oleh permintaan dari Rani akhirnya mengucapkan kata Ta'Ala kepada Rani di depan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
" Sri Maharani mulai hari ini kamu bukan lagi istriku aku talak kamu dengan talak tiga," ucap talak menggema di seluruh ruangan tersebut Rani menangis bahagia telah terlepas dari suami yang begitu menyakitinya sepanjang sejarah pernikahan mereka sedangkan Andi dan Indi hanya terdiam melihat kelakuan ayahnya yang sangat mengecewakan begitupun dengan Nurul sang mantan istri ia melihat seperti Dejavu saat melihat Rani diceraikan oleh Ridwan ia mengingat waktu Ridwan menceraikannya dulu.
Setelah talak tersebut Rani memeluk sang Ibu ia menumpahkan air matanya dalam pelukan sang ibu dan mereka pun pulang ke rumah membiarkan Ridwan mengurus sendiri masalah tahlilan ibunya yang baru saja meninggal.
Bagas dan Intan yang tadi ingin bertakziah pun memberikan amplop kepada Ridwan, walaupun Ridwan terlihat marah kepada Bagas sebelumnya namun amplop itu tetap diterima oleh Ridwan.
Nindy dan Endi mendengus kesal hanya bisa menghela nafasnya sejujurnya ia sangat malas berurusan dengan ayahnya sendiri karena ayahnya tidak pernah mencontohkan hal-hal yang baik kepada mereka.
"Bu tapi hanya seminggu kami di sini ya Bu Hanya selesai tahlilan nenek kami kembali ke rumah ibu, kami tidak ingin tinggal dengan ayah di sini," ucap Nindi.
"Iya kalian boleh pulang ke rumah Ibu lagi jika acara tahlilan ini sudah selesai kalian harus membaktikan diri kalian untuk yang terakhir kalinya kepada nenek kalian karena semasa hidupnya Kalian pasti tidak pernah berbakti kepada nenek kalian karena didikan Ayah kamu yang tidak benar itu," ucap Nurul.
Ridwan mencubitkan bibirnya mendengar ucapan Mantan istrinya, menurutnya antara Rani dan juga Nurul sama-sama hanya bisa menjelek-jelekkan Ridwan saja.
__ADS_1
"Kamu dan Rani itu sama saja bisanya hanya mau ngomong jelek-jelek tentang aku pantas kalian berdua aku Ceraikan," ucap Ridwan.
"Aku dan juga Rani tidak pernah menjelek-jelekkan kamu Bang, memang sifat kamu yang sudah jelek dari lahir tapi kamu tidak pernah sadar dan aku tidak pernah menyesal bercerai darimu buktinya hidupku lebih jauh lebih baik setelah bercerai darimu," ucap Nurul.
"Kenapa semua orang hari ini menyebalkan sih, Sudahlah kalian urus itu masalah tahlilan aku mau tidur pusing dari tadi banyak orang yang membuat aku emosi," ucap Ridwan sambil berjalan menuju kamarnya meninggalkan anak dan juga Mantan istrinya di ruang tamu.
"Lihatlah kelakuan ayahmu Ibu berharap kalian berdua tidak menuruni sifat menyebalkan itu, sekarang kalian harus mengurus tahlilan ini berdua jangan ribut-ribut Ibu mau pulang dulu ya nanti setelah tahlilan selesai kalian boleh pulang ke rumah," ucap Nurul.
"Iya bu, hati hati di jalan," ucap Nindi.
Tinggallah kini dua anak tersebut yang mengurus tahlilan neneknya. Ridwan sang ayah hanya bermalas-malasan di kamar.
Sementara itu Rani sudah kembali ke rumahnya dan dia masih merasa bersedih atas kehilangan dan kepergian Ibu mertuanya Ia juga bersedih dengan kandasnya rumah tangganya.
" Kenapa Kakak tidak pernah cerita kepada kami kalau selama ini Kakak diperlakukan tidak baik oleh suami kakak?" tanya Riska.
"Dek, bukannya kakak tidak ingin bercerita, ada yang bilang aib rumah tangga cukup dipendam sendiri jangan diceritakan kepada orang lain Karena itu adalah dosa, maka dari itu selama ini Kakak berusaha untuk menutupi aib rumah tangga Kakak dan kakak berusaha untuk mempertahankan rumah tangga Kakak, namun suami kakak tidak pernah menghargai itu dan saat ini adalah titik di mana kesabaran Kakak sudah habis," ucap Rani.
"Lalu Mengapa tadi kakak bertanya kepada Pak Ustad jika wanita hamil boleh atau tidak meminta cerai kepada suaminya apakah kakak sedang hamil sekarang? " tanya Riska.
__ADS_1
Rani terdiam lalu air mata kembali membanjiri pipi nya.