Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
25. Orderan Winda


__ADS_3

"Dek udah nggak usah dilayani orang kayak gitu," ucap Rani.


"Aku bukan kakak yang selalu sabar Kak, ini orang kalau didiemin lama-lama ngelunjak, Dia pikir aku takut sama dia meskipun dia lebih tua kalau dia yang salah aku nggak takut," ucap Riska.


"Rani kamu ajarin tuh adik kamu si Riska biar mulutnya agak sopan dikit sama orang yang lebih tua, Aku tadinya datang ke sini mau beli loh tapi karena dianya yang jutek kayak gitu nggak sopan jadi males belinya, apalagi ngelihat makanannya nggak selera," ucapkan Eneng anak Bu Hasanah.


"Ya udah neng nggak apa-apa kok aku nggak maksa kamu beli di sini, kalau kamu nggak selera juga nggak apa-apa insya Allah masih banyak pelanggan lain yang selera dengan masakan aku," ucap Rani.


Riska dan Winda sangat geram mendengar ucapan dari wanita bertubuh gempal berkulit kusam yang bernama Eneng tersebut.


"Iya sih makanannya makanan kampung aku yakin sih usaha kayak gini nggak akan berkembang kecuali kalau makanannya menarik seperti di restoran," ucap Eneng tidak memikirkan perasaan Rani.


"Oh gitu ya ya udah deh lain kali aku bakalan belajar masak makanan seperti di restoran siapa tahu nanti sukses beneran punya restoran," ucap Rani.


"Enggak usah mimpilah Ran, orang kampung kayak kamu berharap punya restoran," ucap Eneng.


"Ya gak apa apa mimpi dulu siapa tau jadi kenyataan, aku lagi usaha membuktikan kalau aku adalah wanita mandiri yang sanggup hidup di kaki sendiri meskipun tanpa bantuan suami," ucap Rani.


Riska tersenyum mendengar ucapan kakaknya, sedangkan Eneng memasang wajah masam mendengar jawaban dari Rani yang seumuran dengan dia.


"Bener tuh Kakak mah wanita mandiri yang berani mengambil keputusan berpisah dari suaminya karena sadar dia bakalan bisa hidup meskipun tanpa suami, nggak kayak temennya temen aku udah tahu suaminya selingkuh tapi masih bertahan soalnya dia nggak bisa apa-apa kalau tanpa suaminya jangankan buat sukses cari uang buat makan aja dia nggak bisa makanya walaupun perasaannya disiksa sama suami tetap aja bertahan," ucap Riska seraya merangkul Punggung kakaknya.


Eneng yang merasa tertampar dan tersinggung dengan ucapan yang dikeluarkan Riska, iya langsung pergi meninggalkan warung nasi Rani seraya menghentak-hentakkan kakinya seperti seorang anak kecil.


Rani Riska dan Winda terkekeh melihat sikap Eneng yang seperti anak kecil.


"Kena mental tuh kayaknya ngedenger omongan lo Ris," ucap Winda terkekeh.

__ADS_1


"Sesekali harus ditampar dengan ucapan seperti itu, tetangga kepo yang suka julid sama orang tapi nggak berkaca sama kehidupan sendiri," ucap Riska sangat geram dengan sikap tetangganya yang julid itu.


Rani kembali melakukan aktivitasnya, hari pertama jualannya ramai dan masakannya yang berada di etalase habis terjual hingga sore hari.


"Alhamdulillahirobbilalamin, permulaan yang baik semoga besok dan seterusnya juga selalu baik," ucapannya bersyukur dengan apa yang hari ini dia dapatkan.


"Dek, gimana kalau Kakak bikin price list paket bekal untuk anak-anak pabrik ya, misalnya paket a isinya nasi ayam sayur sama sambal lalap kayak gitu harganya segini, terus kalau paket b isinya misalnya ikan lele nasi sayurnya beda harganya segini," ucap Rani dengan usulan yang ada di kepalanya.


"Bagus tuh Kak idenya nanti aku buatin deh di komputer nanti terus tinggal di print, lalu difotokopi terus disebar di pabrik kayaknya bakalan laku sih Karena harganya Kakak berikan cukup terjangkau kalau anak-anak pabrikan emang carinya yang murah tapi enak tuh," ucap Riska.


Rani tersenyum merasa bersyukur memiliki adik dan keluarga yang selalu mendukung usahanya, setelah membereskan alat-alat Ia pun mandi lalu menghampiri bintang yang sedang bermain dengan emaknya.


"Bintang nggak nakal kan ma nggak bikin Emak kecapean?" tanya Rani.


"Enggak kok bintang mah baik, di mana jualannya hari ini Ran rame," tanya emak.


Emak tidak tahu jika jualan Rani hari ini cukup ramai dan semua makanan habis terjual, karena emas selalu di dalam rumah fokus menjaga Bintang sesekali membawa Bintang keluar untuk bermain bersama teman-temannya jadi tidak memperhatikan warung nasi milik anaknya yang baru buka hari ini.


"Alhamdulillah kalau begitu Ran, kamu bisa menghidupi anak kamu tanpa Suami sekalipun," ucap Emak.


"Maaf ya mak jika Rani merepotkan Emak dengan menitipkan Bintang kepada emak," ucap Rani.


"Jangan merasa begitu, Emak sayang sama cucu Emak, lagian jadi hiburan juga buat emak ngurusin cucu, kan anak-anak mah udah pada besar udah nggak bisa diajak main," ucap Emak.


Rani memeluk tubuh kecil Bintang lalu ia cumi kanan dan kiri pipinya, membuat Bintang kegelian.


Sudah hampir dua minggu mereka hidup di rumah orang tua Rani, tidak sekalipun Bintang menanyakan keberadaan bapaknya, mungkin karena memang anak itu tidak pernah dekat dengan ayahnya sehingga sudah terbiasa meskipun tidak ada ayahnya di sampingnya.

__ADS_1


Rani semakin memantapkan hatinya untuk bisa mengurus dan membesarkan anaknya meskipun tanpa suami.


dan ia berharap anak dalam kandungannya ini menjadi anak yang kuat yang bisa membuat Rani bertambah semangat.


hari-hari berlalu, price list dibagikan oleh Rani kepada Winda dan Winda membagikannya di pabrik tempatnya bekerja.


hari kedua Winda membagikan price list tersebut banyak teman-temannya yang ikut memesan bekal kepada Rani untuk setiap hari dibawa.


"Kak untuk besok ada 20 bekal ya, ini catatannya sudah aku siapkan jangan sampai ketuker ya kak isinya," ucap Winda.


sepulang bekerja Winda menyempatkan diri untuk menyanggahi rumah Rani dan memberikan catatan pesanan kepada Rani.


"Alhamdulillah banyak juga Win, Ini 20 termasuk kamu ya?" tanya Rani.


"Eh iya lupa punya aku malah belum tercatat, satu lagi deh punya aku paket b ya Kak," ucap Winda.


"Oke win yang punya kamu aku kasih gratis anggap aja endorse, terus dari setiap paket ini kamu mendapatkan keuntungan 2000 ya, jadi 2.000 x 20 paket kamu dapat 40.000," ucap Rani.


"Wah beneran ini kak?" tanya Winda.


"Iya," ucap Rani.


"Ih Kak Rani kenapa nggak dari dulu aja sih buka warung nasi kan kalau kayak gini Aku enak dapat makanan gratis dapat uang jajan tambahan pula," ucap Winda semangat.


Rani terkekeh mendengar ucapan Winda Ia pun menyimpan catatan itu agar tidak hilang dan bisa dipersiapkan besok pagi, Winda pun kembali mengendarai motornya hingga sampai rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah emaknya Rani.


saat hendak menyimpan catatan dari Winda Rani dikejutkan oleh suara dering hp-nya.

__ADS_1


ia mengerutkan keningnya melihat nomor asing yang menelpon nya.


"Siapa ya?"


__ADS_2