
Rani terpaksa menerima paket yang datang ke rumahnya meskipun ia bingung siapa yang mengirimkan paket tersebut.
"Paket dari siapa sih, nama penerimanya benar aku alamatnya juga benar di sini, tapi nggak ada nama pengirimnya, jangan-jangan isinya bom lagi," gumam Rani.
Rani pun pelan-pelan membuka paket tersebut, dan setelah paket itu terbuka Rani membulatkan matanya melihat Apa isi paket tersebut.
itu adalah mainan mahal untuk bayi perempuan.
Tak lama kemudian handphone Rani pun berdering Rani mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa orang yang memanggilnya.
"*Hallo," ucap Rani.
"Hallo, apa paket nya sudah kamu terima?" tanya orang di sebrang panggilan*.
Rani mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan orang tersebut, suara itu adalah suara seorang laki-laki, Rani lantas melihat siapa orang yang ada dalam panggilan telepon tersebut.
"*Pak Rangga? jadi bapak yang mengirimkan paket ini?" tanya Rani.
"Iya sudah sampai ya paketnya, semoga bulan suka ya," ucap Rangga.
"Pak ini mainan terlalu mahal untuk anak saya," ucap Rani.
"Tidak apa-apa Rani, saya suka Bulan, suka dengan kedua anak kamu," ucap Rangga*.
Lelaki berwajah tampan itu berharap Rani tak menolak pemberiannya, ia benar benar menyukai kedua anak Rani karna ia sudah lama ingin memiliki buah hati namun Tuhan belum berkenan memberikan kepercayaan padanya untuk memiliki buah hati hingga ia gagal dua kali dalam pernikahannya karna hal tersebut.
"*Tapi maaf pak, saya tidak bisa menerima begitu saja pemberian dari orang lain," ucap Rani.
"Tolong jangan di tolak ya Ran, itu rejeki Bulan anakmu, maaf jika aku lancang tak minta izin kepadamu terlebih dahulu, tapi setelah ini aku akan minta izin padamu jika ingin bertemu dan memberi barang pada anakmu," ucap Rangga*.
Rani menghela nafasnya, ia sesungguhnya tak ingin menerima hadiah dari lelaki tampan tersebut namun ia tidak punya alasan untuk menolak nya.
"*Baiklah, tapi tolong besok besok tidak perlu repot-repot memberi hadiah pada anak saya lagi ya," ucap Rani.
"Iya Ran terimakasih sudah menerima hadiah dari saya untuk anakmu, saya matikan sambungan teleponnya ya saya ada meeting sebentar lagi, assalamualaikum," ucap Rangga.
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawab Rani*.
Rani menghela nafasnya menatap mainan anak perempuan di hadapannya, mainan mahal yang harganya ratusan ribu mungkin hampir satu juta.
Rani hanya tidak ingin kedua anaknya semakin dekat pada Rangga, karna ia benar-benar belum siap untuk membina mahligai rumah tangga kembali.
Rasa sakit sebagai istri yang tidak di hargai, di khianati dan di hina oleh suami sendiri membekas dalam relung hati terdalamnya.
meskipun di depan orang bisa tersenyum seakan-akan tak menderita, di depan orang nampak ceria namun di hatinya penuh luka.
Rani membawa mainan tersebut ke dalam rumahnya lalu di perlihatkan pada Bulan.
Anak berusia satu tahun setengah itu berjalan cepat ke arah mainan itu dengan mata berbinar.
"Kamu beli mainan buat bulan Ran? Kok Bintang ga sekalian di beliin?" tanya emak.
Rani menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Emak, lalu ia melihat Bintang ikut menghampiri mainan tersebut dan mengajari adiknya memainkan mainan tersebut.
"Bukan aku, itu kiriman dari pak Rangga," ucap Rani.
"Iya Mak," jawab Rani.
Emak memperhatikan wajah Rani yang nampak kurang senang dan terlihat terbebani.
"Kenapa? sepertinya kamu tidak menyukai pak Rangga padahal menurut pengelihatan Emak dia laki laki yang baik," ucap Emak.
"Rani hanya tidak ingin anak anak Rani semakin dekat padanya, lalu mereka meminta pak Rangga menjadi papah mereka seperti kemarin pas di pesta Riska," ucap Rani.
"Emangnya kamu gak mau jadi istri pak Rangga, dia itu baik Ran," ucap Emak.
Rani mengusap wajahnya sebelum menjawab pertanyaan Emak nya.
"Mak, Rani masih merasakan sakit di hati Rani, Rani belum mau memulai kembali berumah tangga," ucap Rani.
"Emak pernah denger Ran, obatnya sakit hati itu adalah hati yang baru, siapa tau dengan kamu membuka hati untuk Rangga dia bisa mengobati luka di hati kamu dan kamu bisa hidup bahagia bersamanya," ucap Emak.
__ADS_1
Rani tersenyum kecut mendengar ucapan emaknya, ia tak menyangka emaknya tau pribahasa kekinian.
"Mak, lelaki kaya bang Ridwan yang wajah pas Pasan dan ga punya uang aja selingkuh dan nyakitin Rani, gimana yang kaya pak Rangga, ganteng, kaya pasti banyak perempuan yang mau sama dia, kenapa dia malah suka sama janda beranak dua seperti Rani kalau yang gadis Ting Ting dan aduhai aja bisa dia dapatkan dengan uang yang dia miliki," ucap Rani.
Emak terdiam tak bisa menjawab ucapan Rani, memang ada benar dan ada salahnya apa yang di ucapkan Rani, dengan wajah tampan dan uang yang banyak bukan hal yang sulit untuk Rangga mencari perempuan yang mau mendampingi nya, tapi tidak semua bisa di beli dengan uang termasuk cinta dan kebahagiaan, namun Emak sendiri belum yakin apakah Rangga benar benar mencintai anaknya dan bisa membahagiakan anaknya.
"Terserah kamu aja lah Ran, yang jelas apapun keputusan kamu Emak mendukung selama itu hal baik dan membuatmu bahagia," ucap Emak.
Rani tersenyum lalu memeluk wanita yang telah melahirkannya tersebut, yang kini sudah mulai Renta.
"Mak, Rani udah cari orang buat kerja di rumah, bersih bersih rumah dan jagain Bulan jadi emak ga terlalu lelah, Maaf ya Mak selama ini Rani udah nyusahin Emak, harusnya di usia sekarang sudah istirahat dan fokus ibadah emak malah repot jagain cucu," ucap Rani.
Rani merasa sangat menyesal dengan kondisi nya yang gagal dalam pernikahan dan akhirnya menyusahkan wanita yang ia sayangi itu, meskipun semua pekerjaan Rumah Rani kerjakan sebelum membuka warung nasi juga di bantu Riska sebelum Riska berangkat kerja, namun Rani tetap saja merasa telah merepotkan ibunya karna menitipkan anaknya untuk di jaga emaknya.
Sudah sebulan lalu Rani mencari orang untuk kerja namun belum ada yang cocok.
"Gak usah mikir seperti itu, emak masih kuat jaga dua cucu emak, malah emak senang punya kegiatan," ucap Emak.
Saat Rani dan emak sedang berbincang, Dinda datang dan memanggil Rani.
"Bu maaf mengganggu, di Warung nasi ada orang yang ingin bertemu ibu," ucap Dinda.
"Siapa?" tanya Rani.
"Saya gak kenal Bu, saya juga lupa ga tanya namanya," ucap Dinda.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Rani.
"Laki-laki," jawab Dinda.
"Ya sudah kamu bilang saja tunggu nanti saya temui," ucap Rani.
Dinda pun pergi dari hadapan Rani dan emaknya berjalan kembali ke warung nasi untuk menyampaikan pesan dari Rani.
Sedangkan Rani hanya menebak nebak siapa yang datang dan ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
"Siapa ya?" gumam Rani