
"Waalaikumsalam," ucap Rani.
Rani berjalan dengan membukakan pintu melihat siapa yang datang.
Rani membulatkan kedua matanya dengan orang tersebut.
"Bu Hasanah ada apa?" tanya Rani.
"Rani tolong dan tolong eneng dia dipukulin sama suaminya, kasihan dia tolong bawa ke rumah sakit," ucap Bu Hasanah sambil terisak.
"Astaghfirullah kok bisa Bu terus sekarang Eneng gimana keadaannya?" tanya Rani terkejut.
"Sudah jangan banyak tanya cepat bantu aku bawa Eneng ke rumah sakit," ucap Bu Hasanah.
"Ada apa Ran?" tanya Emak yang datang dari dalam.
Rani pun menceritakan apa yang dikatakan oleh Bu Hasanah kepada emaknya, emaknya tidak tega dan akhirnya meminta Rani untuk mengantar Bu Hasanah dan eneng ke rumah sakit menggunakan mobil Rani.
Rani memang sudah bisa mengendarai mobil setelah beberapa kali ikut latihan mengendarai mobil, dia melakukan hal tersebut untuk memudahkan jika ada pengiriman nasi box atau catering ke tempat yang agak jauh dari wilayahnya.
Rani pun mengantarkan Bu Hasanah dan Eneng ke rumah sakit sedangkan kedua anaknya dijaga oleh Emak, Dinda dan juga Diki.
"Kenapa bisa lebam-lebam seperti ini?" tanya dokter.
Mereka kini sudah berada di ruang UGD, dokter memeriksa tubuh Eneng dan terdapat beberapa luka lebam di hidung di lengan dan juga di kaki Eneng.
Eneng hanya menangis tidak mampu menjawab pertanyaan dari sang dokter.
"Apakah ibu mengalami KDRT? ini bisa dijadikan bukti visum kepada pengadilan kalau memang Ibu mau melaporkan ini kepada pihak yang berwajib," ucap dokter.
"Tidak usah bu dokter saya hanya ingin diobati saja," ucap Eneng.
Dokter tersebut hanya menghela nafas ia tidak bisa ikut campur lebih jauh masalah rumah tangga pasiennya.
Begitu juga dengan Rani dia hanya menelan nafas dan merasa prihatin kepada Eneng, ia pernah ada di posisi seperti itu, namun tidak lebih parah dari yang didapatkan Eneng saat ini.
Dulu Ridwan hanya menamparnya tapi tidak pernah memukuli di bagian badan yang lain.
__ADS_1
"Dokter apa semua baik-baik saja maksudnya apakah harus melakukan rontgen dan juga CT scan untuk memastikan bahwa tidak ada patah tulang atau cedera lain?" tanya Rani.
"Melihat cukup banyaknya luka lebam di beberapa bagian tubuh memang sebaiknya dilakukan rontgen dan juga CT scan," ucap dokter tersebut.
Akhirnya ingin melakukan pemeriksaan rontgen dan juga CT scan namun hasilnya tidak langsung keluar melainkan beberapa hari lagi.
setelah selesai diperiksa dan mendapatkan obat mereka pun kembali pulang.
di perjalanan pulang Bu Hasanah mengomeli Eneng sang anak.
"Kenapa kamu hanya mau mengobati lukamu dan tidak mau melaporkan kelakuan suamimu kepada pihak yang wajib neng?" tanya Bu Hasanah.
"Aku takut Bu, dia sudah ada wanita lain jika aku melaporkannya ke pihak yang berwajib pasti dia akan membenciku dan nantinya akan menceraikan aku," ucap Eneng.
"Ya baguslah kalau kamu bercerai dengan dia, lelaki jahat seperti itu tidak pantas untuk dipertahankan Eneng," ucap Bu Hasanah.
"Nanti kalau aku cerai siapa yang akan menafkahi aku Bu aku tidak mau bekerja keras," ucap Eneng dengan enteng.
Eneng tidak pernah merasakan bagaimana lelahnya mencari uang, selama ini ia hanya mengandalkan uang suaminya sehingga meskipun suaminya sering selingkuh dan melakukan kekerasan ia tidak berani untuk berpisah dengan suaminya.
Rani menghelan nafas bersyukur ketika mengingat dirinya yang sudah terbiasa lelah mencari uang sehingga saat berpisah dengan suaminya dia sudah biasa menghidupi dirinya sendiri bahkan juga kedua anak dan orang tuanya.
***
"Rani, janda gatel ini pasti gara-gara kamu, kamu kan yang menyebarkan gosip tentang Eneng dan suaminya?" teriak Bu Hasanah dari luar membuat pengunjung warung nasi tersebut terkejut mendengar suara Bu Hasanah yang kencang.
"Astaghfirullahaladzim Ada apa lagi sih itu," gumam Rani.
Rani enggan meladeni Ibu Hasanah Ia pun pergi dari warung nasi dan meminta Dinda untuk menghandle semuanya, ia masuk ke dalam rumah dan juga melihat emaknya yang sedang mengintip di jendela.
"Kenapa si Mak kita punya tetangga seperti itu," ucap Rani.
Bu Hasanah terus memakai meskipun Rani tidak pernah menanggapinya, sementara tetangga yang lain kebanyakan membela Rani dan mengatakan apa yang dialami oleh Bu Hasanah dan Eneng adalah karena bahasanya selalu membuat gosip di kampung tentang para janda yang juga gadis-gadis.
"Bu Hasanah lebih baik intropeksi diri daripada menyalahkan orang lain, dulu aja ngatain Rani bikin begitu eh ternyata sekarang anaknya lebih parah," ucap salah satu tetangga yang menghina betul bagaimana Ibu Hasanah menghindarani yang baru saja menjadi janda.
"Rani masih mending jadi janda bisa nyari duit sendiri, lah anak kamu nanti mau jadi apa udah jadi janda nggak bisa nyari uang sendiri," ucap tetangga yang satu lagi.
__ADS_1
Bu Hasanah semakin geram dengan apa yang dikatakan oleh para tetangga, ia menghentak hentakan kakinya seperti anak kecil lalu pergi meninggalkan ibu-ibu dan segera masuk ke dalam rumahnya, pintu rumah pun ditutup dengan cara dibanting dengan keras karena dirinya masih diliputi emosi.
***
sementara di sisi lain.
"Rangga bagaimana Apa kamu sudah mengabari perempuan itu bahwa kita akan datang melamar dia?" tanya Mama indah.
"Belum Mah," jawab Rangga.
"Loh kok belum si Rangga?" tanya Bu indah.
"Iya mah lebih baik aku dulu yang mengatakan kepada Rani secara pribadi berdua, setelah ia menerima lamaranku baru Mama Papa dan keluarga secara resmi datang untuk menghitbahnya," ucap Rangga.
"Ya sudah kalau begitu tapi jangan lama-lama ya mamah mau punya menantu seperti dia," ucap Mama indah.
Rangga tersenyum lalu kami pergi kepada mamahnya dia membawa 4 paper bag di tangannya dan ia langsung mengendarai mobilnya menuju kediaman Rani.
setelah sampai di kediaman ini ia pun mengucap salam dan mengetuk pintu rumah tersebut.
Rani mempersilahkan Rangga masuk dan Rangga pun langsung memberikan oleh-oleh kepada kedua anak Rani, Emak dan juga Rani.
"Ini oleh-oleh dari Singapura semoga kalian suka," ucap Rangga.
"Pak Rangga tidak jadi menetap di Singapura kah?" tanya Rani.
"Enggak, saya merasa berat karena tubuh saya akan Singapura sementara hati saya ada di sini," ucap Rangga.
Wajah Rani bersama menyerang mendengar ucapan Rangga, mereka bagaikan ABG yang sedang jatuh cinta.
"Apa kamu tidak merindukanku selama satu minggu aku berada di Singapura? aku menunggu pesan darimu namun tidak ada satupun yang kamu kirimkan," ucap Rangga.
"Saya, saya takut mengganggu aktivitas bapak di sana," ucap Rani dengan malu-malu.
Rangga melihat adanya sinyal yang berbeda ditunjukkan oleh Rani, Rangga pun memberanikan diri untuk menyatakan niatnya kepada Rani.
"Ran, kita kan sama-sama single aku duda kamu janda, Aku sangat menyukaimu sejak awal, apakah kamu merasakan perasaan yang sama kepadaku?" tanya Rangga.
__ADS_1
Rani tak mampu menjawab Dia sendiri tidak yakin dengan Apa yang dirasakan dalam hatinya, namun ia merasa rindu setelah beberapa hari tidak ada kabar dari lelaki tampan yang ada di hadapannya ini, dan ia merasa senang ketika lelaki ini kembali hadir di hadapannya.
"Ran jika kamu juga merasakan apa yang aku rasakan mari kita menikah, Aku ingin menjadikan istriku, dan segera menghalalkan apakah kamu mau?" tanya Rangga.