
Rani menekan icon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan telepon tersebut, lalu terdengar suara wanita dari panggilan telepon tersebut.
"*Assalamualaikum Rani,"
"Waalaikumsalam ini siapa ya?"
"Ya ampun Rani kamu belum save nomor aku ya, ini aku Tia,"
"Oh ya ampun Tia Maaf ya aku lupa Beneran deh belum di save nomor kamu,"
"Ih punya teman kok jahat banget sih Ya udah nanti jangan lupa di-save ya,"
"Iya maaf maaf Oh iya ada Apa kamu nelpon aku?"
"Kamu udah buka warung nasi belum?"
"Sudah kok Sudah mulai buka Kamu kapan mampir ke sini katanya mau mampir dan mau beli makanan aku,"
"Rencananya besok mau ke sana sama suami, makanya sekarang aku konfirmasi dulu sama kamu takutnya aku datang ternyata kamu belum buka warungnya,"
"Udah buka kok setiap pagi udah buka, kalau untuk yang makan di tempat kebanyakan dari jam 09.00 ke atas tapi kalau misalnya pagi aku juga ada persiapan untuk bekal orang-orang yang bekerja di pabrik,"
"Ya besok aku habis dzuhur ke tempatmu ya sama suamiku,"
"Baiklah aku tunggu ya Tia,"
"Oke Ran aku matikan ya sambungan teleponnya ingat save nomor aku jahat banget sih kamu nomor aku nggak di save,"
"Iya iya nanti aku save kemarin aku lupa karena kan habis pulang dari pasar langsung beres-beres terus besoknya langsung masak dan jualan jadi nggak sempet megang-megang handphone*,"
setelah selesai berbincang sambungan telepon pun dimatikan, Rani benar-benar menyimpan nomor Tia agar sahabatnya itu tidak marah, lalu Rani melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda yaitu merapikan data pesanan dari Winda yang akan ia kerjakan untuk besok.
"Ah akhirnya selesai semua waktunya sekarang istirahat sama Bintangku," gumam Rani tersenyum.
dia menghela nafas lalu mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit, yang kuat ya sayang di dalam seperti kakakmu Bintang buat menghadapi hidup meskipun kita tidak lagi bersama ayahmu.
"Emak, Bintang mana?" tanya Rani menghampiri sang emak yang sedang duduk di ruang tamu.
"Itu lagi suka menggambar dia," ucap Emak.
__ADS_1
"Eh dapat buku gambar dan pensil warna dari mana itu Mak?" tanya Rani.
"Dibeliin sama Rama kemarin pas pulang kerja Rama bawa Bintang ke warung ditanya mau minta apa eh dia malah minta buku gambar sama pensil warna," ucap Emak.
Rani tersenyum lalu menghampiri Bintang yang sedang asyik menggambar di atas buku gambar yang masih polos.
"Anak Ibu lagi ngapain nih kayaknya asik banget deh," ucap Rani.
"Aku bisa gambar," ucap Bintang dengan suaranya yang masih cadel.
"Wah gambarnya bagus ya, Bintang kalau sudah besar mau jadi pelukis ya?" tanya Rani.
anak berusia 2 tahun setengah itu hanya mengangguk dan tersenyum entah mengerti atau tidak apa yang dikatakan oleh ibunya.
Ia pun bukannya menggambar lebih tepatnya mencoret-coret warna-warni ke dalam buku polos tersebut, tapi Rani membiarkannya melakukan hal tersebut mungkin saja nanti kalau sudah besar dia akan bisa menggambar yang lebih bagus daripada itu lagi pula dengan memegang pensil warna dan juga bermain dengan buku akan melatih syarat-syarat motoriknya sehingga jika Bintang sudah siap dengan usia sekolah dia sudah tidak kaku lagi untuk memegang benda-benda keperluan sekolah.
"Bintang, Kamu tahu nggak sebentar lagi Kamu mau punya adik bayi," ucap Rani.
Bintang mengerti dengan istilah adik bayi Ia pun memandang Rani dan bertanya.
"Mana adiknya?" tanya Bintang polos.
"Dede di sini?" tanya bintang yang belum mengerti menunjuk perut.
"Iya sekarang kamu belum bisa melihatnya karena dia masih ada di dalam perut ibu, nanti kalau dia sudah lahir kamu janji ya akan sayang sama adik kamu seperti Ibu Tante Riska dan Om Rama saling menyayangi," ucap Rani.
"Iya sayang, sayang Om Rama sayang Tante Riska sayang Ibu sayang nenek tapi nggak sayang sama ayah, ayah jahat marah-marah terus," ucap Bintang.
Rani merasa teriris mendengar ucapan anak sulungnya, meskipun baru di usia dini ternyata ia mengerti dan mengingat semua kelakuan buruk ayahnya, Rani hanya bisa berharap semoga jika anaknya sudah besar ia tidak akan trauma dengan apa yang telah Ia alami saat melihat kelakuan buruk ayahnya.
Hari berlalu begitu cepat membawa sang Surya tenggelam dalam peraduannya kini bulan menyinari malam hari, Rani berbaring di sebelah tubuh anaknya yang Sudah terlelap, Iya kembali menempati kamarnya Yang saat dulu masih gadis, ia memandangi wajah anaknya yang terlelap, mata hidung dan bibir yang mirip dengan suaminya menambah perih luka hati Rani saat mengingat kelakuan suaminya.
"Kenapa kamu mirip sekali dengan ayahmu nak, Ibu sangat berharap jika kamu sungguh besar nanti kamu tidak mau mewarisi sifat buruk ayahmu," ucap Rani.
Air mata tidak mampu ia mendung mengalir di sudut matanya hingga jatuh di pipinya, setegar apapun Ia di depan banyak orang termasuk keluarganya, namun jika saat sendiri di dalam kamar dia kembali mengingat kepedihan hatinya, yang begitu mencintai suami namun suaminya tak pernah mencintainya bahkan selalu menyakitinya.
tidak ada cinta lagi untuk sang suami hanya ada kekecewaan dan kebencian.
"Aku tidak menyesal bertemu dan menikah denganmu karena kamu aku bisa mendapatkan seorang anak bernama Bintang dan calon anak yang ada di dalam perutku, Aku berharap kebahagiaan akan datang setelah aku berpisah denganmu, aku akan menjaga kedua anak kita dan merawatnya dengan sekuat tenagaku memberikannya hidup yang layak sehingga mereka tidak merasakan pedihnya kehidupan seperti yang aku rasakan,"ucap Rani penuh dengan tekad sesekali Ia menikah air mata yang terus mengalir di pipinya.
__ADS_1
Iya sengaja menurunkan segala kesedihannya agar hatinya merasa lebih lega, hingga ia lelah menangis dan tertidur di sebelah anaknya.
pagi telah tiba alarm di handphone Rani berbunyi, jika orang lain akan bangun sebelum subuh atau saat mendengar adzan subuh namun Rani berbeda dia menyetel alarm di handphonenya di jam 02.00 pagi, iya mulai beraktivitas membuat bumbu dapur dan memotong-motong sayuran juga membersihkan ikan dan daging yang akan dia buat untuk menu jualannya.
tak mengapa bekerja keras dari pagi hingga sore asal ia bisa menghidupi anaknya dengan layak.
Rani berkutat di dapur hingga tak terasa Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, dia membersihkan tubuhnya mandi lalu salat subuh, setelah itu mengemasi pesanan orderan dari Winda.
"Kak butuh bantuan nggak kayaknya repot banget?" tanya Riska yang baru saja keluar dari kamarnya menuju kamar mandi untuk mandi.
"Gak perlu ini Udah mau selesai kok kamu mandi aja kan kamu mau berangkat kerja," ucap Rani.
Riska mengangguk lalu melanjutkan jalannya menuju kamar mandi, tanpa Rani sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya sudut matanya berembun melihat begitu giginya anaknya berjuang demi hidup tanpa Suami.
"Semoga Allah memudahkan segala usahamu dan melancarkan segala rezekimu," ucap emak yang berdiri di sudut ruangan memperhatikan Rani yang sibuk berkemas makanan.
Setelah selesai dikemas Ia pun membawa makanan tersebut ke depan tempat ia jualan dan dia juga menata makanan yang sudah matang di atas etalase seperti biasanya.
tin tin tin
Suara klakson dari motor Winda menandakan Winda sudah datang.
"Sudah bereskan Kak?" tanya Winda.
"Sudah Win," ucap Rani seraya memberikan pesanan Winda.
"Oke Ini uangnya benar kan jadi segitu totalnya," ucap Winda.
"Iya benar, ini kok udah dibayar emang orangnya udah pada ngasih uang ke kamu Win?" tanya Rani.
"Udah Kak kemarin pas mereka pesan mereka langsung kasih uangnya sama aku jadi sekarang aku tinggal nganterin pesanan pesanan mereka," ucap Winda.
"Makasih ya Win, Alhamdulillah penglaris pagi," ucap Rani.
Winda pun tersenyum dan meninggalkan Rani, sedangkan Rani bersiap-siap merapikan seluruh dagangannya, sebelum pelanggan datang Rani juga mengurus Bintang dan memandikannya serta memberikan sarapan untuk anak sulungnya.
Setelah selesai mengurus Bintang Rani kembali ke depan tempat Ia berjualan nasi bungkus namun Rani dikejutkan dengan seseorang yang hendak membuka etalase miliknya orang tersebut bukan duduk di depan tempat pelanggan melainkan masuk ke dalam tempat jualan.
"Hei, ngapain kamu di situ kalau mau beli tidak usah masuk Tunggu saja di tempat orang biasa memesan makanan," ucap Rani.
__ADS_1