
Rani pun berjalan menuju warung nasi kembali dan melihat siapa yang datang ingin bertemu dengannya.
"Di mana orang itu Dinda?" tanya Rani.
"Itu bu di sebelah sana," ucap Dinda Seraya penunjuk seseorang yang sedang duduk di kursi paling pojok.
Rani memicingkan matanya melihat sosok orang tersebut sepertinya tidak asing untuknya namun dengan jarak yang lumayan jauh dan belum yakin sehingga Rani pun akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju orang tersebut.
"Maaf Apa benar bapak ingin bertemu dengan saya?" tanya Rani.
orang tersebut yang tadinya menunduk langsung mendengarkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Rani, bersekian detik pandangan mereka bersirobok Rani terkejut Bukan main melihat seorang yang ada di depannya, sosok yang selama ini ia kenal sangat dekat namun hari ini ia melihat orang itu sangat berbeda dari segi penampilannya.
"Rani Apa kamu sudah lupa dengan Abang?" tanya lelaki tersebut.
Rani membeku tak tahu harus menjawab apa ia melihat penampilan Ridwan yang sangat berbeda, tak ada lagi baju yang rapi dan wajah yang terawat.
Kini Ridwan yang ada di hadapannya memakai baju yang kusut dan wajah kusam ditumbuhi bulu halus di bagian janggut dan bawah hidungnya.
"Bang Ridwan ada perlu apa datang kesini?" tanya Rani.
karena selama berpisah dengan Rani, Ridwan tidak pernah datang untuk mengunjungi anak-anaknya bahkan saat bertemu di pengadilan agama pun Ridwan tidak menanyakan masalah kedua anaknya sehat atau tidak, baik-baik saja atau tidak, sama sekali tidak Ridwan pertanyaan.
"Ran kamu sekarang sangat berbeda ya cantik dan sekarang sudah sangat sukses," ucap Ridwan.
__ADS_1
Rani tidak menggubris ucapan Ridwan, iya tak mau lagi kembali luluh dengan bujuk rayu Ridwan yang sangat manis di awal namun menyakitkan di akhir cerita.
"Jadi Abang ke sini mau apa?" tanya Rani.
"Apakah Abang tidak boleh mengunjungi mantan istri Abang?" tanya Ridwan tidak tahu malu.
Rani hanya menghalang nafasnya mendengar pertanyaan Ridwan, lelaki itu memang tidak tahu adab dan etika, mantan istri atau mantan suami bukan lagi muhrim dan tidak pantas untuk kembali bertemu kecuali kalau dia bertamu datang untuk melihat keadaan anaknya Rani tidak akan pernah melarang.
"Maaf ya bang jika Abang datang ke sini dengan tujuan yang tidak jelas lebih baik Abang pulang, saya sedang sibuk masih banyak pekerjaan di dalam," ucap Rani.
Ridwan ternganga dengan ucapan Rani Ia tidak menyangka jika Rani yang ia kenal sudah sangat berubah, dulu tidak pernah Rani berani berbicara dengan nada yang tinggi kepada Ridwan, kini kehadiran Ridwan pun seolah diusir secara langsung oleh Rani.
"Apakah kesuksesan kamu membuat kamu menjadi seorang yang sombong Rani," ucap Ridwan.
"Kurang jelas seperti apa Aku ingin bertemu dengan kamu mantan istriku Rani,"ucap Ridwan.
"Lalu Apa tujuan menemui ku, kita bukan lagi suami istri kita sudah tidak mahram lagi dan tidak pantas seorang menemui seseorang yang bukan mahramnya," ucap Rani.
Ridwan menghela nafasnya tidak mengerti apa yang diucapkan oleh mantan istrinya, semenjak kejadian ia bertengkar dengan Weni Ridwan kabur dari rumahnya sendiri, lalu seminggu kemudian ia kembali untuk mengemasi barang-barang yang tidak sempat ia kemasi, Ia pun menawarkan rumahnya agar bisa dijual ia tidak ingin tinggal di kampung itu lagi karena ia sudah merasa sangat tidak nyaman dengan para warga dan tetangga sekitar.
Setelah rumah itu terjual dengan harga murah biduan pun membeli rumah yang lebih kecil seperti kontrakan, dan menjalani hidupnya sendiri tanpa seorang istri sehingga penampilannya kini terlihat sangat tidak terawat.
lalu ia mendengar dari seseorang jika mantan istrinya kini telah sukses dengan bisnis warung nasinya, Ridwan pun mendapatkan foto Rani yang kini semakin cantik hal itu membuat Ridwan ini bertemu dengan Rani dan kembali padanya.
__ADS_1
"Aku mau minta maaf kepadamu Rani, dan ingin kembali hidup bersama denganmu," ucap Ridwan dengan sangat penting tanpa mengingat bagaimana masa lalunya menyakiti Rani.
Rani tertawa mendengar ucapan Ridwan yang terkesan menyepelekan perasaan orang lain, tidak memikirkan bagaimana masa lalu mereka.
"Mudah sekali kamu mengatakan itu Bang, Apa kamu tidak tahu betapa sulitnya aku untuk menghapus luka yang kamu berikan kepadaku, bagaimana sulitnya Aku berjuang hidup tanpa kamu membesarkan kedua anakku, aku hamil tanpa suami melahirkan tanpa suami, dan berjuang tanpa suami sekarang setelah anak-anak sudah terlihat sehat dan bahagia aku pun sudah memiliki kebahagiaanku sendiri kamu dengan mudahnya datang dan ingin kembali padaku, dunia ini hanyalah candaan untukmu?" ujar Rani.
"Abang tahu Abang banyak salah padamu Rani, maafkan Abang abang janji tidak akan berbuat seperti itu lagi, Abang harap kamu bisa kembali dengan Abang demi kedua anak kita," ucap Ridwan.
"anakmu bukan hanya Bulan dan Bintang, ada Nindy dan Endi yang lebih membutuhkanmu, mereka butuh biaya sekolah yang lebih besar, Bulan dan Bintang bisa aku rawat besarkan dan Didik tanpa kamu Bang, jika kamu ingin balikan dengan mantan istri dengan tujuan memberikan kasih sayang kepada anakmu lebih baik kamu kembali kepada Nurul mantan istri kita mau yang lebih membutuhkan kamu daripada aku," ucap Rani.
Ridwan terdiam tidak menyangka jika Rani mengatakan hal tersebut, ia menatap penuh kagum kepada Rani, wanita yang lemah yang hanya bisa menangis saat ia sakiti kini terlihat sangat kuat dan tegar.
Ridwan pergi dari warung nasi Rani namun bukan berarti Ridwan menyerah Mungkin ia akan kembali nanti dan terus meminta Rani untuk kembali padanya.
Rani menghela nafasnya setelah Ridwan pergi dari warung nasinya, segala hinaan dan pengkhianatan yang dilakukan Ridwan kepadanya membuat dia berubah menjadi wanita yang sangat tegar dan kuat tidak ingin disakiti lagi oleh lelaki manapun apalagi harus balikan dengan Ridwan itu hal yang tidak akan pernah Rani lakukan.
"Dinda, kalau orang tadi datang lagi ke sini bilang aja Ibu lagi nggak ada ya pokoknya Ibu nggak mau nemuin kalau dia datang lagi ke sini," ucap Rani berpesan pada Dinda.
jika tujuan Ridwan datang untuk menemui anaknya mungkin saja Rani bisa menerima dan membiarkan Ridwan untuk sekedar menemui anaknya, namun nyatanya tujuan Ridwan datang ke sini berbeda, bahkan setelah diusir oleh Rani Ridwan sama sekali tidak meminta untuk bertemu dengan anaknya walau barang sedetik pun, hal itu membuktikan bahwa Ridwan memang tidak berniat untuk menemui anaknya.
"Weh, janda laku bener, apa di obral ya, Minggu kemarin kang Imron, kemarin pak Rangga, hari ini Ridwan, besok siapa lagi Ran, bagi tips nya dong gimana cara ngobral diri biar laku,"
Rani meradang mendengar ucapan seorang wanita yang tiba-tiba datang dan mengatakan hal itu padanya.
__ADS_1