Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
Menjelang pernikahan


__ADS_3

"Apapun mahar yang diberikan calon suami saya asalkan dia ikhlas saya akan menerimanya," ucap Rani.


Rangga dan keluarganya tersenyum mendengar jawaban dari Rani, mereka dapat menilai dari sini bahwa Rani bukanlah perempuan yang materialistis.


"Baik jika seperti itu maka pihak kami akan memberikan mahar terbaik untuk kamu, untuk masalah resepsi pernikahan juga akan kami siapkan semuanya," ucap papahnya Rangga.


Rani tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan calon mertuanya, dadanya berdebar-debar menunggu hari pernikahan dia dengan Rangga dalam hatinya jujur saja masih mengalami trauma atas petaka pernikahan yang pernah ia alami, ada rasa ketakutan jika ia akan mengalami hal yang sama seperti dulu namun di sisi lain ia bahagia ada seseorang yang mau menerima dirinya dan anak-anaknya.


para tamu sudah pulang karena pembahasan sudah selesai, keesokan harinya Rani seperti biasa membuka warung nasi dan gosip tentang Rani yang akan menikah dengan cepat tersebar ke kampung.


"Assalamualaikum, Ran ada lowongan nggak buat Eneng di sini, kasihan dia janda nggak punya suami dan sekarang harus menghidupi kedua anaknya tapi dia belum dapat pekerjaan sebagai tetangga harusnya kamu bisa membantu memberi pekerjaan kepadanya," ucap Bu Hasanah yang tiba-tiba datang ke warung nasi milik Rani.


Rani menghela nafasnya mendengar ucapan Bu Hasanah, tetangganya yang satu ini selalu membuat kegaduhan jika datang menemuinya.


"Maaf bu belum ada, saya kan sudah punya 3 orang yang membantu saya di warung dan itu sudah lebih dari cukup," ucap Rani.


"Kamu itu gimana sih neng itu kan teman kamu dari kecil harusnya sesama teman dan sesama tetangga kamu bisa membantu, apalagi kalian sama-sama seorang janda dan sama-sama menghidupi anak harusnya kamu bersimpati kepada nasib neng," ucap Bu Hasanah.


Rani hanya terdiam dia malas untuk menjawab pertanyaan bu Hasanah karena pasti Bu Hasanah memiliki jawaban lain yang bisa menentang ucapan Rani, sementara itu ada tetangga lain yang sedang membeli sayur di warung Rani dan ikut berkomentar tentang ucapan Bu Hasanah.


"Bu tadi kan Rani sudah bilang di sini gak ada lowongan masa maksa Rani sih buat nerima Eneng kerja di sini, lagian ya kalau melihat dari penampilannya Eneng tuh nggak cocok kerja di warung nasi bisa apa dia dengan kuku-kuku panjangnya, sama-sama janda sih tapi nggak ingat apa bu Hasanah dulu suka ngegibahin Rani pas Rani baru jadi janda nah sekarang anaknya sendiri yang jadi janda malah minta bantuan Rani, gak malu apa!" ucap tentangga Rani.


"Eh Bu Ani nggak usah ikut campur urusan saya sama Rani ya, ntar mulutmu aku sumpah pakai cabe setan baru tahu rasa," ucap Bu Hasanah yang tidak terima Bu Ani mengatakan hal seperti tadi kepadanya.


"Saya kan berbicara fakta lagian ibu tuh mulutnya ya suka ngomongin orang makanya karena anak sendiri sekarang jadi janda ditinggal sama suaminya yang sering selingkuh Kalau Rani kan jadi janda juga bisa nyari uang nah kalau anak ibu biasa hidup enak mana bisa nyari uang sendiri," ucap Bu Anis seraya meninggalkan Bu Hasanah yang semakin kesal dengan ucapan Bu Ani, sedangkan Rani hanya menggelengkan kepala mendengar keributan kedua orang paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Rani, katanya kamu mau menikah ya sama Pak Rangga bosnya Winda itu boleh minta pekerjaan buat Eneng di sana," ucap Bu Hasanah.


"Aduh, kalau masalah itu aku belum berani Bu nanti tanyanya sama Mas Rangga langsung aja," ucap Rani.


"Kamu emang nggak punya simpati sama teman sendiri masa cuman minta dicariin kerjaan aja dari tadi nolak terus sih," ucapan Hasanah dengan nada yang mulai meninggi.


"Maaf bukannya menolak tapi memang di sini belum ada kerjaan dan di tempatnya mas Rangga saya belum berani berbicara sejauh itu sama calon suami saya," ucap Rani.


"Kamu sombong nggak mau membantu tetangga yang sedang kesusahan padahal baru punya harta segini terus baru mau dinikahi belum jadi benar-benar dinikahi sama bos itu," ucap Bu Hasanah Seraya berjalan keluar dari warung nasi Rani.


Tiga orang karyawan yang membantu Rani di warung nasi hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya jika ada orang seperti Bu Hasanah, memaksa meminta kerjaan ujung-ujungnya menghina bosnya mereka.


"Bu Rani sabar banget sih ngehadapin durhasanah kalau kayak saya sih udah dijejelin sama cabe setan tuh mulutnya Bu Hasanah," ucap Dinda.


Rani hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus dengan pekerjaannya karena ada beberapa orang yang baru saja datang dan meminta menu makanan.


Sementara di sisi lain.


Rangga begitu antusias mempersiapkan Perta pernikahan nya dengan Rani yang akan di adakan sebulan lagi.


"Mah temani aku ke toko perhiasan ya, pilihkan cincin pernikahan yang cantik untuk Rani," ucap Rangga meminta pada mamahnya.


"Kapan mau belinya?" tanya Mamah indah.


"Sore ini kalau mamah gak sibuk," ucap Rangga.

__ADS_1


"Ayo, Mamah gak sibuk, di rumah juga cuma merawat bunga bunga di taman," ucap Bu indah.


"Ya sudah kalau gitu mamah siap siap aja dulu," ucap Rangga.


Mamah Indah mengangguk lalu ia berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian dan segera menemani anaknya untuk mencari cincin pernikahan dan juga mencari pernak pernik pernikahan lainnya.


"Kamu sudah mencari undangan yang bagus belum?" tanya Mama indah.


"Sudah ada beberapa pilihan dan aku sudah mengirimkan gambarnya kepada Rani hanya tinggal menunggu jawaban Rani mau pakai undangan yang mana," ucap Rangga.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju tempat perhiasan yang bisa Rangga pesan untuk membuat cincin pernikahan dia dengan Rani.


"Bagus, apapun itu kamu harus meminta pendapat Rani, Mama semakin suka kepada dia setelah melihat secara langsung orangnya sangat cantik dan santun ya kalau melihat cara dia berbicara sangat damai semoga dia adalah jodoh terakhir mu Rangga," ucap mamah Indah.


"Aamiin, Aku juga berharap seperti itu mah, semoga dia jodoh terakhirku dan dia juga anak-anaknya bisa memberikan kebahagiaan untuk hidupku," ucap Rangga.


Rangga memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan, lalu ia membukakan pintu mobil untuk mamahnya kemudian mereka berjalan menuju toko perhiasan tersebut.


"Rani itu berkepribadian sangat sederhana maka kita juga harus memberikan cincin yang sesuai dengan kepribadiannya walaupun sederhana tapi terlihat Anggun dan berkelas," ucap Mama indah.


"Aku yakin Mama yang lebih mengerti makanya aku meminta Mama untuk menemaniku memilih cincin untuk Rani," ucap Rangga.


Mamah Indah tersenyum lalu mereka kembali memilih-milih perhiasan yang ada di toko tersebut.


Tiba-tiba ada seorang wanita yang datang dan menyapa Rangga.

__ADS_1


"Pak Rangga, kebetulan ya kita ketemu di sini wah jangan-jangan kita jodoh nih soalnya udah dua kali ketemu secara kebetulan," ucap wanita cantik berpenampilan seksi.


Mama Indah hanya memicingkan matanya melihat penampilan wanita yang sedang menyapa anaknya itu, sedangkan Rangga merasa risih melihat kedatangan wanita tersebut.


__ADS_2