Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
27. orederan Tia


__ADS_3

"Hei Ngapain kamu di situ kalau mau beli jangan di situ di tempat pelanggan aja," ucap Rani menegur seseorang yang berada persis di depan etalase.


Rani terkejut melihat orang tersebut ternyata orang itu adalah Bu Hasanah tetangganya yang suka nyinyir.


"Kok jutek amat sih Ran orang jualan nanti jualan kamu nggak laku loh," ucap Bu Hasanah.


"Maaf tak kalau perkataan Aku terdengar jutek, tapi Ibu berdiri tidak pada tempatnya, emangnya Ibu mau beli apa?" tanya Rani.


"Aku nggak jadi beli Aku sebel sama kamu jutek banget sih abisnya," ucap Bu Hasanah seraya berjalan menjauh meninggalkan Rani dan juga warungnya.


Rani hanya menggelengkan kepala melihat tingkah tetangganya yang sangat tidak sopan tersebut, Riska dan Rama keluar rumah hendak berangkat bekerja Ia pun bertanya ada keributan apa pagi-pagi.


"Itu Bu Hasanah masak mau beli makanan tapi dia berdirinya di tempat kakak biasa m melayani pelanggan kan aneh, Kalau memang dia mau beli kan bisa duduk di kursi depan tempat para pelanggan menunggu," ucap Rani menjelaskan kepada kedua adiknya.


"Aku sih yakin dia nggak mungkin mau beli, pasti dia ada niat jahat deh coba Kakak periksa makanan Kakak siapa tahu nanti ada kecoanya atau ada apa gitu disimpan sama dia di dalam makanan Kakak biar makanan Kakak nggak laku," ucap Riska.


"Hus nggak boleh suudzon gitu sama orang apalagi dia kan tetangga kita juga, lagian etalasenya Kakak kunci kok dan kuncinya ini kakak bawa di kantong," ucap Rani.


"Syukur deh kalau kayak gitu pasti dia nggak akan bisa berkutik, Ya udah kalau gitu aku berangkat kerja ya Kak," ucap Riska.


"Iya hati-hati di jalan," ucap Rani.


Riska dan Rama pun berangkat bekerja, Bintang bersama Emak seperti biasa sedangkan Rani sudah mulai berputar di warung nasinya, 1 2 pelanggan mulai berdatangan hingga siang hari masakan Rani hampir setengahnya habis.


"Alhamdulillah kalau setiap hari ramai aku bisa cepat-cepat melunasi hutang ku kepada Riska dan Rama, aku juga bisa nabung buat biaya lahiran dan buat biaya hidupku dengan anak anakku nanti," gumam Rani.


senyum terus mengembang kalau melihat para pelanggan yang terlihat sangat menikmati makanan yang dijual oleh Rani, pelanggan sangat menyukai makanan Rani selain enak tempatnya bersih dan Rani pun sangat ramah dalam melayani pelanggan.


hingga tiba waktu dzuhur, Rani meninggalkan warung nasinya sejenak untuk melakukan ibadah salat zuhur, sesibuk apapun dia ia tidak ingin meninggalkan ibadahnya kepada Tuhan.


setelah selesai salat zuhur Rani kembali ke warung nasinya dan ternyata teman smp-nya yang bernama Tia sudah berada di warung nasinya bersama dengan suami dan kedua anaknya.


"Udah lama nunggu?" tanya Rani.

__ADS_1


"Baru aja sampai kok kamu habis salat zuhur ya katanya," ucap Tia.


"Iya mumpung udah agak sepi jadi aku salat dulu nanti kalau pas lagi rame aku nggak bisa gerak kemana-mana cuma bisa diam di sini aja," ucap Rani.


"Wah kayaknya emang warung nasi kamu langsung rame aja ya rezeki Dede utun tuh kayaknya," ucap Tia.


Rani tersenyum dan mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit, Ia tersadar dengan ucapan Tia.


"Iya bener mungkin ini rezeki dedek utun, eh ngomong-ngomong mau beli apa nih?" ucap Rani.


"Pah kamu mau beli apa?" tanya Tia pada suaminya.


Tia dan suaminya pun memesan makanan juga untuk kedua anaknya, Rani menyajikan makanan pesanan Tia lalu dia dan keluarga kecilnya pun menikmati makanan tersebut.


"Wah enak ya Pah nggak kalah lho sama masakan yang dijual dengan harga mahal," ucap Tia.


"Iya bener Pah," ucap Suami Tia.


"Pah gimana kalau untuk acara syukuran minggu depan pesan makanan dari sini aja pah?" tanya Tia.


setelah selesai makan dia pun membayar makanan tersebut kepada Rani.


"Kok murah banget sih Ran emang kamu nggak rugi jual segini?" tanya Tia yang keheranan saat membayar makanan dan ternyata harganya sangat murah bagi Tia.


"Enggak rugi kok masih ada sedikit keuntungannya, biar sedikit kan kalau lama-lama menjadi bukit," ucap Rani.


"Iya kamu bener sih, Oh iya kalau aku mau pesan makanan buat acara syukuran Kamu bisa nggak Ran kayak nasi box gitu loh," ucap Tia.


"Bisa dong ini ada pricelistnya sebentar aku ambilkan," ucap Rani.


Rani mengambil price list harga paketan yang biasa digunakan Winda untuk menawarkan paket bekal kepada teman pabriknya, lalu ia berikan kepada Tia, dia membawa pricelist itu ke hadapan suaminya dan mereka membaca secara bersamaan.


"Ini bener harga segini?" tanya suami dia tak percaya dengan list harga tersebut.

__ADS_1


"Iya tadi aja aku bayar yang kita makan itu murah loh Pah," ucap Tia.


"Ya sudah pesan 100 box saja buat yang paket A," ucap suami Tia.


"Okey," ucap Tia.


Tia kembali berjalan menghampiri Rani yang sedang melayani pelanggan lainnya, setelah melihat Rani telah selesai melayani pelanggan Tia pun berbicara kepada Rani.


"Ran aku pesan paket A 100 box ya untuk minggu depan," ucap Tia.


"100 box?" tanya Rani tak percaya.


"Iya Ran, bisa kan? soalnya anak sulung aku kan ulang tahun minggu depan niatnya kami mau undang anak yatim dan bagi-bagi makanan itu," ucap Tia.


sesaat Rani tertegun mendengar ucapan Tia, namun dalam sekejap ia mengganggukan kepalanya.


"Bisa, bisa kok Tia," ucap Rani menyanggupi.


"Oke kalau gitu sekarang aku DP setengahnya dulu ya nanti sisanya aku bayar pas pengambilan makanan oke," ucap Tia.


"Gak usah pakai DP juga nggak apa-apa kok, nanti bayarnya kalau makanan sudah jadi semua," ucap Rani tentu saja hal itu ditolak oleh Tia.


karena dia merasa kasihan kepada Rani yang kini sedang mengandung tapi berjuang sendiri mencari nafkah untuk anak dan juga bayi dalam kandungannya.


Rani pun akhirnya menerima DP dari Tia setelah dia dan keluarganya pulang Rani berkali-kali mengucap syukur kepada Allah atas rejeki yang dikirim lewat Tia.


"Alhamdulillah ya Allah, mungkin ini yang disebut banyak teman banyak rezeki, semoga engkau mempermudah usahaku dan selalu meridhoi setiap perjuanganku, aamiin," gumam Rani.


Rani senang kalau usahanya sudah menunjukkan suatu kemajuan ia berharap suatu saat nanti memiliki rumah makan yang lebih besar daripada warung nasi yang kini menjadi tempat penghasilannya.


***


sementara di sisi lain.

__ADS_1


"Pak RT jangan diem aja dong Ini udah nggak bener, dia tiap malam loh bawa perempuan ke rumah ini masa mau kita diemin kayak gitu aja,"


__ADS_2