
"Biar aku aja yang buka pintu Kak, Kakak lagi hamil katanya pamali keluar malam," ucap Riska saat melihat Rani hendak berdiri dan membuka pintu, Rani mengangguk akhirnya Riska yang membukakan pintu dan melihat siapa yang datang bertamu malam-malam.
"Ustadzah Hafsah? Ada perlu apa ya bertamu ke rumah kami malam-malam?" tanya Riska.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu nak Riska, saya datang ke sini untuk memesan makanan kepada mbak Rani mbak Rani ada nggak ya?" ucap ustadzah Hafsah.
"Ada ustadzah silakan masuk, bicara langsung saja dengan kakak saya," ucap Risma mempersilahkan ustadzah masuk rumahnya.
Ustadzah Hafsah dan anak laki-lakinya yang bernama Faiz pun masuk ke dalam rumah Riska mengekori langkah wanita cantik tersebut.
"Kak Rani Ada ustadzah hafsah ingin bertemu dengan Kak Rani," ucap Riska.
Rani yang tadinya sedang berkumpul di depan TV ruang keluarga pun bangkit dari duduknya dan menuju ruang tamu untuk menemui ustadzah Hafsah.
"Assalamualaikum Mbak Rani," ucap ustadzah Hafsah.
"Waalaikum salam, ustadzah," jawab Rani.
"Maaf ya saya datang mengganggu malam malam, niat saya kesini mau pesan makanan untuk besok pagi, anak saya Faiz yang baru saja pulang dari pesantren ingin berbagi rezeki kepada orang-orang di sekitar dengan membagikan nasi bungkus sekalian kan besok hari Jumat Jadi kami melakukan kegiatan Jumat berkah," ucap ustadzah Hafsah.
"Oh, Alhamdulillah jika ustadzah bersedia memesan makanan kepada saya dan mempercayakan pesanan kepada saya, Kalau boleh tahu ustadzah mau pesan berapa porsi untuk besok pagi?" tanya Rani.
"Insyaallah saya percaya, karena kata para tetangga masakan Mbak Rani ini murah dan juga enak, saya inginnya pesan 200 nasi box kalau bisa selesai sebelum dzuhur ya mbak," ucap ustadzah Hafsah.
"200 nasi box ustadzah?" tanya Rani sedikit tidak percaya.
"Iya Mbak Rani, apakah tidak bisa?" tanya ustadzah Hafsah.
"Bisa, insya Allah bisa ustadzah saya akan usahakan sebelum dzuhur pesanan ustadzah sudah selesai saya kerjakan," ucap Rani penuh semangat.
"Kalau boleh tahu apa ada price list harga untuk nasi box nya Mbak Rani?" tanya ustadzah Hafsah.
"Astaghfirullahaladzim saya sampai lupa ustadzah Tunggu sebentar saya ambilkan dulu ya," ucap Rani.
__ADS_1
Ustadzah Hafsah tersenyum dan mengangguk kemudian Rani berdiri dan berjalan menuju warung nasinya yang sebenarnya sudah tutup, Iya mengambil price list di dalam warung nasi tersebut untuk ditunjukkan kepada ustadzah Hafsah dan juga anaknya.
"Ini ustadzah silakan dilihat," ucap Rani seraya mengulurkan tangannya memberikan price list nasi box miliknya.
ustadzah Hafsah dan anaknya melihat dan membaca pricelist tersebut lalu mereka seperti sedang berunding.
"Abang pilih paket yang mana?" tanya ustadzah Hafsah pada anaknya.
"Yang paket A saja umi kita berbagi yang paling baik untuk sesama," ucap pria tampan dengan tatapan teduh yang tak lain anak dari ustadzah Hafsah tersebut.
Diam-diam Riska mencuri pandang kepada anak ustadzah Hafsah yang begitu tampan dan penampilannya menyejukkan mata, tutur katanya pun sangat santun.
"Mbak Rani anak saya pilih paket A jadi untuk besok 200 box paket A ya Mbak Rani sebelum dzuhur sudah beres ya," ucap ustadzah Hafsah.
"Baik ustadzah saya akan kerjakan, terima kasih banyak sudah percaya memesan nasi box di tempat saya," ucap Rani.
"Sama-sama Mbak Rani ini saya bayar langsung saja semuanya ya Jadi besok akan ada orang saya yang mengambil nasi box tersebut ke sini sebelum dzuhur, biar bisa dibagikan ketika selesai salat zuhur," ucap Faiz anak dari ustadzah Hafsah.
Faiz mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar Soekarno Hatta dari dalam dompetnya ia menghitung jumlah uang tersebut dan melebihkan dari harga yang harusnya ia bayar kepada Rani.
"Panggil saja Faiz karena pasti umur saya lebih muda dari Mbak, sisa enggak apa-apa buat anak Mbak saja," ucap Faiz.
"MasyaAllah, tapi ini kembaliannya banyak banget Faiz," ucap Rani.
"Gak itu rezeki dari Allah untuk anak mbak, saya dan umi pamit pulang ya karena kami masih ada keperluan lain," ucap Faiz.
Ustadzah Hafsah dan Faiz pun pulang, setelah kepulangan ustadzah Hafsah dan juga anaknya mata Rani berkaca-kaca dan memeluk anaknya Bintang.
"Ya Allah, lihatlah nak Allah begitu baik kepada kita, baru sekejap Ibu berusaha untuk membahagiakan kamu dan berjuang menghidupi kamu tapi Allah langsung membukakan jalan yang begitu mudah untuk ibu," ucap Rani tak lagi mampu membendung air matanya, ia menciumi pipi gembul milik anaknya.
"Itu rezeki wanita solehah, anak sholeh dan juga rezeki Dede utun, lewat malaikat tampan yang tiba-tiba datang ke rumah kita Kak," ucap Riska seraya membayangkan kembali wajah Faiz yang tampan dan menenangkan hati.
"Iya dek, Alhamdulillah kakak sangat bersyukur, kakak doain kamu punya suami seperti Faiz yang tampan dan juga baik hati," ucap Rani.
__ADS_1
"Aamiin paling kenceng kalau itu mah Kak," ucap Riska membuat seluruh keluarganya terkekeh mendengar ucapan Riska.
Waktu berganti begitu cepat, jam 02.00 pagi Rani sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan segala pesanan ustadzah Hafsah dan juga anaknya.
"Duh 200 nasi box pesanan ustadzah Hafsah, 20 nasi box pesanan Winda, kayaknya hari ini warung nasi Aku tutup dulu deh cuma buat pesanan aja jadinya," gumam Rani seraya memasak.
Pesanan Winda terlebih dahulu Rani utamakan karena pesanan Winda itu diambil pagi hari sebelum Winda berangkat kerja sedangkan pesanan ustadzah Hafsah akan diambil siang hari.
"Selesai pesanan Winda," gumam Rani seraya memperlihatkan senyumnya yang sangat manis.
Rani kembali berkutat di dapur untuk mempersiapkan segala pesanan ustadzah Hafsah.
Hingga akhirnya siang hari ada pelanggan yang biasa datang ke warung nasi Rani.
"Mbak Rani warung nasinya tutup sih Mbak?" tanya pelanggan tersebut yang merupakan kulit di sebuah proyek pembangunan perumahan di dekat pemukiman warga.
"Iya pak, saya ada pesanan yang cukup banyak jadi tidak sempat untuk membuat makanan untuk dijual," ucap Rani.
"Yah, nggak bisa makan masakan Mbak Rani dong hari ini, besok jualan nggak Mbak kalau besok nggak jualan kita mau cari tempat makan yang lain walaupun di sini yang paling enak dengan harga yang paling terjangkau," ucap salah satu orang tersebut.
"Besok insya Allah buka kembali kok pak cuma hari ini aja saya agak kerepotan karena pesanannya yang banyak," ucap Rani.
"Mbak, masakan Mbak itu kan enak dan juga murah pasti akan makin banyak yang pesan sama Mbak mendingan Mbak cari karyawan aja buat bantu-bantu biar nggak kerepotan Mbak jadi pesanan bisa dibuat warung juga tetap buka buat kita makan di sini," ucap salah satu orang tersebut.
Rani setuju dengan usulan dari orang tersebut, hari ini cukup melelahkan untuk Rani namun ia puas karena kerjaannya telah selesai dan menghasilkan banyak keuntungan untuknya, dia juga memiliki lebih banyak waktu dengan anaknya karena setelah dzuhur semua pekerjaannya dari mulai memasak, packing dan membersihkan sisa-sisa alat dapur sudah selesai.
Rani sangat bersyukur karena Allah memberikan kemudahan di setiap langkahnya, mungkin ini adalah buah dari kesabaran yang selama ini Rani jaga.
sore hari ketika Riska pulang kerja Riska langsung berteriak heboh kepada Rani.
"Kak, Kak Rani, Kak Rani di mana," teriak Riska.
"Astaghfirullah, Ada apa sih Ris teriak-teriak pulang kerja tuh assalamualaikum jangan teriak-teriak seperti itu," ucap Rani menegur adiknya.
__ADS_1
"Iya Maaf aku lupa sangking semangatnya ingin memberitahukan berita viral untuk kakak," ucap Riska.
"Berita viral Apa sih yang bikin kamu sampai lupa mengucap salam saat pulang kerja?" tanya Rani.