Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
20. kesedihan


__ADS_3

"Beneran ya Kakak hamil?" tanya Riska.


Rani hanya mampu menanggukan kepalanya matanya sembab air matanya tidak bisa ditahan untuk tidak mengalir di pipi mulusnya.


"Kakak kebobolan tadinya kakak berhenti KB karena kakak ingin mengurus diri agar tidak mau badan kakak bertambah gemuk Hal itu membuat Bang Ridwan selalu menghina kakak, itu sebabnya Kakak berhenti KB lalu kakak ikut senam dan badan kakak menjadi langsing juga terawat lagi, Sejak saat itu bang Ridwan mulai berubah dia tidak terlalu kasar kepada kakak dan kakak pikir hubungan kita membaik, sampai kami melakukan hubungan suami istri tanpa Kakak sadari Kakak lupa kalau kakak tidak KB dan akhirnya Kakak hamil lagi," ucap Rani.


Riska, Rama, ibunya pun hanya bisa menghela nafas kasihan melihat keadaan Rani saat ini, Rani yang selalu baik dan selalu memberikan apa yang diinginkan oleh keluarganya kini disakiti oleh suaminya.


"Kakak pikir kalau kakak berubah menjadi cantik dan tidak gemuk lagi Bang Ridwan akan berubah tapi nyatanya saat tahu kakak hamil dia kembali berulah dia kembali selingkuh dan berkata kasar terhadap kakak, hampir sempat kakak ingin menggugurkan kandungan ini karena tidak tahan dengan sifat Bang Ridwan dan Kakak takut anak ini akan lahir dan kakak tidak bisa mencukupi biayanya untuk hidup selanjutnya sedangkan Bintang pun masih kecil," ucap Rani.


" Astaghfirullahaladzim Kakak itu dosa Anak itu tidak bersalah yang berdosa Itu papahnya, anak itu berhak untuk hidup di dunia ini Kak Dia itu titipan Tuhan kenapa Kakak berpikir sempit sih," ucap Rama.


Rani menangis tergugur mengingat kebodohannya, Untung saja ada Mbak Intan yang selalu menasehatinya sehingga dia tidak jadi menggugurkan kandungannya, Seandainya saja kandungannya itu Iya gugurkan maka ia sangat merasa bersalah kepada anak yang sekarang ada dalam kandungannya.


"Iya Kakak sadar kalau itu semua salah, Untung ada Mbak Intan yang selalu menenangkan hati kakak dan juga menasehati kakak untuk tidak melakukan hal itu," ucap Rani seraya terisak.

__ADS_1


"Mak Maafkan Rani ya Mak, sudah sebesar ini Rani bukannya membahagiakan Emak tapi malah memberikan beban kepada Emak Dan juga adik-adik Rani," ucap Rani seraya terisak dalam pelukan wanita yang melahirkannya.


Emak terus mengusap punggung Rani membiarkan Rani menangis dalam pelukannya agar Rani lebih tenang, selama pernikahannya beberapa tahun bersama Ridwan Rani tidak pernah mengeluh apalagi menceritakan tentang keburukan sang suami Emak berpikir kalau rumah tangga mereka baik-baik saja, ternyata menderita seperti itu.


"Kamu sudah membahagiakan emak adik-adik kamu, kamu sudah menjadi anak dan kakak yang baik untuk kami, bahkan kamu yang menyekolahkan adik-adik kamu sampai mereka lulus, Jangan pernah merasa kamu menyusahkan emak, sampai kapanpun kamu tetap anak dan Emak akan menerima kamu kapanpun kamu mau kembali ke rumah ini," ucap Emak.


Suasana di rumah itu berubah menjadi Sendu dan juga adik-adik Rani merasa sangat Terpukul dengan kenyataan yang tidak ditarani mereka tidak menyangka jika Ridwan memperlakukan Rani sedemikian rupa mereka pikir selama ini berani hidup bahagia Walaupun dalam keadaan pas-pasan seperti pasangan suami istri pada umumnya, tapi ternyata Ridwan sangat keterlaluan bukan hanya tidak menafkahi Rani dengan baik tapi Ridwan juga sering berselingkuh dan menyakiti perasaan Rani Hal itu membuat adik-adik Rani sangat membenci Ridwan saat ini.


"Makasih emak, Rani merasa beruntung punya Emak Dan juga adik-adik, setelah ini Rani mau buka warung nasi aja di sini ya Ma adik-adikan sudah kerja, kalau berani buka warung di sini kan Bisa sambil jagain Bintang nanti Rani bilang sama Mbak Intan kalau Rani Berhenti bekerja di rumah dia," ucap Rani.


"Sudah kak, nggak usah pikirin mau jualan dulu Kakak kan lagi hamil dan juga mengurus bintang yang masih kecil, Kalau masalah biaya sehari-hari kan ada aku dan juga Riska yang sekarang sudah bekerja, insya Allah kita tidak akan kekurangan biaya hidup sehari-hari kak," ucap Rama.


"Tidak apa apa Ram, lagian kan dari dulu Kakak memang suka memasak dan kayaknya ini nggak akan terasa berat karena Kakak memang suka, untuk bintang kan ada emak yang bisa bantu jaga, kamu dan juga Riska kan punya kebutuhan masing-masing tidak mungkin untuk bintang dan biaya sehari-hari Kakak meminta terus sama kalian," ucap Rani.


"Ya sudah kalau memang mau kakak seperti itu, tapi jangan diportir tenaga Kakak ya, masih ada kami kok kalau Kakak memang butuh kakak dulu yang menyekolahkan Kami sekarang waktunya kami balas budi kepada kakak," ucap Rama.

__ADS_1


"Kakak tidak butuh kalian untuk balas budi, melihat kalian sudah hidup senang dan juga enak Kakak sudah merasa sangat senang," ucap Rani.


"Terima kasih Kak, Kakak memang adalah malaikat buat kami berdua Kami juga akan menyayangi Bintang dan juga anak dalam kandungan kakak kita lewati hari-hari bersama seperti dulu lagi ya Kak," ucap Riska.


Riska dan Rani saling berpelukan rasanya sangat haru dalam ruangan tersebut Bintang hanya dapat menatap bibi dan juga ibunya dengan rasa ingin tahu mengapa mereka menangis dan saling berpelukan.


"Jadikan kisah Rani sebagai pelajaran hidup kalian, Riska Jika kamu nanti memilih suami Pilihlah dari yang akhlak dan agamanya baik meskipun dia tidak kaya setidaknya jika orang yang punya akhlak dan juga ilmu agama dia tidak akan pernah menyakiti seorang wanita karena pasti dia tahu menyakiti seorang wanita apalagi wanita itu istri dan juga ibunya itu akan sangat dosa besar, dan kamu Rama Jika kamu sudah menjadi seorang suami maka Bertanggung Jawablah terhadap istri dan anak-anak kamu jangan sekali-kali kamu menyakitinya jika Satu Kali Saja air mata keluar dari istrimu maka hidupmu tidak akan berkah semua yang kamu lakukan tidak akan mendapat ridho dari Tuhanmu," nasehat emak kepada anak anaknya.


Rama dan Riska mengangguk mereka mematuhi dan memahami apa yang dikatakan emaknya Rani mengusap Air mata di pipinya dia mengambil handphonenya hendak menghubungi Intan karena ingin mengatakan Jika dia tidak dapat lagi bekerja di rumah Intan.


Tut tut tut.


Suara dering handphone panggilan dari Rani kepada Intan beberapa saat kemudian Intan mengangkat teleponnya.


" Halo Mbak, maaf aku mau ngabari lewat telepon, aku kan sudah tidak tinggal di tempat Bang Ridwan lagi karena aku sudah ditalak, sedangkan rumah Ibuku jauh dari rumah mbak, Jadi sepertinya aku sudah tidak bisa bekerja di rumah mbak lagi," ucap Rani.

__ADS_1


" Oh begitu ya Ran, Sebenarnya aku lagi butuh banget karena kan sebentar lagi aku mau lahiran jadi aku butuh untuk yang cuci dan juga setrika baju Okelah kalau kamu memang mau berhenti, nggak apa-apa Tapi ada syaratnya," ucap intan.


" Apa syaratnya Mbak?" tanya Rani.


__ADS_2