
"Ibu mertuamu jatuh dari ranjang Ran," ucap tetangganya.
"Apa, kenapa bisa seperti itu," ucap Rani terkejut.
Rani berlari sambil menggendong Bintang, sesampainya di rumah warga sudah berkumpul melihat bu Minah yang tergeletak di lantai dengan darah mengalir.
"Ya Allah ibu, ibu kenapa bisa seperti ini," Rani mencoba membangunkan ibu mertuanya ia mencari dari mana sumber keluarnya darah, ternyata dari mulut mertuanya, Rani tidak mengerti mengapa darah segar mengalir tidak berhenti dari dalam mulut mertianya sepeti ada robekan di daging dalam mulutnya.
"Pak, bu tolong bantu saya bawa ibu ke rumah sakit, darahnya tidak berhenti mengalir meski sudah di tutup dengan kain," ucap Rani meminya bantuan pada tetangganya.
Akhirnya beberapa warga laki-laki menggotong bu Minah keluar rumah, dan rupanya mobil milik Intan sudah bertengger di depan rumah Rani.
"Bawa masuk mobil saya pak, biar saya antar ke rumah sakit," ucap Intan.
"Makasih banyak ya Mbak," ucap Rani.
Intan, Rani dan dua orang warga membawa bu Minah ke rumah sakit terdekat, sengaja dua orang laki laki ikut karna takut Rani dan Intan tidak kuat menggotong tubuh bu Minah yang berat.
Sesampainyadi rumah sakit bu Minah langsung masuk ruang UGD dan langsung di tangani.
"Ran, hubungi suami kamu, dia harus tau keadaan ibunya," ucap Intan.
"Oh iya Mbak, hampir saja saya lupa karna panik dengan keadaan ibu," ucap Rani.
Rani pun menelpon suaminya namun berkali kali panggilan teleponnyadi abaikan oleh suaminya padahal ini jam istirahat.
"Kok ga di angkat angkat, apa dia sedang kerja," ucap Rani.
Intan melihat benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini jam istirahat loh Ran," ucap Intan.
Intan tau karna sebenarnya bekerja di pabrik yang sama dengan Ridwan, namun beda bagian, hanya saat ini Intan sedang cuti karna ia hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan.
"Coba di telepon lagi Ran," ucap Intan.
__ADS_1
"Iya Mbak," ucap Rani.
Dan panggilan yang kesekian kalinya akhirnya di angkat oleh Ridwan, Rani pun segera memberi tahu Ridwan tentang kondisi mertuanya, Ridwan segera bergegas ke Rumah sakit saat Rani mengabarkan hal tersebut.
"Kenapa bisa masuk rumah sakit, apa yang terjadi kamu dasar menjaga ibu saja tidak becus," ucap Ridwan saat sampai rumah sakit.
"Aku ga tau Bang, biasanya ibu diam di tempat tidur gak pernah bergerak, tapi hari ini entah apa yang ibu lakukan sampai ibu jatuh di kamar," ucap Rani.
"Ya itu namanya kamu ga becus jagain ibu," bentak Ridwan.
Selalu seperti itu, di setiap situasi Rani yang selalu di salahkan oleh Ridwan tanpa Ridwan mau mendengar penjelasan sang istri, tak lama kemudian seorang petugas kesehatan keluar dari ruang UGD.
"Keluarga ibu Minah," ucap seorang dokter.
Rani dan Ridwan mendekat kepada dokter tersebut.
"Bu Minah datang dengan kondisi pendarahan dari dalam rongga mulut, ada pembuluh darah yang bocor sehingga pendarahan sulit di hentikan, tensi darahnya sangat tinggi, dan usianya yang sudah renta membuat kondisi tubuhnya kian melemah, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tuhan berkehendak lain, bu Minah menghenbuskan nafas terakhir di hari Rabu pukul 14.00 WIB, Kami turut berduka cita," ucap dokter tersebut.
"Innalillahi wa inailaihi rajiun, ibu Maafkan Rani bu," lirih Rani sambil terisak memeluk Bintang.
"Semua ini gara-gara kamu Rani, ibu meninggal karna kamu tidak becus menjaganya," bentak Ridwan.
"Stop Ridwan, kamu tidak seharusnya menyalahkan Rani terus, kepergian ibu mu sudah takdir, Rani selama ini sudah menjadi istri yang baik selalu merawat ibumu," ucap Intan.
"Kamu siapa, ngapain belain istri saya dan ikut campur rumah tangga saya," sarkas Ridwan.
"Saya memang bukan siapa siapa, hanya tetangga jalan, tapi sebagai sesama wanita saya tidak suka jika seorang suami selalu menyalahkan istrinya, padahal istrinya sudah berusaha menjadi istri yang baik meskipun suaminya orang brengsek," ucap Intan yang terlanjur kesal dengan sikap kasar Ridwan.
"Berani sekali kamu mengatakan saya berengsek," ucap Ridwan, ia melayangkan tangannya hendak menampar Intan namun sudah lebih dulu di cekal oleh seseorang.
"Jangan berani berani menyentuh istri saya," ucap seorang yang menghempaskan tangan Ridwan, ia adalah Bagas suami dari Intan.
Bagas panik saat mendengar istrinya pergi ke rumah sakit, ia pikir istrinya akan melahirka, ternyata mengantar mertua Rani, ia begitu geram saat melihat Ridwan memaki istrinya dan hampir saja menamparnya.
"Ajari istri Anda agar menjaga mulutnya," ucap Ridwan tersungut emosi.
__ADS_1
"Saya Rasa ucapan istri saya benar, semua tetanga sudah tau dengan sikapmu pada istri dan ibumu, bagaimana kamu di luar sana jadi yang di bilang istri saya itu tidak salah, anda memang lelaki brengsek," ucap Bagas.
"kurang ajar, kalian suami istri sama saja," ucap Ridwan kesal.
Seorang petugas kesehatan datang melerai pertikaian adu mulut antara Ridwan dan Bagas.
"Maaf pak ini rumah sakit, tolong jangan bertengkar di sini, mengganggu ketenangan pasien yang lain, dan keluarga bu Minah silahkan selesaikan administrasi," ucap petugas medis tersebut.
"Maaf sus jika terjadi keributan itu karna orang ini yang tidak punya etika, sudah di bantu istri saya membawa ibunya ke rumah sakit, bukan berterimakasih malah memaku istri saya," ucap Bagas.
Bagas membawa Intan pergi dari rumah sakit, meskipun Intan tidak tega kepada Rani namun Intan lebih memilih menurut pada suaminya yang terlanjur kesal pada Ridwan.
"Pak ini tolong berikan pada Rani kalau dia butuh sesuatu, jangan berikan pada suaminya ya, takut di gunakan untuk hal yang tidak tepat." ucap intan seraya memberikan amplop berisi uang kepada dua tetangga yang tadi ikut membantu.
Proses pemakaman bu minah di lakukan, ibu dan adik adik Rani pun datang ke pemakaman, Nurul dan anak anaknya juga datang.
Setelah pemakaman selesai mereka berkumpul untuk membahas masalah hutang piutang yang di miliki bu Minah.
Setelah bertanya pada tetangga ternyata bu Minah tidak memiliki hutang kepada tetangga.
"Alhamdulillah, semoga bu Minah tenang di sisi Allah karna semasa hidup ia baik kepada tetangga dan tidak punya hutang," ucap pak ustadz.
"Ibu saya memang baik, sayangnya yang ngurus gak becus jadi ibu saya meninggal karna istri saya tidak becus mengurusnya," ucap Ridwan.
"Astagfirullah, pak Ridwan jangan bicara seperti itu, ini sudah takdir, jodoh, maut, dan rejeki sudah di atur oleh Allah, istri pak Ridwan sudah sangat baik mau merawat ibu Minah yang hanya seorang mertua yang tidak ada ikatan darah dengannya, harusnya bapak berterimakasih karna istri bapak orang yang tulus," ucap pak ustadz.
Ridwan diam namun di hatinya mengumpat karna pak ustadz membela istrinya.
"Pak ustadz bolehkah saya bertanya," ucap Rani.
"Ya silahkan bu Rani," jawab pak ustadz.
"Bolehkan wanita yang sedang hamil meminta cerai pada suaminya?" tanya Rani.
Semua mata memandang ke arah Rani terutama Ridwan, karna pertanyaan yang Rani tanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan kepergian bu Minah.
__ADS_1