
Ridwan kebingungan harus seperti apa mengurus ibunya yang sakit dan tidak bisa apa-apa, di tambah sekarang ibunya sedang BAB, Ridwan semakin bingung harus bagaimana membersihkannya.
"Endi bersihkan kotoran nenekmu," ujar Ridwan.
"Ih gak mau yah, pasti bau banget," ucap Endi.
Bu Minah menarik nafas mendengar ucapan anak dan cucunya yang terlihat jelas tak meu mengurusnya.
"Rani kemana? Biasanya dia yang mengurus ibu," ucap bu Minah.
"Dia minggat, mungkin ke rumah orang taunya yang hampir roboh itu," ucap Ridwan.
"Astagfirullah, Ridwan pasti kamu nyakitin dia ya, dia itu wanita baik jangan kamu sakiti terus, belum tentu nanti kamu dapat pengganti yang seperti dia, dia tulus bahkan tak pernah mengeluh merawat ibu, mantan istrimu yang bertahun-tahun tinggal bersama dan menikmati uang hasil jualan ibu saja tidak mau mengurus ibu ketika ibu jatuh sakit, tapi Rani dia yang baru mengenal ibu tanpa pamrih mengurus ibu," ujar bu Minah panjang Lebar.
Dulu memang bu Minah berjualan sayur matang dan di jajakan di rumahnya, masakannya yang enak membuat jualannya selalu laris setiap hari, bahkan cucunya sering kali ia beri uang hasil jualan sayur matang tersebut, namun suatu kejadian membuat bu Minah kelelahan, tekanan darahnya tinggi dan ia jatuh di kamar mandi karena usianya yang sudah mulai renta akhirnya ia pun mengalami struk dan tak bisa lagi berkatifitas dan berjualan seperti dulu, karna bu Minah tidak berjualan maka ekonomi keluarga Ridwan mulai berantakan, di tambah menantu nya yang tak mau mengurus mertuanya yang sakit akhirnya meminta cerai dari Ridwan.
Anak perempuan bernama Indri ikut bersama Nurul, sedangkan anak lelaki bernama Endi ikut bersama Ridwan.
"Sudahlah Bu jangan di bahas lagi, sekarang Rani ga ada gimana aku mau bersihin ibu, pasti bau sekali," ucap Ridwan.
"Kamu harus minta maaf sama Rani, bawa dia kembali kesini, jangan sampai kamu kehilangan wanita sebaik Rani," ucap bu Minah.
'Benar juga kata ibu, aku harus minta maaf sama Rani, aku belum bisa kehilangan dia, ga ada yang ngurus ibu kalau ga ada dia,' gumam Ridwan dalam hati.
Akhirnya dengan berat hati Ridwan menutup hidungnya dengan kain, lalu membuka diapers besar yang di gunakan ibunya lalu memakaikan diapers baru tanpa membersihkan kotoran yang menempel oada kulit keriput ibunya.
Bu Minah hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan anaknya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Pagi harinya sebelum berangkat kerja Ridwan menyempatkan diri menyambangi rumah mertuanya untuk membujuk istriny agar kembali kerumahnya.
"kalau bukan karna ibu aku ga akan capek-capek kesini untuk membujuk perempuan itu," gumam Ridwan saat memarkirkan motor tepat di depan rumah mertuanya.
"Assalamualaikum," ucap Ridwan.
"Waalaikumsalam," jawaban dari dalam.
Mertuanya bu Ida datang membukakan pintu untuk Ridwan dan mempersilahkan Ridwan masuk.
__ADS_1
"Ridwan masuk dulu," ucap bu Ida.
Ridwan masuk kedalam rumah pagar itu, ia duduk di ruang tamu yang tidak ada sofa hanya tikar yang di gelar oleh mertuanya dan memberikan segelas air pada Ridwan.
"Sepi banget bu, pada kemana?" tanya Ridwan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya.
"Lina kerja, Rudi sekolah, Rani di kamar, kamu mau ketemu Rani?" tanya Bu Ida.
"Iya bu," ucap Ridwan.
"Tunggu ibu panggilkan," ucap bu Ida.
Ridwan mengangguk, bu Ida berjalan menuju kamar lalu memanggil anaknya.
"Neng, itu suamimu datang," ucap bu Ida pada Rani.
Rani bergeming masih mengingat ucapan suaminya yang membuat sakit hati semalam.
"Neng, apapun masalah rumah tangga hadapi dengan kepala dingin, jangan emosi, jangan kabur dan lari dari masalah, masalah ga akan habis malah bertambah banyak," nasehat bu Ida pada anaknya Rani.
Bu Ida selalu memanggil anak perempuannya dengan sebutan eneng, di daerahnya itu di artikan panggilan sayang pada anak perempuannya.
"Neng, suamimu datang kesini itu artinya masih memiliki niatan baik untuk memperbaiki masalah rumah tangganya," bu Ida masih menasehati.
Rani menghela nafas sejak datang tadi malam ke rumah ibunya ia tak bercerita secara keseluruhan masalah rumah tangganya, ibunya tak tau Ridwan yang selingkuh dan memperlakukannya dengan tidak baik, bu Ida mengira hanya masalah rumah tangga biasa seperti salah faham dan beda pendapat.
"Neng ayok temui suamimu dulu, jangan jadi istri yang keras kepala, itu tidak baik," ucap bu Ida.
Akhirnya Rani melangkah menemui suaminya meski perasaanya masih sangat sakit mengingat ucapan suaminya semalam.
"Ran, ayo pulang, Abang minta maaf," ucap Ridwan.
"Percuma minta maaf kalau kamu masih suka main perempuandi luar, dan kamu kasar sama aku bang," ucap Rani.
"Abang janji bakal berubah Ran, lagian apa kamu ga kasian sama ibuku, dia sangat membutuhkan kamu," ucap Ridwan.
Deg...
__ADS_1
Dada Rani berdebar saat mengingat ibu mertuanya, egonya semalam menutupi hatinya yang lembut, ia sejenak melupakan wanita renta yang sangat membutuhkannya.
"Bagaimana keadaan ibu bang?" tanya Rani.
"Dia tidak bisa tidur, selalu memanggil namamu Ran," ucap Ridwan berbohong.
Ridwan menatap wajah istrinya yang polos ia tau saat ini istrinya sedang merasa bersalah telah meninggalkan ibunya semalam.
"Ran pulang ke rumah ya, Abang janji akan berubah," bujuk Ridwan.
"Baik bang aku akan pulang, sekarang Abang mau kemana?" akhirnya Rani kembali luluh pada bujuk suaminya.
"Aku mau kerja, tapi aku sempatkan kesini untuk meminta maaf dan membujukmu kembali." ucap Ridwan.
Rani menghela nafasnya, ia tak yakin suaminya akan berubah, namun ia akan memberi kesempatan tentu semua demi anak dan juga mertua yang masih sangat membutuhkannya.
"Ya sudah Abang berangkat aja, nanti aku pulang sendiri," ucap Rani.
"Benar ya kamu pulang, kasian ibu nyari kamu terus," ucap Ridwan.
"Iya Bang," ucap Rani.
Ridwan pun tersenyum penuh kemenangan saat berhasil membujuk istrinya untuk kembali pulang, Ridwan pun dengan tenang melajukan motornya menuju temoat kerjanya.
Sementara Rani bersiap untuk pulanh ke rumah suaminya, ia juga mengingat bahwa ia punya kewajiban untuk bekerja di rumah Mbak intan.
Setelah memandikan Bintang dan anaknya iti sudah rapi, Rani berpamitan pada ibunya.
Rani pulang ke rumah suaminya menggunakan jasa ojek motor.
Setelah sampai di rumah suaminya ia langsung mencari keberadaan ibu mertuanya segera mendatangi kamar mertunya dan Rani sangat terkejut saat melihat kondisi ibu Mertuanya.
"Ya ampun ibu, kenapa bisa seperti ini," ucap Rani terkejut.
Mendengar suara menantu kesayangannya bu Minah pun menangis.
"Rani akhirnya kamu kembali Rani jangan tinggalin ibu," ucap bu Minah terisak.
__ADS_1
"Astagfirullah, ibu Maafkan Rani, ini salah Rani karna meninggalkan ibu, kenapa ibu bisa seperti ini," ucap Rani masih terkejut.