Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
31. Kebaikan Rani


__ADS_3

"Berita viral apa?" Rani mengulang pertanyaan.


"Ini mantan suami kakak di arak keliling kampung karena ketahuan berzina sama pacarnya terus besok siangnya dinikahin," ucap Riska seraya memperlihatkan video singkat di handphonenya.


Dalam video amatir yang disebar oleh akun warga tersebut memperlihatkan seorang lelaki hanya memakai celana boxer dan wanita yang hanya memakai pakaian dalam sambil terus menutupi bagian tubuhnya dengan tangan di arak keliling kampung oleh warga dan tak henti diteriaki.


Rani menutup mulutnya melihat video tersebut.


"Ya ampun Bang Ridwan sama Weny ini, kamu dapat video ini dari mana Riska?" tanya Rani.


"Dari temen aku yang masih satu kampung dengan mantan suami kakak, katanya semenjak Kakak nggak tinggal di sana terus anak-anak bang Ridwan tinggal sama ibunya, Jadi mereka berdua itu benar-benar bebas berduaan di rumah setiap malam, warga resah dong dengan kelakuan mereka akhirnya digerebek tuh sama Pak RT juga, pas lagi digerebek ya mereka memang lagi nggak pakai baju di dalam kamar berduaan terus langsung digiring dan diarak keliling kampung gitu katanya kak," ucap Riska menjelaskan apa yang pernah dijelaskan oleh temannya.


"Ya ampun Bang Ridwan itu ya nggak pernah berubah dari dulu, itu yang membuat Kakak nggak tahan sama dia dia selalu berselingkuh dengan perempuan lain bahkan melakukan zina di luar, sekarang malah dibawa ke rumah itu," ucap Rani.


"Untung pisah dari lelaki kayak gitu, aku doain nanti kakak dapat suami yang lebih segala-galanya daripada dia," ucap Riska.


"Kakak nggak mau mikirin ke sana dulu lah yang penting usaha Kakak lancar anak Kakak sehat dan yang ada di dalam kandungan kakakku sehat sampai dia lahir ke dunia," ucap Rani.


"Aamiin," jawab Riska.


Waktu tak terasa kini malam datang menyapa, Rani mengistirahatkan tubuhnya dan pikirannya menyambut esok pagi berharap esok akan lebih baik daripada hari sebelumnya.


Hari Minggu pun datang waktunya Rani membuatkan pesanan Tia, Rani masih sendiri belum dibantu oleh siapapun, hanya Riska yang sesekali membantu untuk packing-packing saat Rani selesai membuat masakan yang dipesan oleh Tia.


"Sudah selesai semua nih Kak?" tanya Riska.


Rani dengan serius menghitung dan mengecek apakah pesanan Tia sudah sesuai atau belum, bertepatan dengan selesainya Rani mengecek pesanan tersebut orang suruhan Tia sudah datang.


"Assalamualaikum," ucap orang tersebut.

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab Rani dan Riska.


"Bu, saya orang suruhan ibu Tia yang akan mengambil pesanan Ibu Tia di sini apakah pesanan Ibu Tia sudah selesai dan bisa saya bawa?" tanya orang tersebut.


"Oh iya Pas banget ini pesanannya sudah selesai," ucap Rani.


Orang suruhan Tia pun memberikan sisa uang pembayaran dan mengambil pesanan Tia, setelah orang suruhan dia pergi Rani pun melihat jam dinding.


"Baru jam 09.00, masih keburu nggak ya masak buat jualan hari ini?" gumam Rani.


"Kalau mau masak bisa aku bantuin kok Kak," tawar Riska.


"Ya udah masak deh walaupun sedikit takutnya ada pelanggan yang datang kan suka ada orang proyek yang pengen makan di sini kasihan kalau nggak ada lauk sama sekali," ucap Rani.


akhirnya Rani dan Riska pun memasak di dapur dengan bahan-bahan yang tersisa, hingga pukul 11.00 masakan selesai dan bisa dihidangkan di atas etalase.


"Alhamdulillah, tinggal sedikit lagi buat makan di rumah aja deh warungnya kita tutup aja ya," ucap Rani, padahal waktu masih menunjukkan jam 02.00 siang tapi masakan Rani sudah tersisa sedikit saja dan Rani ingin masakan itu dibawa ke dalam untuk makan dia saja.


Namun saat hendak menutup warung nasinya ada dua orang anak dengan pakaian yang compang-camping dan membawa satu karung rongsokan datang ke warung nasi Rani.


"Bu, masih ada makanan sisa nggak? kasihan adik saya kelaparan dari kemarin belum makan," ucap seorang gadis yang diperkirakan kini berusia 15 tahun dengan pakaian kotor dan melekat di badannya sedangkan ia menggenggam tangan anak laki-laki yang lebih kecil diperkirakan berusia 9 tahun anak tersebut juga memakai baju yang kotor sama seperti anak perempuan di sebelahnya.


"Ya ampun dari kemarin belum makan, bagaimana bisa? apa perut kalian tidak sakit?" tanya Rani memandang penuh iba pada dua anak yang ada di hadapannya.


"Sakit Bu, kami cuma minum air dari keran mushola atau masjid yang kami lewati untuk menahan lapar, kami tidak punya uang untuk membeli makanan, waktu hari Jumat itu terakhir kami makan kami dapat dari orang baik yang membagikan makanan di pinggir jalan dan sampai hari ini kami belum makan lagi karena kami tidak punya uang untuk membeli makanan, kalau ibu punya makanan sisa jangan dibuang buat kami makan saja tidak apa-apa sedikit asal kami bisa mengisi perut kami," ucap anak perempuan tersebut.


"Astaghfirullah, ayo sini kalian masuk, kebetulan saya ada makanan sisa," ucap Rani.


kedua anak tersebut pun masuk ke dalam warung nasi Rani yang hampir tutup tadi, makanan sisa yang tadinya akan konsumsi sendiri Kini Rani beli berikan kepada kedua anak tersebut.

__ADS_1


Kedua anak tersebut makan dengan sangat lahap terlihat sangat kelaparan, Rani mengusap cairan bening yang lancang mengalir di pipinya.


Setelah selesai makan dan minum anak tersebut mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Rani.


"Kalau boleh saya tanya ke mana orang tua kalian kenapa kalian bisa terlantar seperti ini?" tanya Rani.


Tiba-tiba anak perempuan tersebut menangis dan mengusap air matanya membuat Rani kebingungan, namun sedetik kemudian anak perempuan tersebut menceritakan asal usul mereka.


"Saya dan adik saya yatim piatu, kedua orang tua kami meninggal akibat bencana gempa bumi bulan lalu di kampung kami, kedua orang tua kami tertimpa reruntuhan rumah dan tidak bisa diselamatkan, kami berdua dibawa oleh seorang relawan katanya kami akan ditempatkan di panti asuhan, tapi setelah sampai di Jakarta kami malah disuruh mengamen setiap hari kami dipukuli Kalau kami tidak bawa uang yang banyak," ucap anak perempuan tersebut menceritakan kisah pilunya sambil menangis.


Rani ikut menangis mendengar cerita anak perempuan tersebut sedangkan sang adik hanya memeluk kakaknya dan berusaha mengusap air mata kakaknya, kemudian anak perempuan tersebut melanjutkan ceritanya.


"Kami berhasil kabur dari orang itu saat kami bersembunyi di dalam mobil yang mengangkut sayur-sayuran ke kampung ini, tapi di sini kami tidak bisa berbuat apa-apa saya hanya bisa memulung tapi hasil Pulungan saya tidak tahu harus dijual ke siapa hingga kami kelaparan beberapa hari ini," ucap anak tersebut.


"Ya Allah sekali nasib kalian, siapa nama kalian? berapa umur kamu dan adik kamu?" tanya Rani.


"Nama saya Dinda umur saya 15 tahun dan adik saya Diki umurnya 9 tahun," ucap anak perempuan yang ternyata bernama Dinda.


tersentuh dan terenyuh melihat kedua anak yatim piatu Di hadapannya tersebut, seketika dalam hatinya mengucap syukur karena ia masih memiliki Emak Dan juga adik-adik yang menyayanginya, juga tidak merasakan kepedihan hidup seperti kedua anak yang ada di hadapannya ini.


"Dinda mau gak kamu kerja di sini bantu bantu saya di dapur, kebetulan saya juga sudah merasa kerepotan," ucap Rani.


"Mau buk, saya mau kerja apapun asalkan saya dan adik saya bisa ada tempat untuk tidur Dan kami bisa makan setiap hari," ucap Dinda terdengar sangat antusias.


"Oke mulai besok kamu bantu-bantu saya di dapur tapi ada syaratnya," ucap Rani.


"Apa syaratnya?" tanya Dinda.


"

__ADS_1


__ADS_2