Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
24. Tetangga kepo


__ADS_3

"Kamu balik lagi tinggal di sini Ran?"


Rani terkejut mendengar pertanyaan dari tetangganya, pasalnya Rani tidak mengetahui kapan tetangganya itu datang dan berdiri di depan pintu dapurnya.


"Ya ampun Bu Hasanah ngagetin aja," ucap Rani Seraya mengelus dadanya.


"Kamu kebanyakan bengong sih, jadi nggak lihat pas aku datang, Emangnya kamu Ada masalah apa sama suami kamu kok kamu pulang ke rumah emak kamu sih?" tanya bu Hasanah.


"Aku sudah pisah dengan suami mulai hari ini dan seterusnya aku tinggal di sini aku juga mau buka warung nasi di sini Bu," jawab berani jujur karena walaupun Rani berbohong Bu Hasanah pasti akan mengetahuinya karena dia terkenal dengan sebutan tetangga kepo.


Bu Hasanah adalah wanita seusia dengan emaknya Rani rumahnya Bu Hasanah terletak di sebelah rumah emaknya Rani, dari dulu Bu Hasanah orang yang suka mencari tahu tentang hidup orang lain terutama hidup Rani dan keluarganya.


"Oh, Kamu cerai sama suami kamu? Kasihan banget sih kamu udah dapet duda sekarang Eh malah jadi janda gara-gara dicerai sama suami kamu yang mantan duda itu," ucap Bu Hasanah tanpa memikirkan perasaan Rani.


Rani hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Bu Hasanah, ia sudah terbiasa mendengar ucapan tajam Yang dilontarkan Bu Hasanah, dulu saat Rani masih gadis Bu Hasanah pun mengejek Rani karena di usianya yang sudah dewasa tapi belum menikah, Kini dia kembali berbicara tajam tentang perceraiannya Rani.


"Namanya nasib Bu nggak ada yang tahu, aku juga kalau bisa memilih nggak akan mau lah hidup menjadi janda seperti ini Semoga aja anak Ibu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini," ucap Rani sedikit menyinggung tentang anak-anak Bu Hasanah yang salah satunya seusia dengan Rani, dan isunya di kampung anaknya Bu Hasanah yang perempuan memiliki suami yang tukang selingkuh sama seperti Ridwan juga.


"Maksud kamu apa bicara begitu? Kamu nyumpahin Eneng biar jadi janda sama seperti kamu? Denger ya Ran walaupun suaminya Neng itu digosipkan sering selingkuh tapi aku yakin suaminya Eneng cuma mencintai Eneng dan hanya akan ada eneng menjadi istrinya dia yang tidak akan menjadi janda seperti kamu," ucap Bu Hasanah dengan nada emosi karena ia merasa perkataan Rani menyinggung tentang masalah rumah tangga Eneng anak sulungnya.


"Ibu tadi dengarnya gimana saya doain atau nyumpahin anak ibu kok ibu malah jadi ngotot sama saya," ucap Rani lalu pergi meninggalkan Bu Hasanah yang terpaku di depan pintu dapur karena Rani sudah selesai membereskan belanjaannya dan dia tidak ingin terlibat adu mulut dengan Bu Hasanah.

__ADS_1


Bu Hasanah yang ditinggalkan begitu saja oleh Rani merasa begitu geram, Ia pun mengingat anak sulungnya yaitu Eneng lalu ia bergegas pergi meninggalkan rumah tetangganya dan ingin menelpon anak sulungnya tersebut.


"Ngobrol sama siapa sih Ran tadi kayaknya ada orang deh di belakang?" Tanya emak.


"Bu Hasanah, dia tuh dari dulu Nggak berubah ya Bu selalu kepo terus tadi juga ngomong yang nggak enak lah sama aku, dia udah tahu aku ditalak sama Bang Ridwan udah tahu aku jadi janda, lalu aku doain semoga anaknya tidak merasakan hal yang sama seperti aku rasakan eh dia malah emosi disangkanya aku nyumpahin anaknya," ucap Rani.


"Dia emang selalu begitu dari dulu, jangankan kamu Rama dan juga Riska juga selalu mendengar kata-kata tajam dari mulut Bu Hasanah," ucap Emak.


"Untung cuma satu ya tetangga yang seperti itu kalau ada 10 udah deh aku nggak sanggup lah tinggal di sini," ucap Rani sambil terkekeh.


Hari Berlalu begitu cepat hari ini adalah hari pertama Rani membuka warung nasinya Ia bangun dari jam 03.00 pagi untuk memasak selesai memasak ia merapikan makanan di atas etalase agar dapat dilihat oleh para calon pembeli.


"Wah udah beres semua aja ini kak kok nggak minta bantuin aku sih Aku malah baru bangun tidur nih jam segini," ucap Riska.


"Iya udah beres kamu mau coba makan salah satu menu di sini, Kakak bisa kok sendiri walaupun nggak dibantu lagian juga kamu kan kemarin udah capek kerja sekarang kan waktunya istirahat wajar kalau jam segini kamu baru bangun," ucap Rani.


"Jangan aku yang coba dong Kak kan kakak harus ada penglaris dulu pamali kalau Belum penglaris terus udah dimakan sama aku," ucap Riska sambil berjalan mendekati etalase dan memperhatikan menu apa saja yang ada di dalam etalase tersebut.


Riska mengeluarkan gawainya dari kantong lalu memotret masakan yang sudah tersaji di atas etalase lalu mengunggahnya ke sosial media milik Riska.


"Aku promoin di sosmed ya Kak siapa tahu ada yang mau beli, zaman sekarang tuh udah canggih Kak harus memanfaatkan sosial media yang kita punya," ucap Riska.

__ADS_1


Hanya dalam hitungan menit handphone Riska banjir dengan notifikasi teman-teman Riska yang masih dekat dengan rumah menanyakan Siapa yang berjualan masakan tersebut karena hari ini hari Minggu teman-teman Riska pun banyak yang libur dan banyak yang datang untuk membeli masakan yang Rani buat.


"Wah masakan Kak Rani enak ya terus harganya terjangkau pula, Boleh dong kalau aku pesan buat bekal nanti kerja tiap hari," ucap Winda teman dari Riska yang bekerja di pabrik sepatu.


"Boleh banget dong, kamu maunya setiap hari menu apa nanti malamnya chat kakak dulu paginya bisa kakak siapkan untuk bekal kamu ke pabrik harga sesuai menu yang kamu minta," ucap Rani menyanggupi.


"Wah bagus tuh Kak sistem kayak gitu, nanti aku promo ke temen tempat kerja aku siapa tahu ada yang mau setiap hari dibekelin jadi setiap hari itu menunya beda-beda harganya juga beda tapi harganya sesuai dengan kantong anak-anak pabrik seperti kita lah," ucap Winda.


"Boleh seperti itu Win, nanti kalau banyak yang order kamu dapat komisi deh dari kakak, anggap aja kita sedang kerja sama," ucap Rani.


Winda mengangguk setuju dengan ucapan Rani selain praktis Winda juga bisa mendapatkan keuntungan jika menawarkan makanan masakan Rani, bagi buruh pabrik seperti Winda waktunya sangat sempit untuk menyiapkan bekal makanan di rumah sehingga jika di pabrik sering kali ia memakan makanan siap saji dan tentu saja itu tidak sehat jika dikonsumsi setiap hari, adanya masakan matang yang dijual oleh Rani baginya itu adalah solusi dari kesibukannya selain Masakannya enak Winda juga suka dengan kerapihan dan kebersihan saat Rani menyajikan makanan.


"Hari Senin pesen satu dulu aja Kak buat aku nanti kalau seandainya teman-teman tertarik Besoknya aku order lagi buat aku dan teman yang baru pesan," ucap Winda.


"Ya sudah hari Senin aku kasih satu gratis buat kamu itung-itung tester dan juga promo atau sekarang lebih dikenal endorse sekali ya," ucap Rani sambil terkekeh.


Riska tersenyum ternyata kecerdasan kakaknya memang Tidak diragukan walaupun hanya menjual masakan matang namun marketingnya sama seperti orang berjualan kosmetik atau merk dagangan terkena lainnya pakai endorse dan promo juga menyediakan jasa bekal untuk para karyawan Riska yakin jika banyak karyawan yang mau memesan bekal setiap hari kepada Rani, tidak butuh waktu lama usaha Rani pasti berkembang dengan pesat.


"Aku pikir makanannya Wah dan enak gitu dipandang seperti restoran-restoran ya kalau menunya kayak gini sih sama aja makan di rumah sendiri nggak ada menariknya tuh di mata aku," ucap seseorang yang baru datang dan melihat isi etalase, ucapan seseorang itu membuat Riska kesal.


"Kalau nggak Niat beli nggak usah datang ke sini deh, ngapain datang ke sini kalau cuma mau bikin gara-gara aja, Kamu pikir aku takut sama kamu hah sini kalau mau berantem sama aku tapi jangan sekali-kali kamu mencari gara-gara sama kakak aku," ucap Riska yang emosi terhadap orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2