Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
37. penasaran.


__ADS_3

"Maaf Pak saya buru-buru pulang soalnya saya harus jaga warung nasi saya lagi," ucap Rani lalu pergi meninggalkan pabrik tersebut.


lelaki bernama Rangga itu terdiam melihat kepergian Rani, Rangga adalah pemilik pabrik di mana Winda bekerja, Iya ikut dengan Bunda dan rekan-rekan kerjanya yang lain untuk makan di tempat Rani tadi siang karena mendengar kabar bahwa makanan di sana enak.


Dan Rangga pun mengakui memang makanan di sana enak dan tempatnya bersih sehingga membuat nyaman saat makan di sana, saat hendak pulang dan setelah membayar makanan nya Ia melupakan dompetnya yang tertinggal karena terburu-buru ada panggilan yang masuk ke dalam handphonenya.


Rangga pun tak menyangka jika Rani mengembalikan dompet tersebut tanpa ada yang kurang di dalam dompet tersebut.


keesokan harinya Rangga kembali datang ke warung nasi milik Rani untuk makan siang, sebelumnya Rangga bertanya kepada Winda siapa nama pemilik warung nasi tersebut yang sudah berbaik hati mengantarkan dompetnya yang tertinggal.


"Mbak Rani, hari ini makanan di sini saya borong ya nanti dibagi-bagikan saja secara gratis kepada orang-orang yang mau makan dan membutuhkan makanan," ucap Rangga.


Rani menganga mendengar ucapan lelaki tampan yang ada di hadapannya tersebut.


"Bapak serius, ini kalau ditotal cukup banyak Pak harganya," ucap Rani.


"Serius Mbak Rani anggap saja ini ucapan terima kasih saya kepada mbak Rani karena kemarin sudah mengantarkan dompet saya yang tertinggal," ucap Rangga.


"Tidak perlu seperti itu Pak, saya ikhlas melakukannya kok," ucap Rani.


Rangga tersenyum mendengar ucapan Rani, ia mulai mengagumi wanita cantik yang berada di depannya ini.


"Saya juga ikhlas melakukan hal ini, nanti dibuat masih bagus aja terus dibagi-bagikan ke jalan aja makanannya ya Mbak Rani, Oh ya saya juga minta nomor telepon Mbak Rani boleh nanti siapa tahu saya ada keperluan untuk memesan makanan di sini," ucap Rangga.


Rani pun memberikan nomor handphonenya tanpa curiga sedikitpun kepada Rangga, Ia juga menerima uang untuk pembayaran makanan yang diborong oleh Rangga lalu membungkus semua makanan yang ada dan dibagikan ke jalan untuk orang-orang yang membutuhkan makanan.


Saat Rangga hendak keluar warung nasi tersebut, tiba-tiba ada bola plastik yang terlempar mengenai tubuhnya.


"Maaf Om Bintang nggak sengaja," ucap laki-laki yang menghampiri Rangga untuk mengambil bola tersebut.

__ADS_1


"Gak apa apa nak, jangan main bola di jalan ya bahaya nanti kamu tertabrak kendaraan yang lewat, Di mana orang tua kamu kenapa kamu mau di tempat seperti ini?" tanya Rangga.


Pasalnya warung nasi Rani sekarang ramai banyak orang yang membawa kendaraan menuju warung nasi Rani, sehingga Rangga mengatakan hal tersebut kepada Bintang


"Iya Om maaf ya,"ucap Bintang sekali lagi meminta maaf kepada Rangga.


Anak lelaki yang berusia 3 tahun tersebut sedikit Trauma dengan lelaki dewasa, karena Selamat tinggal bersama ayahnya ia selalu saja mendapat bentakan dan juga kemarahan ayahnya.


"Iya, tidak apa-apa di mana orang tua kamu kenapa kamu ada di sini?" tanya Rangga.


"Ayah nggak tahu ke mana Kalau Ibu ada di dalam," ucap Bintang.


"Ibu di dalam? apa ibumu namanya Rani?" tanya Rangga.


"iya Ibu Rani itu Ibu aku om," jawab Bintang.


Rangga tersenyum lalu jongkok di hadapan anak tersebut untuk mensejajarkan badannya dengan anak tersebut.


"Nama saya Bintang Om, saya nggak sendirian saya tadi main sama nenek tapi neneknya sibuk soalnya dedeknya nangis minta susu," ucap Bintang.


"Oh jadi kamu tuh tadi main sama nenek tapi nenek masuk ke dalam karena adiknya minta dibuatkan susu begitu?" tanya Rangga.


"iya Om," jawab bintang singkat.


"Kalau papa kamu ke mana lagi kerja ya?" tanya Rangga.


"Enggak ada Om, udah lama aku nggak ketemu ayah, lagian Ayah jahat aku nggak mau tinggal sama ayah lagi," ucap Bintang.


mendengar ucapan bocah kecil tersebut Rangga menjadi penasaran tentang Rani dan keluarganya, neneknya bintang menghampirinya lalu menyuruh bintang untuk masuk ke dalam rumah, Bintang pun berpamitan pada Rangga dan masuk ke dalam rumah sesuai perintah neneknya.

__ADS_1


Rangga kembali ke pabrik namun ia seseorang untuk menyelidiki tentang Rani dan mencari informasi tentang Rani.


waktu lalu kini siang nanti malam, Rani yang cantik dan mandiri sukses dengan bisnisnya membuat para lelaki di kampungnya banyak yang menginginkan, namun Rani tidak bisa menerima para lelaki tersebut karena dia hanya ingin fokus untuk merawat dan membesarkan anaknya.


seperti malam ini adalah malam minggu 2 orang datang ke rumah Rani untuk mengajak Rani berkencan.


"Emak, lihat tuh anak emak yang janda udah ditungguin dua lelaki di depan rumah, sedangkan anak emak yang gadis ini belum laku," ucap Riska.


Emak, Rama dan Rani terkekeh mendengar ucapan Riska, kemudian kami mengintip di balik tirai jendela untuk melihat siapa yang menunggunya.


"Rama keluar dong bilangnya sama gue lelaki itu untuk pulang bilang aja Kakak nggak enak badan nggak bisa mana-mana dan nggak bisa nemuin siapapun," ucap Rani.


Rama mengganggu lalu melakukan apa yang dikatakan oleh Rani, dua orang laki-laki yang menunggunya tersebut pulang dengan perasaan kecewa karena tidak disambut oleh Rani.


"Kak, emang Kakak nggak ada niatan untuk berumah tangga lagi? Bintang dan bulan sudah pada besar Kak, pasti dia juga membutuhkan sosok seorang ayah," ucap Riska.


"Kakak belum kepikiran ke situ dek, lebih baik Kakak fokus untuk merawat dan membesarkan mereka berdua, Kakak sudah nyaman dengan posisi seperti ini," ucap Rani.


"kakak pasti trauma sama pernikahan karena mantan suami kakak yang tidak memberikan kebahagiaan malah memberikan malapetaka dalam pernikahan iya kan?" tanya Riska.


Rani terdiam tidak menjawab ucapan Riska dia hanya menatap ke arah dua anaknya yang sedang asyik bermain.


"Bang Imron kemarin ke sini, dia bilang ke emak pengen serius sama Rani kalau Rani mau sama dia, Bang Imron itu orangnya baik orang soleh pula boleh kamu pertimbangkan untuk menjadi Ayah anak-anak kamu," ucap Emak.


Rani masih terdiam tidak menjawab ucapan emaknya, jujur saja Rani masih takut untuk kembali membuka hati untuk laki-laki.


Rasanya lebih baik hidup sendiri namun bahagia daripada memiliki suami tapi tersiksa.


"Iya kak, nggak semua laki-laki kok kayak Bang Ridwan, contohnya aku," ucap Rama.

__ADS_1


"Iyalah Kakak juga tahu Ram kamu mah orang baik, beda jauh sama bang Ridwan, tapi Kakak emang belum ini aja untuk berumah tangga kembali masih banyak pertimbangan dalam pemikiran kakak, ya mungkin aja kakak mau menikah lagi kalau calon suaminya ...,"


"Kalau calon suaminya gimana?" tanya Riska, Rama, Emak bersamaan.


__ADS_2