Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
21. Rencana Rani


__ADS_3

"Apa syaratnya Mbak Intan?" tanya Rani di sebrang telepon.


"Kamu carikan saya asisten rumah tangga baru karena saya pasti kerepotan kan sebentar lagi saya mau melahirkan," ucap Intan.


"Baik Mbak nanti saya carikan," ucap Rani.


"Tapi Saya mau orang yang rajin jujur seperti kamu ya jangan sampai orang yang bekerja dengan saya bukan orang seperti kamu," ucap Intan.


Panggilan telepon pun berakhir Rani mencarikan asisten rumah tangga yang baru untuk Intan yang dekat dengan rumah Intan, dan dia akan memulai usaha sayur matang di rumahnya.


"Riska, Rama Kakak boleh nggak pinjem uang kalian dulu untuk modal membuka usaha lauk matang, nggak banyak Paling 1 juta Nanti kalau udah banyak keuntungan Kakak balikin lagi uang kalian," ucap Rani.


"Kak Bukannya aku tidak mau meminjamkan, kakak kan lagi hamil sekarang lebih baik Kakak jaga kandungan Kakak dan kakak fokus untuk merawat Bintang yang masih kecil, urusan keuangan biarkan aku dan Rama yang mengurusnya, selama ini kan Kak Rani yang sudah membiayai kehidupan kita sebelum aku dan Rama bekerja, sekarang waktunya aku dan Rama yang mengurus Kakak dan juga Bintang," ucap Riska.


Rama setuju dengan apa yang Riska ucapkan, rasanya Rama ingin balas budi kepada kakaknya yang dulu dengan tulus membiayai sekolah Rama dan juga Riska sampai lulus SMA Ia pun menyayangi Bintang Seperti menyayangi Rani kakaknya, jadi tidak keberatan jika harus mengeluarkan sedikit uang untuk membiayai hidup Rani dan juga Bintang selama Rani mengandung.


Namun Rani tetaplah Rani yang tidak bisa hanya berpangku tangan menunggu di beri oleh adik-adiknnya, Rani adalah wanita pekerja keras yang tidak mau menggantungkan hidupnya kepada siapapun apalagi Kini dia merasa bertanggung jawab atas anaknya dan juga janin dalam kandungannya dia merasa Kini harus lebih kuat karena Sekarang dia sudah menjadi single parent.


"Kakak sangat mengerti adik-adik kakak ini adalah orang-orang baik yang punya hati yang tulus untuk membantu Kakak dan juga anak Kakak, Tapi selama Kakak masih kuat untuk membiayai hidup Kakak dan juga anak-anak Kakak, Kakak harus bisa berusaha dengan kaki kakak sendiri kakak hanya butuh support dari kalian dukungan dari kalian kasih sayang dari kalian akan membuat Kakak menjadi orang yang lebih kuat lagi menghadapi semuanya, sekarang kakak adalah single parent kakak harus menjadi wanita yang lebih kuat daripada sebelumnya," ucap Rani.

__ADS_1


Rama dan emak hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Rani yang sangat keras kepala namun itulah Sisi baik dari seorang Rani, sedangkan Riska hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca ia sungguh sangat ingin belajar menjadi seperti kakaknya wanita yang sangat kuat dan juga tangguh dalam menghadapi segala cobaan dalam hidupnya. Dari ketiga anak Emak hanya Rani lah yang putus sekolah hingga Dia hanya bisa mendapatkan ijazah SMP saja, Ia memutuskan membantu keuangan keluarga dan membiayai adik-adiknya hingga lulus SMA . Seandainya Rani sekolah sampai SMA mungkin nasibnya tidak seperti ini mungkin dia tidak bertemu dengan Ridwan dan hidupnya tidak semalam ini namun apa dikata takdirlah yang membawa Rani bertemu dengan Ridwan dan mengalami kisah sedih seperti ini.


"Oke aku akan pinjamkan uangku untuk usaha kakak, tapi kakak janji jangan pernah ingin sekali-kali menggugurkan anak dalam kandungan kakak besok kita ke klinik bidan ya kita periksa kandungan kakak setelah itu baru kita pikirkan Seperti apa kakak ingin membuka usaha lauk matang," ucap Rama.


"Iya Kak, aku setuju dengan ucapan Rama, lagi pula Kakak kan baru kehilangan Mertua kakak jika seandainya kakak langsung membuka usaha akan jadi Buah Bibir pada Tetangga di sana masih berduka Sedangkan kakak di sini membuka hidup yang baru, lebih baik Kakak istirahat dulu saja dan mengatur apa saja yang akan kita lakukan untuk usaha Kakak ke depannya," ucap Riska.


Rani merasa sangat bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya Emak dan adik-adiknya tidak pernah berubah dari dulu mereka selalu menyayangi Rani dengan tulus, Jika saja tidak memikirkan Ibu mertuanya yang sakit dan tidak bisa apa-apa mungkin sejak dulu Rani memilih berpisah dengan Ridwan dan kembali kepada keluarga yang menyayanginya,, Ibu mertuanya lah yang membuat dia bertahan selama ini dengan Ridwan,, dan alasan Rani untuk bertahan dengan Ridwan sekarang sudah tidak ada Rani merasa sedih tapi juga sekaligus lega. Dia merasa sedih karena rumah tangganya yang kandas dan merasa sangat tidak dihargai juga tidak dicintai oleh suaminya tapi dia juga di sisi lain dia merasa sangat lega karena sudah bisa mengeluarkan segala kesedihannya keluar dari petaka pernikahannya bersama Ridwan Kini dia hanya tinggal menata hidup baru dengan keluarganya dan juga anaknya.


"Terima kasih, Rama, Riska, Emak tadi nggak tahu kalau nggak ada kalian Mungkin Rani tidak sekuat ini, Rani beruntung memiliki orang-orang yang tulus seperti kalian," ucap Rani.


Keesokan harinya Rani memeriksakan kandungannya diantara oleh Rama sang adik, Rani bernapas lega karena kandungannya baik-baik saja, meskipun ia tidak pernah meminum vitamin selama ini dan juga sering memakan makanan yang tidak diperbolehkan dimakan oleh ibu hamil Namun nyatanya anak dalam kandungannya ini cukup kuat sehingga bisa bertahan dalam kandungan Rani yang kini menginjak usia hampir 5 bulan.


"Ini vitaminnya nanti diminum ya Bu, kontrol lagi bulan depan pokoknya setiap bulan harus bolak-balik kontrol ya biar kelihatan perkembangan janinnya," ucap Bidan.


Setelah selesai memeriksakan kandungan dan mengetahui bayinya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja Rani dan Rama pun bergegas pulang ke rumah, sementara di sisi lain acara tahlilan atas kepergian Ibu Minah sudah selesai, seperti yang dipikirkan oleh Nurul semuanya dikerjakan oleh kedua anaknya yaitu Nindy dan Endi sedangkan Ridwan Sang Ayah hanya asik dengan gawainya saja.


Hingga hari ke delapan setelah kepergian bu Minah, rumah kembali sepi, Ridwan yang sudah kembali bekerja malam harinya membawa pulang seorang perempuan Hal itu membuat kedua anak Ridwan sangat geram.


"Ayah nggak malu apa sama tetangga, nenek baru aja meninggal ayah dan ibu juga belum resmi bercerai di pengadilan sekarang udah bawa perempuan masuk ke rumah gimana sih pikiran ayah?" protes Nindy.

__ADS_1


Sebagai remaja yang sudah beranjak dewasa Nindy sudah mengerti dan memikirkan Bagaimana omongan para Tetangga terhadap kelakuan ayahnya, ia sendiri merasa malu memiliki ayah seperti itu.


"Ngapain dengerin omongan tetangga, dan kamu masih kecil ga usah sok soan nasehatin ayah," ucap Ridwan.


Nindy mencibikan bibirnya merasa kesal dengan ucapan ayahnya, dan merasa sangat jumlah melihat perempuan di samping ayahnya ia memandang jijik pada perempuan di samping ayahnya.


"Dia siapa Bang?" Ucap perempuan yang bergelayut di tangan Ridwan.


"Dia anak Pertamaku namanya Nindy," ucap Ridwan.


" Oh ini anak kamu Bang, sayang kenalin Tante ini pacar Ayah kamu dan sebentar lagi akan menjadi ibu kamu," ucap perempuan berpakaian seksi tersebut.


Perempuan itu mengulurkan tangannya ke arah Nindy Nindy sama sekali tak menyambutnya merasa sangat gerammelihat perempuan tersebut.


"Cih, aku nggak sudi punya ibu macam kamu lihat itu Penampilanmu seperti pelacur," ucap Nindy.


"Nindy jaga bicaramu tidak pantas kamu berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua, Kenapa kamu tidak diajari sopan santun oleh ibumu," sarkas Ridwan.


"Orang seperti kalian tidak pantas untuk aku hormati," ucap Nindy.

__ADS_1


Ridwan sangat kesal dengan ucapan anak sulungnya ia melayangkan tangannya ke udara hendak menampar pipi Nindy, namun ada seseorang yang lebih dahulu menarik Nindy sehingga tamparan tersebut tidak jadi mengenai pipi Nindy.


"Dasar lelaki brengsek, anak sendiri Kamu mau Sakiti di mana perasaan kamu brengsek,"


__ADS_2