Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
16.Runyam


__ADS_3

Rani membeku melihat tamu yang datang ke rumahnya, mantan istri suaminya bersama kedua anaknya.


"Ada apa kamu kesini Nurul?" tanya Ridwan.


"Kau ini Ridwan, apa kau lupa punya anak perempuan, anakmu sudah besar dan sekarang mau masuk SMA," ucap Nurul.


Rani hanya duduk di sofa sambil memangku Bintang mendengarkan pembicaraan suami dan mantan istrinya.


"Mana mungkin aku lupa dengan Nindi, lagipula setiap bulan sudah aku jatah 500ribu untuk Nindi," ucap Ridwan.


"Kamu pikir uang lima ratus ribu sebulan itu besar, buat ongkos dan jajan Nindi saja ga cukup," ucap Nurul.


"Ya mau gimana lagi, kamu kan tau gajiku berapa, aku juga harus menafkahi anak dan istriku di sini," ucap Ridwan.


Nurul menghela nafas lalu memandang Rani yang kini berpenampilan cantik dan rapi, Nurul pikir apa yang di pakai Rani itu uang dari Ridwan padahal hasil kerja Rani sendiri, dan baju bagus yang Rani pakai itu bekas Intan majikannya.


"Kamu alasan aja Ridwan, buat istrimu tampi cantik ada, sedangkan buat anakmu gak ada," ucap Nurul.


Ridwan melirik ke arah Rani, ya memang Rani sekarang lebih cantik dan baju yang di gunakan tidak lusuh seperti dulu hanya memakai daster sobek, wajahnya juga lebih cerah dan tidak sekusam dulu, ia juga harum sperti memakai farfum setiap hari, Ridwan tak pernah memperhatikan dan menanyakan dari mana Rani mendapatkan uang untuk mempercantik diri, ia hanya senang saat istrinya enak di Pandang mata.


"Aku hanya memberi satu juta lima ratus pada Rani setiap bulan, dan Endi selama ini tinggal di sini," ucap Ridwan.


"Aku gak percaya mana mungkin uang satu juta lima ratus cukup untuk satu bulan, dan istrimu bisa tampil cantik," ucap Nurul.

__ADS_1


Rani mengehela nafasnya mendengar ucapan mantan istri suaminya itu, ia juga tak menyangkal uang segitu tidak akan cukup sebulan apalagi untuk merubah penampilan Rani, kalau bukan karna bantuan Intan sang majikan maka Rani masih berwajah kusam, bau bawang dan menggunakan daster lusuh, namun ia tak ingin suaminya tau jika dia bekerja dan punya ppenghasilan sendiri, ia takut suaminya semakin semena-mena bahkan tak memberi nafkah jika tau ia punya penghasilan sendiri.


"Udah lah Mbak enggak usah urusin penampilan aku, emang kenyataannya aku cuma di jatah satu bulan itu satu juta lima ratus sama bang Ridwan, lagi pula Mbak ke sini sebenarnya ada maksud apa?" tanya Rani masih berusaha bersikap sopan.


"Ridwan denger, Nindi sudah mau lulus SMP dan sebentar lagi mau masuk SMA, untuk biaya kelulusan SMP biar aku yang menanggung, tapi untik biaya masuk SMA itu tanggung jawab kamu, adil kan," ucap Nurul.


Rani memijat pelipis hidungnya mendengar ucapan mantan istri suaminya, memang benar kewajiban Ridwan untuk membiayai sekolah anaknya dan yang di lakukan nurul cukup adil membagi dua biaya sekolah anaknya dengan suaminya.


Inilah resiko menikah dengan duda beranak dua apalagi anaknya sudah besar dan membutuhkan banyak biaya untuk sekolah, saat menikah dengan Ridwan Rani tak berpikir sejauh ini, baginya Ridwan mencintainya dan memberikan nafkah untuknya sudah cukup.


"Berapa biaya Masuk SMA?" tanya Ridwan.


"Nindi masuk SMA swasta karna nilainya tidak tinggi, biaya Masuk dua juta bisa di cicil empat bulan dari sekarang dan spp bulanan 250ribu, jika ada semester nanti bayar lagi, kalau aku sendiri yang menanggung semua biayanya aku gak sanggup, gajiku sebulan hanya tiga juta," ucap Nurul.


Nurul menghela nafasnya ia ingin bernegosiasi dengan Ridwan, ia melirik wajah Rani yang terlihat sembab dan pucat.


Ia menebak bahwa Rani dan Ridwan baru saja bertengkar, ia ingat saat dulu masih menjadi istri dari Ridwan pun ia sering menangis dan bertengkar.


"Gini aja, spp bulanan Endi aku yang bayar dia kan sebulan cuma seratus ribu, sedangkan Nindi sebukan 250 itu kamu yang bayar, inget loh kamu bapaknya yang punya tanggung jawab lebih besar untuk biaya anak anak itu kamu," ucap Nurul.


Rani tak bisa berkomentar apapun, yang di katakan Nurul memang benar tapi pasti imbasnya uang bulanan Rani yang akan di potong untuk biaya sekolah Nindi, Rani semakin pusing dengan permasalahan rumah tangganya, kehamilannya, perselingkuhan suaminya, dan kini  masalah keuangan juga.


Setelah selesai berbicara dan sepakat dengan apa yang di katakan Nurul, Nurul dan kedua anaknya pun pulang, Endi tak mau lagi tinggal bersama Ridwan dan Rani ia memilih tinggal bersama Nurul ibunya, jadi tiap bulan gaji Ridwan satu juta untuk Endi dan Nindi, satu juta untuk Rani dan lima ratus ribu untuk Ridwan sendiri, sedangkan lima ratus ribu lagi untuk membayar hutang koprasi, Ridwan meminjam uang dua juta ke koprasi pabrik tempatnya bekerja untuk membayar uang masuk sekolah Nindi.

__ADS_1


Tampang pas pasan, gak ada uang tapi Ridwan masih suka berselingkuh di luar, membuat Rani semakin kesal dan hilang rasa pada suaminya itu.


"Mbak, kalau aku gugurin kandungan ini dosa ga ya?" ucap Rani.


"Astagfirullah ya jelas dosa Rani masih tanya lagi," ucap Intan.


Kini hanya Intan yang sangat ia percaya untuk mencurahkan keluh kesahnya, majikannya itu sangat baik dan pengertian padanya, usia mereka juga tak jauh beda hanya hiduo Ranitak seberuntung Intan.


"Aku pusing Mbak, Bang Ridwan ga berubah, dia masih suka selingkuh, ringan tangan, di tambah sekarang jatah bulanan aku juga semakin kecil, aku takut kalau anak ini lahir aku tak bisa mengurusnya karna kekurangan biaya," ucap Rani.


"Ran, kamu jangan khawatir nanti aku bantu untuk biaya persalinan dan anak kamu jika sudah lahir, Ran di luar sana banyak orang yang ingin punya anak tapi belum di beri kesempatan oleh Allah untuk memiliki anak, kamu jangan jadiborang jahat membunuh janin taj berdosa dalam kandungan kamu, siapa tau setelah besar nanti anak ini bisa mengangkat derajat kamu, dunia ini berputar kita ga tau seperti apa nasib kita di masa depan, sekarang kamu di uji, kalau kamu mampu melewati ujian pasti akan ada hikmah di balik semua ujian," ucap Intan.


Rani menangis tergugu merasa tertampar dengan ucapan yang di keluarkan Intan.


"Aku gak tahan hidup dengan suamiku Mbak, aku ingin bercerai tapi aku masih memikirkan ibu mertuaku, jika tidak ada aku siapa yang akan mengurusnya," ucap Rani.


"MasyaAllah kamu wanita yang sangat baik Ran, meskipun berkali kali di sakiti suamimu kamu masih memikirkab nasib ibu mertuamu," ucap Intan.


Rani tersenyum dan mengusap air matanya, ia merasa lebih tenang setelah curhat dengan Intan, namun tiba-tiba ada tetangga yang berteriak memanggil nama Rani.


"Ran, Rani itu Ran ibu mertuamu,"  teriak tetangga.


"Ada apa dengan ibu mertua saya?" tanya Rani terkejut.

__ADS_1


__ADS_2