Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
13. Berulah


__ADS_3

"Rani, Ridwan keluar kalian," teriak seorang dari luar.


"Ada apa sih, kenapa orang itu teriak-teriak," ucap Rani.


Rani dan Ridwan pun keluar rumah untuk memastikan siapa yang datang mengganggu dan berteriak di depan rumahnya.


"Nurul, ada apa kesini, marah marah pula," ucap Ridwan.


"Heh Ridwan, ajarin tuh istri kamu jangan suka ikut campur urusan Endi, jangan jadi manusia sok suci padahal dia sendiri pelakor," ucap Nurul.


Nurul adalah mantan istri Ridwan, ibu dar Nindi dan Endi, ia selalu mengatakan bahwa Rani adalah pelakor wanita yang menghancurkan rumah tangganya, padahal kenyataannya tidaklah seperti itu, Rani menjalin hubungan dengan Ridwan ketika Ridwan sudah berstatus duda, memang sebelum menduda Ridwan sering berselingkuh di belakang Nurul dan hal itu yang membuat mereka bercerai namun selingkuhan Ridwan wanita lain bukannya Rani.


"Maksud Mbak apa sih, dan Mbak sudah aku bilang aku bukan pelakor Mbak jangan terus memfitnah ku," ucap Rani.


"Kamu semalam ngomong apa sama anakku, kamu marahin dia, kamu maki-maki dia kan, denger ya aku ga rela anakku kamu perlakukan seperti itu," ucap Nurul.


Rupanya Endi mengadu sesuatu yang lebih pada ibu kandungnya, wanita yang masih berstatus janda itu sangat emosi mendengar cerita dari anak laki lakinya.


"Aku gak pernah maki-maki dia Mbak, aku hanya memberikan nasehat padanya," sergah Rani.


"Alah, mana ada maling ngaku, denger ya Ridwan, sekali lagi istrimu ini berulah pada anakku, aku ga akan segan segan membalas yang lebih kejam padanya dan anaknya," ucap Nurul.


Setelah puas mengatakan hal itu Nurul langsung tancap gas meninggalkan rumah ridwan dan Rani.


"Astagfirullah, kenapa Endi ngadu yang enggak enggak sama ibunya sih, aku kan gak pernah maki maki Endi," ucap Rani.


"Udahlah Ran ga usah di pikirin," ucap Ridwan.


"Tapi Bang aku gak enak di tuduh seperti itu, apalagi tadi tetangga pada ngeliatin dan denger ucapan Mbak Nurul, nanti aku di sangka ibu tiri yang kejam Bang," ucap Rani.


"Udahlah gak usah dengerin omongan tetangga bikin pusing aja," ucap Ridwan.


Rani tak bisa berbicara apa apa lagi ia diam menuruti perkataan suaminya, padahal di dalam hatinya sangat gundah, tak mudah menjadi seorang ibu sambung, apa yang di lakukan selalu di anggap salah, padahal semalam Rani menasehati Endi memang karna Endi berbuat salah, tapi Endi malah mengadu ke ibu kandungnya berlebihan, dan ibu kandungnya menelan mentah mentah apa yang di katakan anaknya tanpa tau masalah yang sebenarnya.


Ridwan sebagai ayah pun tak menjelaskan kepada Nurul masalah yang sebenarnya, Rani hanya bisa menghela nafas karena selalu jadi pihak yang di salahkan, mereka kembali kedalan rumah dan menonton tv bersama seakan tidak pernah terjadi apapun.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain Nurul yang baru saja sampai di rumahnya melihat Endi yang sedang asik main game di play station bersama Nindi kakaknya.


"Kak, tukeran posisi yuk," ucap Endi.


"Maksudnya gimana?" tanya Nindi.


"Sebulan aja aku tinggal di sini dan kakak sama Ayah di sana," ucap Endi.


"hih, gak mau lah, kamu gak betah ya di sana?" tanya Nindi.


"Iya gak betah, gak bebas uang aja di kasih cuna sedikit," ucap Endi.


"Emangnya sehari di kasih uang berapa kamu sama Ayah?" tanya Nindi.


"Cuma dua puluh ribu, itu juga mintanya harus ke ibu," ucap Endi.


Endi sangat kesal karena masalah tadi malam ia di putuskan pacarnya, padahal pacarnya yang selama ini menjajani Endi saat di sekolah, maka dari itu dia mengadu pada ibu kandungnya memfitnah ibu sambungnya karna rasa kesalnya.


Nurul mendengus kesal mendengar cerita anaknya, ia fikir Rani menguasai uang Ridwan sehingga anaknya tidak di beri uang banyak, padahal uang yang di beri Ridwan tidak cukup untuk biaya sehari hari, Nurul lupa jika mantan suaminya juga melakukan hal yang sama padanya dulu.


"Ayahmu itu harus di tegaskan, masa lebih mentingin istri dan anak barunya sedangkan kamu cuma di kasih sedikit, apalagi Nindi cuma di kasih uang bulanan spp aja, makan dan keperluan sehari hari tetep dari ibu," geritu Nurul.


Gaji Nurul gi garmen cukup untuk kebutuhan sehari hari dengan Nindi dan lagi dia masih trauma dengan pernikahan karena Ridwan yang suka selingkuh dan ringan tangan.


"Nindi nanti kalau kamu sudah dewasa jangan cari suami kaya ayahmu, kamu juga Endi kalau sudah besar jangan seperti ayahmu, cuma bisanya nyakitin perempuan aja," ucap Nurul.


"Iya lah bu, Makanya aku mau sekolah yang tinggi, seengaknya nanti ketemu pacar atau jodoh yang punya kerjaan lebih bagus dari ayah, jangan sampe putus sekolah teru ketemu cowok yang kerjaannya kaya ayah," ucap Nindi.


Nindi sudah cukup besar ketika ayah dan ibunya bercerai, dan ia mengerti masalah apa yang menyebabkan keduanya bercerai.


"Bu seminggu ini aku nginep di seminggu ya," ucap Endi.


"Ya tapi untuk uang jajan tetep minta sama ayahmu ya," jawab Nurul.


Endi berdecak kesal ia sangat malas pulang ke rumah ayahnya tapi mau bagaimana lagi ia butuh uang dari ayahnya karena belum bisa mencari uang sendiri.

__ADS_1


Malam hari ia menginap di rumah ibunya tapi siang harinya pulang ke rumah Rani untuk makan siang dan meminta jatah jajan.


"Bang, Endi nginep lagi di rumah ibunya," ucap Rani.


"Ya udah biarin aja, lagian juga udah lama dia ga nginep di sana," ucap Ridwan.


"Iya aku cuma mau bilang aja takut abang khawatir," ucap Rani.


"Anak sudah besar buat apa di khawatirkan," ucap Ridwan.


Rani menghela nafasnya merasa kecewa dengan sikap suaminya yanh terkesan tidak peduli pada anaknya sendiri, walaupun sudah besar anak tetaplah anak harus di perhatikan dan di beri kasih sayang.


Jika anakku besar nanti apa bang ridwan juga akan tidak peduli seperti ini? Aku hanya takut Mbak Nurul salah sangka dan menyalahkan aku padahal aku peduli dan khawatir pada Endi, ayahnya saja yang cuek pada anaknya. Batin Rani.


"Ran kok bengong kamu ga buatin kopi untuk abang," ucap ridwan.


"Oh iya Bang, tunggu sebentar," ucap Rani.


Rani pun bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi suaminya seperti biasa jika suaminya pulang kerja.


Saat tengah menyendok kopi hitam dan menuangkan air panas pada gelas berisi kopi hitam Rani tiba tiba merasa mual.


Kok bau nya gak enak ya, perasaan ini kopi yang biasa aku seduh deh. Batin Rani.


Dengan menahan mual Rani menyuguhkan kopi kepada suami nya, namun semakin di tahan mual itu semakin menjadi, Rani berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut.


Ridwan sedikit terkejut lalu menghampiri Rani yang sedang muntah di kamar mandi.


"Kamu kenapa Ran?" tanya Ridwan.


"Gak tau ni bang, muak banget," jawab Rani.


"Masuk angin kali Ran, coba minta di kerok sama tetangga," ucap Ridwan.


"Iya bang nanti minta tolong di kerok sama ma ijah," ucap Rani.

__ADS_1


Mak ijah adalah tukang urut di kampung, biasanya kalau minta di urut seluruh badan harus bayar 50-60ribu tapi jika hanya minta dikerok boleh membayar 20ribu.


Aku kenapa bisa mual ya, perasaan udah lama ga ngerasain masuk angin. Batin Rani.


__ADS_2