
"Ngapain kamu dekat-dekat?" tanya Ranggadengan suara dinginnya.
"Bapak ngeliatin saya dari atas sampai bawah tanpa kedip pasti suka sama saya ya," ucap Weni percaya diri.
Rangga bangkit dari duduknya karna Weni yang semakin mendekat kepadanya.
"Siapa yang nyuruh kamu ke ruangan saya?" tanya Rangga.
"Gak ada yang nyuruh pak, tapi sebagai seorang officegirl yang baik saya berinisiatif membuatkan minuman untuk bapak dan membersihkan ruangan bapak," ucap Weni.
"Keluar dariruangan saya, dan bawa koppi yangkamu buat itu, saya sudah minum kopi buatan istri saya di rumah tadi," ucap Rangga.
Weni mengepalkan tangannya mendengar ucapan Rangga, namun bukan Weni namanya kalau langsung menyerah karna satu kali penolakan.
"Baik pak, nanti kopi itu saya bawa, tapi sekarang saya mau membersihkan ruangan bapak dulu," ucapWeni.
"Tidak perlu, ruangan ini sudahdibersihkan oleh officeboy yang biasa membersihkan ruanganini, jadi sekarang kamu keluar dari ruangan saya dan bawa kopi buatanmu, dan satu lagi jika masih mau bekerja di sini pakailah pakaian yang sopan, rok yang kamu kenakan sangat pendek, seperti belum selesai di jahit saja," ucap Rangga.
Weni tak menyangka jika Rangga bisa menolaknya seperti itu, selama ini tidak ada lelaki yang dapat menolak kemolekan tubuh yang ia pamerkan, ia pun keluar ruangan rangga dengan perasaan kesal.
"Liat saja nanti, aku akan cari cara biar kamu klepek-klepek sama aku," ucap Weni.
Sementara di ruangannya Rangga mengusap kasar wajahnya, sudah biasa ada karyawan wanita yang menggodanya namun ia heran mengapa wanita penghibur seperti Weni bisa ada di pabrik miliknya dan menjadi office girl.
tok .. tok ... tok ... pintu ruangan Rangga kembali di ketuk kali ini benar-benar Nathan yang datang membawa berkas-berkas.
"Nathan siapa yang menerima karyawan baru hari ini?" tanya Rangga.
"Itu personalia, pak Tedi.: jawab Nathan.
__ADS_1
"Panggil dian kesini," ucap Rangga.
"Baik pak," jawab Nathan lalu segera memanggil pak Tedi ke ruangan Rangga.
Pak Tedi merasa takut karna tak biasanya ia di panggil oleh pemilik pabrik.
"Permisi pak, ada apa memanggil saya?" tanya pak Tedi.
Rangga memasang wajah seriusnya sehingga pak Tedi semakin takut jika telah melakukan kesalahan.
"Bapak bagian personalia?' tanya Rangga.
"Iya pak betul," jawab pak Tedi.
"Bapak menerima karyawan baru hari ini?" tanya Rangga.
"Sudah di beritahu aturan bekerja di sini?" tanya Rangga.
"Sudah paka, dan insyaallah tak ada yang terlewat," ucap pak Tedi yakin.
Rangga ,enganggukan kepalanya mendengar jawaban pak tedi.
"Tadi ada officegirlbaru, masuk ruangan saya membawakan secangkir kopi, dia bilang maau membersihkan rauangan saya, tapi pakaiam yang ia pakai sangat minim dan terlihat ia berniat menggoda saya," ucap Ranga.
Nhatan dan pak Tedi melebarkan bola matanya mendengar ucapan pak Rangga.
"Tolong cak lagi bio nya wanita yang hari ini baru masuk kerja sebagai officegirl di sini, dan saya tidak mau sampai wanita itu lancang masuk ke ruangan saya lagi," ucap Rangga dengan tegas.
"Baik pak, saya akan periksa, maafkan atas kelalaian saya," ucap pak Tedi..
__ADS_1
"Ya silahkan kembali bekerja," ucap Rangga.
Pak Tedi menunduk lalu pamit keluar ruangan Rangga, ia merasa kesal dengan officegirl baru yang berani mengoda pemilik pabrik.
sedangkan di ruangam Rangga Nhatan bertanya masala yang baru saja terjadi.
"Officegirl menggoda anda pak? seperti apa oraangnya jika saya bertemu akan saya tegur secara langsung," ucap Nhatan.
***
DI sisi lain Rani sedang di warung Nasi hari ini Rama mulai di ajarkan oleh Rani bagaimana mengelola keuangan waeung dan segala macamnya.
"Bu Rani, ini ada pesenan catering untuk dua minggu yang akan datang," ucap Dinda seraya memberikan buku Nota kepada Rani.
"Nah Dinda ingat ya mulai hari ini kamu laporan apapun sama Rama, karna Rama yang akan mengurus warung nasi ini," ucap Rani.
Dinda mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Rani lalu memberikan buku nota pada Rama.
"Ini pak Rama catetannya," ucap Dinda.
"Kamu kok panggil saya pak, saya kan belum tua, belum menikah tidak mau di apnggil bapak," protes Rama.
"Lalu saya panggil apa?" tanya Dinda.
"Ya terserah, bisa kakak, Mas, Abang, asal jangan bapak, panggil sayang juga boleh," ucap Rama.
Ehem ....
Rani berdehem membuat Rama tertawa sedangkan Dina merasa malu ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah.
__ADS_1