Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
12. Endi


__ADS_3

"Astagfirullah apa yang kalian lakukan di sini," ucap Rani terkejut melihat sepasang anak muda sedang asik bercumbu di dalam kamar, pemuda itu Endi anak sambung Rani yang baru kelas 1 SMP sedangkan wanitanya Rani tidak mengenalnya.


Endi dan juga teman wanitanya terkejut ketika mereka ketahuan, Endi lupa mengunci kamarnya sehingga Rani bisa masuk dengan mudah dan melihat semua itu.


"Endi, siapa wanita ini?" tanya Rani.


"Pacar aku Bu," jawab Endi dengan santai.


"Endi kamu baru kelas satu SMP sudah pacaran dan berani membawa pacar ke rumah, di dalam kamar berbuat yang tidak tidak dan lagi sekarang sudah malam apa anak ini tidak di cari orang tuanya," cecar Rani.


"Ya emang kenapa kalau aku pacaran, hak aku dong hidup-hidup aku, kamu cuma ibu tiri jangan cerewet jangan sok ngatur ngatur, orang tua kandungku aja gak protes," ucap Endi.


Rani menghela nafas mendengar ucapan anak sambungnya memang selama ini anak itu tidak pernah menghormati Rani sebagai ibu sambungnya, namun Rani masih bersabar dan tidak terlalu memusingkan hal itu.


Namun untuk perbuatan kali ini Rani merasa Endi wajib di nasehati, usianya masih terlalu dini untuk mnegenal pacaran, mungkin jika hanya sekedar cinta monyet suka sukaan sudah menjadi hal yang lumrah, tapi jika pacaran hingga sudah berani bercumbu dan membawa pacarnya ke kamar di malam hari itu sungguh kelewat batas.


"Endi, anak seusia kamu harusnya fokus belajar bukan malah pacaran, ibu tidak melarang kamu pacaran ibu tau di luar sana sudah lumrah anak seusia kamu mengalami puber dan merasakan cinta monyet, tapi kamu tidak boleh membawa pacar kamu ke kamar di malam hari dan kalian bercumbu, lagipula apa ga takut orang tua dari pacarmu akan mencarinya," ujar Rani panjang lebar.


"ish ibu benar benar bawel ya, dia ga akan di cariin orang tuanya, dia sudah izin menginap di rumah temannya bilangnya ada kerja kelompok," jawab Endi.


"Dan kamu berbohong pada orang tuamu agar bisa menginap di sini?" tanya Rani.


Mendengar suara keributan membuat Ridwan terbangun dan menuju sunber keributan.


"Ada apa ini ribut malam-malam?" tanya Ridwan.


Tubuh gadis itu bergetar kala melihat Ridwan datang dengan tampang sangarnya, kekasih dari Endi itu takut mendapatkan omelan dari pria berwajah sangar yang tak lain adalah Ridwan ayah kandung Endi.


"Ini semua gara-gara ibu, ibu yang bikin keributan," ucap Endi.


Ridwan menatap istrinya lalu beralih menatap Endi dan wanita di sebelahnya.


"Siapa dia Endi?" tanya Ridwan.


"Itu pacarnya Endi bang tadi gak sengaja aku lihat Endi dan pacarnya sedang bercumbu di kamar," ucap Rani.

__ADS_1


Mata Ridwan membola mendengar ucapan Rani, lalu ia menatap tajam kearah Endi putranya.


"Bener  begitu En?" tanya Ridwan.


Endi hanya menunduk kala di tanya seperti itu oleh ayahnya, sedangkan kekasihnya Endi semakin ketakutan.


"Kamu ini apa apaan Endi, baru umur segini sudah berani bawa perempuan ke rumah, sekolah dulu yang benar jangan pacaran, kalau kamu sampai buat anak orang hamil memang kamu bisa tanggung jawab, bisa kamu nikah dan nafkahin anak orang," Ridwan mengomeli Rendi.


"Aku juga ga akan ngehamilin dia yah," ucap Endi dengan suara pelan.


"Siapa yang bisa jamin jika kalian berdua di dalam kamar tidak melakukan hal hal yang di larang dan membuat perempuan ini hamil, sekarang kamu antarkan dia pulang," ujar Ridwan.


"Tapi om ini sudah setengah sebelas malam, saya takut mamah papah marah kalau saya pulang di antar laki-laki," kekasih Endi yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.


"Lalu sekarang kamu mau apa? Menginap di sini? Apa kata tetangga nanti?" ujar Rani.


Ridwan memijit pelipisnya, ia merasa pusing dengan masalah yang di buat anaknya.


Sedangkan kekasih Endi menangis karena ketakutan di suruh pulang.


Rani mengerutkan keningnya kaget atas keputusan suaminya, sementara Endi tersenyum merasa ayahnya berada di pihaknya.


"Tapi Bang, gimana kalau mereka macam macam?" tanya Rani.


"Pacarnya Endi suruh tidur di kamar ibu, Endi tidur sama aku biar aku awasi agar dia gak macam-macam sama pacarnya, terus pagi pagi sebelum jam 6 kalian harus sudah siap berangkat dari rumah ini biar tetangga pada ga tau," ucap Ridwan.


Rani menghela nafasnya, mau tidak mau menuruti pendapat suaminya,  ia merasa Ridwan sedang mengajari anaknya untuk berbuat tidak baik, tapi ia juga tak punya hak untuk membantah.


Akhirnya malam itu berjalan sesuai yang di katakan Ridwan.


Pagi pagi sekali Endi dan pacarnya sudah rapi dan pergi dari rumah, mereka pun melakukan aktivitas seperti biasanya.


Karna ini hari minggu jadi Ridwan dan Rani sama-sama libur kerja.


Mereka menikmati hari libur bersama, Bintang sangat senang bermain dengan ayahnya karna ini adalah hal yang langka, Rani tersenyum ia berharap suaminya dapat berubah menjadi seperti yang dia inginkan.

__ADS_1


"Bang Rani seneng kalau abang seperti ini terus," ucap Rani tulus.


"Ya kamu juga harus selalu seperti ini biar aku betah di rumah,"  balas Ridwan.


"Iya bang," jawab Rani.


"Kamu masak apa hari ini aku sudah lapar," ucap Ridwan.


"Aku bikin ayam saus padang sama sayur capcay Bang," ucap Rani.


"Wah enak tuh cepat bawa kesini," ucap Ridwan.


Rani tersenyum lalu membawakan makanan untuk suaminya, Ridwan makan dengan lahap membuat hati Rani senang, belakangan ini suaminya berubah tak lagi marah marah, pulang tepat waktu dan jarang komplain dengan masakannya.


Setelah selesai makan Rani tak lupa menyuapi mertuanya, Mertuanya pun begitu senang dan hatinya merasa tentram mendengar tak ada lagi pertengkaran antara anak dan menantunya.


"Ran semalam itu pacarnya Endi?" tanya ibu mertuanya.


"Iya bu," jawab Rani.


"Anak itu benar-benar ya, masih kecil sudah berani membawa pacar kerumah di ajak nginep segala lagi,"


"Itu dia bu makanya semalam aku nasehatin Endi, tapi Endi kan ga pernah menghormati aku, dia selalu tidak terima dengan nasehat yang aku berikan," ucap Rani.


"Maafkan cucu Ibu ya Ran, dia memang sangat tidak sopan sama seperti ibu kandungnya, seandainya bukan kamu ibu tirinya pasti selalu bertengkar setiap hari, untung kamu orang yang sabar,"


Rani tersenyum memandang wajah mertua yang sudahbia sayangi sepertu ibunya sendiri, ia menyuapi mertuanya hingga makanan di piring habis, lalu memberikan obat untuk di minum mertuanya rutin setiap hari.


Saat akan berdiri dan merapikan peralatan kotor bekas makan mertuanya ada suara ribut di luar rumah yang membuat Rani terkejut.


"Rani keluar kamu, dasar perempuan kurang ajar," teriakan dari luar membuat Rani terkejut karna suara itu tak asing di telinganya.


Siapa sih kok ribut banget di luar tapi kok suaranya kaya gak asing. Batin Rani.


Rani dan Ridwan pun akhirnya keluar rumah untuk memastikan siapa yang datang, suara orang itu terus berteriak sangat berisik membuat tetangga keluar runah karna penasaran.

__ADS_1


Rani dan Ridwan membolakan matanya ketika melihat siapa yang datang kerumahnya seraya berteriak tak jelas.


__ADS_2