Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
36. Anak yang malang


__ADS_3

"Ridwan kabur pak RT," ucap salah satu warga yang tadi menunggu Ridwan di rumahnya.


"Apa? dasar lelaki pengecut," umpat Weni.


"Jadi gimana ini Mbak Weni? apa Mbak mau menunggu sampai warga menemukan pak Ridwan lalu Mbak menyelesaikan masalah rumah tangga Mbak dengan pak Ridwan?" Tanya pak RT.


Weni terdiam tampak berpikir, dari pada menunggu Ridwan di temukan lebih baik dia pergi meninggalkan Ridwan dan memulai hidup baru tanpa lelaki itu.


"Lebih baik saya pulang ke rumah peninggalan orang tua saya saja di kampung pak, saya akan merawat anak saya di sana, saya sudah tidak mau lagi menjalani pernikahan dengan bang Ridwan, dia sangat kasar, saya tidak mau meregang nyawa di tangannya," ucap Weni.


pak RT dan warga terlihat iba mendengar ucapan Weni, semua orang semakin tidak menyukai Ridwan, mulai dari perceraian nya dengan Nurul dan Rani kini ia juga menyakiti Weni istri barunya.


"Ya sudah jika itu memang mau nya Mbak Weni, kami tidak berhak melarang, tadinya sebagai ketua RT saya ingin membantu menyelesaikan masalah rumah tangga Mbak agar ada solusi yang baik, namun karna pak Ridwan yang kabur ya kita tidak bisa berbuat apa-apa keputusan di tangan Mbak," ucap Pak RT.


"Terima kasih pak RT, Bu Sari dan semua warga yang sudah membantu saya, saya tidak tau seperti apa nasib saya jika tidak ada kalian semua," ucap Weni.


Banyak warga perempuan yang menatap iba pada Weni karena hal yang hari ini dia alami, mereka melupakan bagaimana menyebalkannya Weni.


Weni pergi dari kampung tersebut membawa anaknya, namun di tengah perjalanan Weni terus menggerutu karna anaknya kepanasan sehingga tak berhenti menangis.


"Berisik bangey sih, cengeng nangis terus," ucap Weni terdengar kesal.


Bayi itu mungkin saja kehausan dan ingin menyusu namun Weni tak memperdulikan nya, hingga ia melewati sebuah plang bertuliskan nama sebuah panti asuhan.


Weni memasuki gang sempit lalu ia kini berada di sebuah bangunan bernuansa Putih.


"Assalamualaikum," ucap Weni.


"Waalaikum salam," jawab wanita dari dalam denhan suara lembut.


Weni tersenyum melihat seorang wanita cantik menggunakan kerudung panjang membuka pintu.


"Mbak siapa dan perlu apa ya Mbak?" tanya wanita tersebut.


"Bu, ini saya mau menitipkan anak ini di sini," ucap Weni.


wanita cantik itu menatap Weni dan anak dalam gendongannya yang masih menangis tapi tak seheboh tadi.

__ADS_1


"Kalau boleh tau ini anak siapa Mbak?" tanya wanita yang ternyata pemilik panti asuhan.


"Say-saya tidak tau Bu, saya menemukan di kereta tadi tapi tak ada yang mengakui anak ini, jadi saya bawa ke sini, karena saya belum bisa mengurusnya, karna saya harus bekerja," jawab Weni berbohong.


"Oh begitu ya, Ya sudah tidak apa-apa di titip di sini kami tidak keberatan," ucap pemilik panti asuhan.


setelah anak itu berada di panti asuhan Weni pun pamit berpura pura akan jam kerja saat ini.


"Maafkan aku anakku, sepertinya kamu lebih baik di tempat itu, dari pada bersama ayahmu, lagi pula aku harus bekerja seperti dulu agar hidupku tidak sengsara seperti saat bersama Ridwan," gumam Weni sambil terus berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Begitu saja nasib anak malang itu tak di inginkan oleh kedua orang tuanya, Ridwan yang kabur entah kemana karna takut di laporkan polisi atas tindak kdrt-nya.


Weni yang memilih jalan sendiri kembali bekerja berprofesi seperti semula sebelum bertemu dengan Ridwan.


***


Sementara di sisi lain.


warung nasi Rani semakin ramai temen-temen Winda yang biasa memesan nasi box/ bekal kerja pada Rani penasaran ingin melihat secara langsung seperti apa penjual nasi box yang biasa mereka makan setiap hari.


sampainya di warung nasi Rani,, Winda membawa sekitar 25 orang yang biasa memesan nasi box, sehingga warung nasi Rani tampak penuh dengan pengunjung.


"Iya ini namanya Mbak Rani, Mbak ini kenalin teman-teman saya yang bekerja di pabrik yang setiap harinya memesan makanan ke mbak," ucap Winda.


"Halo semua salam kenal," ucap Rani tersenyum.


semua teman-teman Winda menyukai Rani yang cantik dan ramah terutama teman-teman lelaki Winda.


"Wah nggak nyangka sih ternyata orang yang selama ini memaksakan makanan untuk kita itu wanita cantik, jadi ngebayangin deh punya istri cantik dan pintar masak seperti Mbak Rani pasti sangat beruntung pasti makmur," ucap salah satu teman lelaki Winda.


teman yang lain terkekeh mendengar ucapan lelaki tersebut, dan teman perempuan Winda fokus pada wajah Rani yang begitu mulus dan bersih.


"Mbak Rani cantik banget kulitnya mulus dan bersih pakai skin care apa Mbak bagi dong rahasianya," ucap salah satu teman Winda.


Rani yang memang sudah menjadi reseller produk skin care yang ia pakai pun akhirnya merekomendasikan skin care tersebut, dan Rani tidak menyangka jika respon teman-teman Winda sangat baik beberapa di antara mereka ada yang langsung memesan skin care kepada Rani, tentu saja hal itu membuat Rani senang karena membuka satu lagi jalan rezeki Rani.


setelah keramaian tersebut mereka pun kembali ke pabrik karena sudah waktunya untuk bekerja kembali jam makan siang sudah selesai.

__ADS_1


ketika hendak merapikan bekas-bekas makanan Rani melihat ada suatu benda tertinggal di atas meja di sudut ruangan.


"Dompet, gua sepertinya ada dompet temannya Winda yang tertinggal," ucap Rani.


Rani membuka dompet tersebut mencari kartu identitas pemilik dompet, lalu ia menemukan kartu identitas tersebut, ternyata pemilik dompet tersebut adalah lelaki bernama Rangga.


Rani lantas menelepon Winda namun tidak diangkat oleh Winda sehingga Rani memutuskan untuk pergi ke pabrik Winda untuk mengantarkan dompet teman Winda yang tertinggal di warung nasi milik Rani.


"Dinda saya pergi sebentar ya kamu jaga warung seperti biasa, kasihan kalau dompet ini tidak segera dikembalikan orang itu pasti akan panik untuk mencari dompet ini," ucap Rani.


Dinda mengangguk patuh, Rani pun pergi meninggalkan warung nasi menggunakan sepeda motornya menuju pabrik di mana Winda bekerja.


sampainya di depan gerbang pabrik tempat Winda bekerja Rani dihalangi oleh satpam.


"Mbak apa dan mau bertemu dengan siapa ini masih jam kerja?" tanya satpam tersebut.


"Saya mau bertemu dengan karyawan yang bernama Rangga, dompetnya tertinggal di warung nasi saya dan saya ingin mengembalikannya," ucap Rani to the point.


satpam pun memeriksa dompet tersebut Lalu ia menggunakan telepon di dalam posnya dan menelepon seseorang Karena ia merasa sangat mengenal foto dari pemilik dompet tersebut.


tak Lama kemudian seorang lelaki tampan berjalan dengan langkah yang gagah menuju pos satpam.


"Ini dompet milik bapak?" tanya satpam.


lelaki tersebut Lalu memeriksa dompet yang diberikan oleh satpam kepadanya, ia mengangguk dan mengakui memang dompet itu miliknya.


"Di mana kamu menemukan dompet ini saya lupa kapan dan di mana saya menjatuhkannya," lelaki tampan yang mungkin nama Rangga seperti nama yang ada di kartu identitas di dalam dompet tersebut.


"Mbak ini yang datang mengantarkan dompet bapak katanya dompet bapak tertinggal di warung nasinya," ucap satpam.


kemudian Rangga menatap ke arah Rani dan mengucapkan terima kasih kepada Rani telah bersedia mengantarkan dompet miliknya.


"Terimakasih Mbak sudah mengembalikan dompet saya yang tertinggal, uangnya memang tidak banyak tapi di sini banyak kartu-kartu penting, sekali lagi terima kasih karena Mbak sudah bersedia mengembalikan dompet milik saya tanpa kurang satu apapun," ucap Rangga.


"Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi pulang karena saya harus kembali berjualan di warung nasi saya," ucap Rani.


"Mbak tunggu sebentar, bolehkah saya meminta nomor handphone Mbak?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Untuk apa nomor handphone saya?" tanya Rani.


.


__ADS_2