
"Saya tidak keberatan pak, semoga bapak di sana sehat selalu," jawab Rani.
Rangga tersenyum mendengar ucapan Rani, setelah cukup lama bermain dengan kedua anak Rani, Rangga pun akhirnya pamit pulang.
"Saya pamit pulang, besok saya pergi ke Singapura, saya berharap jika saya kembali kesini kamu sudah mau membuka hati kamu untuk saya," ucap Rangga.
Entah mengapa wajah Rani langsung bersemu merah mendengar ucapan Rangga, Rani tak menjawab ucapan Rangga sampai akhirnya Rangga pergi dari rumah itu.
"Dia lelaki baik Ran, anak-anak mu saja bisa merasakannya, mereka begitu mudah dekat dengan Rangga, anak kecil itu bisa merasakan orang yang tulus dan hanya pura pura," ucap Emak.
Rani menghela nafasnya ia masih bimbang dengan perasaanya, bukan hal mudah untuk membalut luka dan menyembuhkan nya, Rasa trauma hingga tidak percaya akan adanya cinta dan ketulusan seorang laki laki akibat perbuatan yang di lakukan suaminya.
Dulu juga Ridwan perhatian dan membuat Rani merasa nyaman tapi setelah menikah semua berubah.
Itulah yang Rani takutkan sekarang.
Hari berganti Rangga pun kini telah berada di Singapura ia menghadiri pesta pernikahan sepupunya.
"Kenapa bengong aja hayo lagi mikirin siapa?" tanya sang Mama pada Rangga.
"Engga ada Mah aku nggak mikirin siapa-siapa kok," ucap Rangga berbohong.
"Kamu anak mama nggak usah bohong sama mama, Mama tahu ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran kamu Cerita dong, Apa itu masalah pekerjaan?" katanya mama indah.
"Engga mah pekerjaan semua lancar kok nggak ada masalah apa-apa," ucap Rangga.
"Lalu Apa yang sedang mengganggu pikiran kamu?" tanya mamah indah.
__ADS_1
Rangga terdiam haruskah ia bercerita tentang perasaannya kepada Rani akankah mamanya menerima Sani sebagai menantunya karena Rani adalah orang sederhana bukan kalangan dari orang kaya seperti keluarganya.
"Mah jujur saja Rangga sedang menyukai seorang wanita tapi dia bukan seperti kita dia hanyalah wanita sederhana Dia memiliki usaha sendiri dia janda dan memiliki dua orang anak," ucap Rangga.
"Oh ya, Lalu bagaimana perasaan dia kepada kamu apakah dia juga menyukai kamu jika memang iya cepatlah bawa ke rumah perkenalkan pada Mamah dan papa," ucap Mamah indah begitu antusias.
Pasalnya semenjak 2 tahun lalu perceraian Rangga dan mantan istrinya,
Rangga tak lagi memikirkan masalah asmaranya, ia memilih sibuk untuk bekerja beberapa kali Mama indah memperkenalkan wanita kepadanya namun Rangga selalu saja diam tak berkomentar seakan enggan merajut hubungan asmara kembali, kini Mamah indah mendengar Rangga menyukai seorang wanita hal itu membuat Dia sangat senang dan bersemangat untuk segera melamar wanita itu untuk Rangga apalagi wanita itu memiliki usaha sendiri itu artinya Dia adalah wanita yang mandiri.
"Itu dia mah sepertinya dia masih trauma dengan pernikahannya Karena Dia bercerai dengan alasan suaminya berselingkuh bukan hanya sekali tapi berkali-kali," ucap Rangga.
"Ya Tuhan kasihan sekali wanita itu siapa namanya?" tanya Mamah Indah.
"Namanya Rani mah sepertinya dia masih muda dia cantik Anggun baik dan sangat ribuan dia juga mandiri setiap kali aku datang membawa sesuatu untuk anak-anaknya dia selalu menolak ia ingin tidak merepotkan aku, hal semacam ini sudah sangat jarang aku temukan dari wanita-wanita, biasanya wanita yang mendekati aku hanya karena harta setiap kali berkencan denganku langsung meminta ini dan itu namun berbeda dengan Rani Bahkan aku ingin memberi sesuatu untuknya saja takut ia tolak mah," ucap Rangga.
"Mamah jadi semakin penasaran dengan wanita ini, setelah kita pulang dari sini langsung saja lama dia tapi berikan dia kesempatan untuk berpikir biasanya perempuan akan melakukan salat istikharah untuk meminta jawaban kepada Tuhan menerima atau menolak lamaran seorang lelaki," ucap Mama indah.
Mamah indah tersenyum rupanya anaknya sudah mencari tahu tentang wanita itu lebih dalam, dan dari cerita anaknya dapat disimpulkan bahwa Rani memanglah orang yang tulus baik dan juga mandiri, tentu saja wanita seperti itu yang ia cari sebagai menantunya.
"Jangan ditunda-tunda lagi Rangga pulang dari sini kita harus melamar wanita itu mama takut jika kamu kedua orang lain wanita seperti itu pasti banyak yang menginginkannya menjadikan istri," ucap Mama Indah.
"Tapi Mah, Aku punya kekurangan akankah dia bisa menerima kekuranganku? aku memang sangat menyukai Rani tapi aku juga takut dia seperti mantan-mantan istriku setelah menikah mereka menyesal dan akhirnya tetap meninggalkan aku," ucap Rangga.
"Saat melamar kita jelaskan apa kekuranganmu di hadapannya dan keluarganya, jika memang dia bisa menerima kamu itu artinya dia memang jodoh terbaik untuk kamu, jika dia tidak menerima kamu kamu harus berlapang dada, yang pasti kita harus berusaha lebih dahulu daripada nanti dia Sudah dimiliki orang lain tanpa kita berusaha itu akan lebih sakit untukmu," ucap Mama indah.
Rangga mengangguk menyetujui ucapan mamahnya, sepertinya mulai saat ini ia harus menyiapkan mental untuk melamar Rani setelah pulang dari sini dan untuk menerima setiap jawaban yang diberikan oleh Rani nantinya.
__ADS_1
***
sementara di sisi lain.
Sudah dua hari kepergian Rangga ke Singapura, Rani merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya biasanya Rangga selalu mengirim pesan menanyakan Rani sudah makan atau salat belum, tapi dua hari ini ia melihat tidak ada pesan itu di ponselnya dari Rangga hal itu membuat dirinya merasa ada yang hilang.
"Loh aku Kenapa ya kok malah jadi nungguin pesan dari dia, dia pasti sibuk di Singapura atau mungkin dia benar-benar tidak akan kembali lagi ke sini," gumam Rani.
"Bu makanannya semua jadi 75.000 kembaliannya 25.000," ucap Dinda.
Namun karena pikiran Rani yang sedang memikirkan Rangga ia tidak mendengar ucapan dari Dinda sehingga Dinda melihat Rani yang sedang menatap uang di tangannya dengan tatapan kosong.
"Bu kembaliannya," ucap Dinda kembali.
"Eh maaf berapa kembaliannya belanjanya berapa tadi Dinda,"ucap Rani tergagap.
"Belanjaannya 75.000 kembaliannya 25.000," ucap Dinda.
Rani pun memberikan kembalian kepada Dinda setelah pelanggan itu pergi Dinda mengajak Rani berbicara.
"Ibu bengong terus lagi mikirin Pak Rangga ya," tebak Dinda.
"Enggak lah, sok tahu banget sih kamu," ucap Rani mengelak.
"Bu, Dinda udah remaja Dinda juga suka pernah naksir sama laki-laki dan Dinda tahu seperti apa rasanya nggak jauh beda sama yang Bu Rani rasakan sekarang, kalau kangen ditelepon aja Bu siapa tahu Kak Rangga juga di sana sedang kangen sama Ibu," ucap Dinda mengejek.
"Udah ah, balik kerja lagi," ucap Rani.
__ADS_1
Dinda tersenyum dan kembali tiba-tiba ponsel Rani berdiri Rani pun langsung mengangkat sambungan telepon itu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menghubunginya.
"Hallo,"