Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
9. Kondangan


__ADS_3

"Ran coba kamu ngaca deh, di kamar kan ada kaca besar, kamu liat badan, wajah dan penampilan kamu, malu aku jalan bareng sama kamu, apalagi ke kondangan pesta tamunya orang kota pasti cantik cantik," ucap Ridwan tanpa memikirkan perasaan Rani.


Hati Rani terasa teriris mendengar ucapan suaminya, selalu hinaan yang ia dapatkan, tak pernah ia mendapat pujian seperti dulu saat mereka masih pacaran.


"Gak usah cengeng, gak usah nangis, apa yang aku bilang tuh bener, badanmu sekarang aja lebar kaya badut," ucap Ridwan menambah perih hati Rani.


"Aku gemuk karna efek KB Bang, aku lusuh karna aku ga bisa beli baju dan make up, dulu waktu aku belum menikah denganmu aku ga kaya gini," jawab Rani.


Mendengar jawaban dari istrinya Ridwan merasa tidak senang seakan di salahkan, padahal apa yang di katakan Rani memanglah benar adanya.


"Jadi kamu nyalahin aku, uang yang aku berikan ga nyukupin? Begitu hah?" bentak Ridwan.


Rani beringsut mendengar bentakan suaminya, ia takut kena tamparan dari suaminya lagi seperti waktu itu.


"Tapi emang bener kan apa yang aku bilang, dulu aku cantik, langsing, wangi dan rapi, tapi setelah menikah dengan abang dan punya anak aku berubah jadi seperti ini," ucap Rani.


Meskipun ada ketakutan tapi Rani tetap mengatakan hal itu, hal yang sudah lama ia pendam di dalam hatinya.


"Ya kalau mau cantik dan rapi kamu kerja lah, cari uang sendiri biar bisa beli make up dan baju, jangan cuma ngandelin aku, kamu kan tau gajiku berapa dan kebutuhanku banyak," sentak Ridwan.


"Aku juga mau kerja Bang, tapi kan ada ibu dan Bintang yang harus aku urus," jawab Rani.


"Ah udah lah aku pusing dengar ocehanmu tiap hari," sentak Ridwan seraya membanting remot tv hingga remot itu hancur, kemudian Ridwan pergi dari hadapan istrinya.


Rani hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan suaminya yang semikin hari semakin kasar, tak bisa di ajak bicara baik baik.


***


Seminggu berlalu, hari ini adalah hari dimana pesta pernikahan anak bu Nia di balai desa di adakan.


Rani memakai gamis yang ia punya, setahun lalu ia beli ketika hari raya idul fitri, memakai kerudung segiempat yang ia pakai dengan simpel, lalu mengoles wajah dengan sisa bedak, lipstik dan pensil alis yang ia punya.


Ia memindai penampilannya di depan cermin, tubuhnya tak seindah dulu, wajahnya tak sebersih dulu tapi ia ada niatan untuk merubah dirinya kembali cantik dan menarik seperti dulu.


"Bu Rani pergi kondangan dulu ya," ucap Rani berpamitan pada ibu mertuanya.


Bu Minah memandang menantu dan cucu nya yang sudah berpakaian rapi.


"Berangkat sama Ridwan Ran?" tanya bu Minah.

__ADS_1


Rani menggelengkan kepalanya, ia lihat motor suaminya sudah tidak ada di depan rumah artinya suaminya sudah pergi terlebih dahulu tanpa menunggunya.


"Ridwan benar-benar keterlaluan." ucap bu Minah.


"Ga apa-apa bu, aku jalan kaki aja sama Bintang," ucap Rani.


"Hati-hati di jalan Ran," ucap bu Minah.


Rani pun pergi menghadiri undangan bu Nia ke balai desa berjalan kaki menuntun anaknya yang berusia dua tahun.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di sebelahnya.


"Ran mau kondangan ke bu Nia?" tanya Intan.


"Eh iya Mbak intan," jawab Rani.


"Jalan kaki suamimu mana?" tanya Intan.


"Emh ... Dia sudah duluan Mbak,"  ucap Rani.


Intan merasa geram dengan Ridwan suaminya Rani, dia tau di pabrik Ridwan selalu genit pada karyawan perempuan dan di rumah memperlakukan Rani dengan buruk.


"Apa engga merepotkan Mbak?" tanya Rani.


"Enggak, kan emang satu tujuan lagi pula di belakang kosong, kamu juga ga keberatan kan Mas aku ngajak Rani bareng kita," ucap Intan seraya bertanya pada suaminya.


"Enggak keberatan kok, masuk aja Mbak Rani," ucap Haris suami Intan.


"Makasih Mbak Intan, Mas haris," ucap Rani lalu membuka pintu mobil Intan dan naik ke dalamnya.


Bintang berbinar anak berusia dua tahun itu begitu senang saat menaiki kendaraan beroda empat yang belum pernah ia naiki.


Sesampainya di acara bu Nia, mereka memberikan selamat pada bu Nia dan keluarga lalu di persilahkan menikmati hidangan yang di sediakan, saat Rani hendak melangkah menuju stand makanan ia melihat Ridwan sang suami sedang bersenda gurau dengan temannya ada juga wanita **** di sebelahnya yang terlihat akrab dengan suaminya.


Setelah mengambil beberapa makanan Rani menuntun anaknya mencari tempat duduk dekat dengan suaminya.


Rani menyuapi Bintang makanan, namun mata Bintang melirik kekanan dan ke kiri karna suasana ramai dan Bintang melihay keberadaan Ridwan.


"Ayah," teriak Bintang.

__ADS_1


Mendengar teriakan Bintang Ridwan pun menengok dan akhirnya melihat keberadaan anak dan istrinya yang berada di dekatnya.


"Itu anakmu Bang?" tanya Weni.


Ridwan memang sengaja mengajak Weni menghadiri pesta tersebut dan menolak pergi bersama istrinya alasannya malu membawa istri yang gemuk dan tak terawat.


"Iya," jawab Ridwan.


"Lalu itu istrimu?" tanya Weni lagi.


"Iya," jawab Ridwan.


Weni tertawa terbahak-bahak melihat penampilan istri sah kekasih gelapnya yang kontras dengan penampilannya yang cantik den ****.


"Pantes aja kamu ga nafsu, ga betah di rumah dan sampai selingkuh, jadi begini penampakan istrinya," ucap Weni mengejek.


Rani mendengar ucapan wanita **** yang ia belum tau siapa namanya dan apa hubungannya dengan suaminya merasa kesal karna di ejek.


"Gak salah kan kalau abang ga betah di rumah," ucap Ridwan menambah jengkel Rani.


"Dia siapa Bang, kenapa ikut campur dan mengejekku?" tanya Rani.


Weni mengulurkan tangannya, dengan sombong memperkenalkan dirinya.


"kenalkan, aku Weni pacar bang Ridwan," ucap Weni bangga.


Rani mengepalkan tangannyaa menatap penampilan Weni dari atas hingga bawah, ****, menor seperti seorang yang sedang mengobral tubuhnya.


"Jadi kamu selingkuh dengan perempuan seperti ini bang?" tanya Rani.


"Kenapa memangnya, insecure ya, aku dan kamu jelas seperti langit dan bumi jelas jelas Bang Ridwan lebih pilih aku yang cantik dan **** dari pada kamu yang jelek dan gendut," bukan Ridwan tapi Weni yang menjawab.


Rani mencoba menahan amarahnya, sebenarnya ia sangat ingin marah dan mencaci perempuan di hadapannya namun ia tidak ingin merusak suasana pesta bu Nia.


"Untuk apa cantik dan **** jika kelakuannya murahan, kegatelan, hobi godain suami orang dan merusak rumah tangga orang," jawab Rani ketus.


Weni begitu geram dengan ucapan Rani yang pedas, ia pun mulai memancing keributan dengan suaranya yang tinggi.


"Siapa yang kamu sebut murahan? Kegatelan dan hobi godain suami orang? Aku ga pernah goda suami kamu, tapi dia yang menggodaku," ucap Weni dengan nada tinggi.

__ADS_1


Seketika Rani menjadi pusat perhatian orang orang, dan seseorang yanh sejak tadi memperhatikan Rani pun menghampiri mereka.


__ADS_2