Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
15. Terulang kembali


__ADS_3

"Hamil?" tanya Ridwan.


"Iya Bang," jawab Rani.


Ridwan menghela  nafas lalu kembali memonton siaran tv di hadapannya.


"Kok bisa hamil, bukannya kamu kb Ran?" tanya Ridwan.


"Aku berhenti Kb Bang, soalnya kalau aku kb bandanku gemuk,  abang kan pengennya aku langsing dan cantik," jawab Rani.


"Tapi kalau nanti kamu hamil pasti kamu gendut lagi," ucap Ridwan.


"Kalau aku gendut lagi terus abang bakal selingkuh lagi? gitu Bang?" tanya Rani dengan mata berkaca-kaca.


Tak ada jawaban dari Ridwan entah karna ia fokus terhadap tayangan televisi atau ia malas menanggapi ucapan istrinya itu.


Rani menghela nafasnya belum apa apa suaminya sudah mengatakan hal itu, sudah di pastikan tidak bisa mengaharap respon menyenangkan dari suaminya atas kehamilannya kali ini.


Ia berjalan menuju kamar lalu menatap pantulan dirinya di cermin, air matanya menetes menangisi nasibnya dan nasib pernikahannya.


"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan dalam rumah tangga ini, ya Allah kapan bang Ridwan akan berubah, aku berharap kehamilanku kali ini tidak seperti kehamilan pertamaku," gumam Rani seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Hari hari berlalu begitu saja, Rani tak semangat menyambut kehamilannya kali ini, kondisi tubuhnya masih kuat untuk menjalani pekerjaan sehari hari, ia pun masih bekerja di rumah Intan.


"Ran kamu hamil lagi?" tanya bu Minah sang mertua.


"Iya bu," jawab Rani lemas.


"Emang kamu gak kb?" tanya bu Minah.


Rani menggelengkan kepalanya sambil terus menyuapi ibu mertuanya.


"Bang Ridwan kan pengennya aku langsing bu, kalau aku gendut selalu di bilang seperti badut, dia juga berselingkuh karna malu punya istri gendut, jadi aku lepas kb karna aku gendut kan efek kb, setekah lepas kb dan rutin olah raga aku memang jadi langsing, tapi ternyata aku malah hamil lagi," ucap Rani.


Ada sebuah penyesalan terdengar dari ucapan yang di keluarkan dari bibir wanita cantik itu.


"Ya sudah lah Ran semua sudah terjadi, anak itu titipan tuhan, bahkan banyak pasangan suami istri yang lama menikah tapi belum di karuniai anak, sedangkan kamu baru berhenti kb berapa bulan saja sudah hamil lagi," ucap bu Minah.

__ADS_1


"Iya bu, Rani cuma takut Bang Ridwan kaya dulu lagi aja bu," ucap Rani.


"Doakan saja semoga ga terulang," ucap bu Minah.


Rani hanya mengangguk dan menghela nafas panjang, setelah selesai menyuapi ibu mertuanya sarapan Rani bergegas kerja ke rumah Intan seperti biasa.


Waktu bergulir begitu cepat Rani tak pernah memeriksakan kandungannya pada bidan, Ridwan pu kembali bersikap cuek kepada Rani dan hal yang membuat Rani semakin gundah kini Ridwan sering pulang telat.


"Bang kok kamu jadi sering pulang telat sih," tanya Rani.


"Iya banyak kerjaan," jawab Ridwan singkat.


"Beneran banyak kerjaan ga bohong," selidik Rani.


Ridwan menyeruput kopi buatan istrinya lalu menyimpan cangkirnya sedikit keras hingga menimbulkan suara yang membuat Rani terkejut.


"Gak percaya banget sama suami, aku tuh cape pulang kerja malah di curigain ga jelas sama kamu," ucap Ridwan dengan suara tinggi membuat Rani beringsut dari duduknya.


"Bu-bukan gitu bang, aku cuma khawatir aja, mungkin hormon kehamilan jadi aku sedikit berlebihan," dengan suara bergetar.


"Makanya siapa suruh hamil," bentak Ridwan seraya pergi dari hadapan Rani, Rani hanya mampu menangis mendapati perlakuan suaminya seperti itu lagi.


Tring


Tring


Tring


Suara handphone milik Ridwan membuyarkan lamunan Rani, ia menghapus air matanya lalu berjalan mengambil gawai tersebut.


Dan ternyata layar ponsel itu di beri kata sandi.


"Gapain kamu pegang-pegang hp aku Ran?" tanya Ridwan yang kini berada di ujung pintu.


Dengan langkah cepat ia meraih handphone di tangan istrinya dengan sangat kasar.


"Tadi bunyi Bang, makanya aku ambil, kenapa di handphon abang di kasih kata sandi?" tanya Rani.

__ADS_1


"Gak apa apa," ucap Ridwan.


Tangannya terlihat lincah membuka sandi handphone lalu lengkungan senyum terlihat jelas di wajah Ridwan, Rani yang penasaran dengan berani meraih handphone Ridwan dan matanya terbelalak melihat apa yang ada di dalamnya.


"Astagfirullah Abang ini siapa?" tanya Rani dengan kesal.


"Apa sih kamu ga sopan main ambil barang orang begitu aja," ucap Ridwan seraya berusaha meraih kembali handphone miliknya.


Namun Rani tak membiarkannya begitu saja ia memnyembunyikan handphone itu di balik tubuhnya.


"Jawab Bang, itu siapa? Kenapa dia kirim foto hanya pakai dalaman saja?" tanya Rani dengan emosi yang sudah memuncak.


Pasalnya di dalam handphone suaminya ia melihat pesan whatsapp berupa foto, dan foto itu adalah foto seorang wanita tengah menggunakan pakaian dalam saja, wanita itu berpose tiduran di atas ranjang sehingga terlihat jelas sedang menggoda suaminya dengan foto tersebut.


"Kembalikan handphone ku," ucap Ridwan tanpa menjawab pertanyaan Rani.


"Gak akan, sebelum kamu jawab pertanyaan aku, aku gak akan berikan handphone ini," jawab Rani dengan berani.


Biasanya Rani hanya bisa menangis tanpa melawan perkataan suaminya, entah keberanian dari mana yang ia miliki sekarang hingga ia berani menjawab ucapan suaminya.


"Oh rupanya udah berani ngejawab dan bentak bentak aku sekarang kamu ya," ucap Ridwan yang mulai kesal dengan jawaban dari Istrinya.


"Udah cukup selama ini aku bersabar menghadapi kamu Bang, tapi kamu selalu seperti ini sama aku, siapa perempuan ini Bang, apa dia selingkuhan baru kamu?" tanya Rani dengan deraian air mata yang tak mampu ia bendung lagi.


Tak ada rasa bersalah di tunjukan oleh Ridwan saat istrinya menangis, ia malah menambahkan perih di hati istrinya dengan kata-kata yang menyakitkan.


"Memangnya kenapa kalau dia selingkuhan baru aku, kenapa? Kamu tuh ngaca Ran, kamu sama dia bagaikan lagit dan bumi dia cantik, mulus dan seksi sangat beda dengan kamu, maka jangan salahkan aku jika aku selingkuh, aku selingkuh untuk hiburan karna kalau di rumah selalu di buat pusing sama kamu," ucap Ridwan seraya menarik paksa handphone miliknya.


"Keterlaluan kamu Bang, bisa bisanya kamu selingkuh saat aku tengah mengandung anakmu," ucap Rani terisak.


Ia menangis tergugu sakit dan remuk hatinya kejadian lalu akhirnya terulang kembali, meskipun sebelumnya ia sudah berusaha menjadi yang di inginkan suaminya, kini saat ia hamil suaminya kembali berulah dengan berselingkuh dan menghinanya.


Pertengkaran kembali terjadi antara Rani dan Ridwan, bu Minah yang mendengar hal itu hanya bisa menangis dalam kamarnya, ia sunguh marah dan kecewa pada sikap Ridwan yang sangat sama seperti ayahnya dulu.


"Kamu keterlaluan Ridwan, kenapa kamu jadi seperti ayahmu, wanita sebaik Rani tidak pantas kamu sakiti berulang kali seperti itu," gumam bu Minah.


Andai wanita yang sudah renta itu masih sehat dan bisa berjalan seperti dulu, mungkin saja saat ini ia sudah melayangkan gagang sapu untuk memukuli anak laki-lakinya itu, namun kenyataannya badannya yang lemah tak berdaya hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Assalamualaikum," suara seseorang mengucap salam menghentikan pertengkaran antara pasangan suami istri tersebut.


Rani menghapus air matanya menarik nafas panjang untuk menetralkan perasaannya, ia berjalan lunglai ke depan pintu, dan saat membuka pintu ia terkejut melihat siapa yang datang bertamu.


__ADS_2