
"Bu tolong jaga mulut ibu ya jangan suka fitnah sembarangan, saya tidak pernah mengobral diri saya meskipun saya seorang janda saya punya harga diri," ucap Rani dengan sangat kesal.
"Masa sih, kok aku nggak percaya ya mana ada janda laku banget kalau nggak diobral apalagi yang datang sekelas Pak Rangga dan Bang Imron,"ucap Bu Hasanah tetangga yang suka ghibah.
"Jangan tanyakan pada saya tanyakan pada mereka Kenapa mereka mau dengan saya yang cuma janda dua anak ini, Ibu silakan pergi dari sini jika Ibu tidak ada keperluan, di sini tempat membeli makanan bukan tempat ghibah,"ucap Rani dengan berani mengusir bu Hasanah karena wanita paruh baya itu sudah sangat keterlaluan menyakiti hati Rani dengan ucapannya.
"Punya tetangga kok sombong banget sih baru punya warung nasi aja udah belagu segala usir aku inget ya aku nggak akan beli makanan di sini lebih baik aku beli makanan di tempat lain yang lebih mahal dan enak daripada di sini," ucap Bu Hasanah.
"Ya silakan Ibu pergi dari sini jika Ibu mau belanja di tempat lain tidak apa-apa saya tidak pernah memaksa ibu untuk membeli makanan di tempat saya karena memang Ibu tidak pernah membeli," ucap Rani.
Bu Hasanah pun pergi dari hadapan Rani dengan sangat kesal, Rani menghelan nafasnya ia tidak mengerti mengapa tetangganya yang satu itu sangat menyebalkan, padahal sebagai tetangga jika Rani memiliki rezeki lebih Ia suka berbagi dengan cucunya.
bahkan cucunya Bu Hasanah anak dari neneng sering bermain dengan Bintang, bahkan terkadang mainan Bintang dibawa pulang namun tidak dikembalikan oleh anak tersebut, meskipun demikian Rani tidak pernah mengungkit masalah itu karena Rani rasa anak kecil belum mengerti.
"Astaghfirullah untung punya tetangga yang seperti itu cuma satu kalau ada 10 bisa stres aku menghadapinya," gumam Rani.
"Bu Hasanah Kenapa sih Bu, kayaknya cari gara-gara terus sama ibu dan keluarga," ucap Dinda.
"Itu dia Dinda Ibu juga nggak tahu kenapa dia seperti itu, padahal ibu selalu berusaha berbuat baik tapi tetap saja balasannya seperti ini," ucap Rani.
mereka pun kembali bekerja dan melayani orang-orang yang membeli di warung nasi tersebut hingga makanan habis dan warung nasi di tutup.
***
Di sisi lain Rangga yang berada di kantornya mendapatkan laporan dari anak buahnya tentang mantan suami Rani yang datang berkunjung kepada Rani, Rangga memang sengaja mengirim satu orang mata-mata untuk memantau aktivitas Rani dan anaknya.
__ADS_1
"Berapa nama orangnya ada di warung nasi Rani?" tanya Rangga.
"Tidak lama dan saya dengar lelaki itu diusir oleh Rani," ucap orang suruhan Rangga.
Rangga tersenyum mendengar ucapan orang tersebut, minggu ini dia keluar kota selama 1 minggu dan ia berpesan kepada orang tersebut agar terus mengawasi aktivitas Rani dan kedua anaknya dan jika mereka dalam bahaya maka orang itu harus menolong Rani.
"Saya satu minggu ke depan ada di Singapura menghadiri pernikahan sepupu saya, kamu pantau terus Rani dan anak-anaknya jika mereka terlihat dalam bahaya kamu hubungi saja anak buahmu untuk menyelamatkan Rani," ucap Rangga.
"Baik pak, tapi sejauh ini mereka selalu aman," ucap orang tersebut.
Rangga menganggukkan kepalanya hari sudah sore waktunya Rangga pulang ke rumah namun ia menyempatkan diri untuk datang ke rumah Rani dan menemui kedua anak Rani.
Rangga membawa beberapa mainan untuk bulan dan bintang saat datang ke rumah Rani.
"Waalaikum salam," jawab Rani.
Rani membuka pintu dan melihat Rangga yang ada di hadapannya, ia melihat Rangga membawa 2 tentengan besar dan Rani pun mengerutkan keningnya.
"Silahkan masuk pak," ucap Rani.
Meskipun Rani tidak tahu Apa tujuan Rangga datang ke rumahnya dengan membawa tuntingan besar Rani tetap menyuruh rangka masuk untuk menghindari fitnah dari para tetangga.
"Eh ada nak Rangga," ucap Emak.
Rangga pun tersenyum lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut Lalu ia duduk di sofa dan memberikan dua tantangan besar itu kepada anak Rani.
__ADS_1
"Om ini apa?" tanya Bintang.
"Ini mainan untung Bintang dan Bulan," ucap Rangga.
Bintang membuka mainan tersebut dengan mata yang sangat berbinar-binar Rani datang membawa minuman lalu diletakkan di depan Rangga.
"Makasih om, aku suka banget mainannya," ucap Bintang sangat senang.
Rani melihat mainan yang dipegang oleh anaknya Ia pun menggelengkan kepalanya mengetahui bahwa mainan mahal lagi yang dibelikan untuk anaknya oleh Rangga.
"Pak, tolong jangan dibiasakan memberikan mainan mahal kepada anak saya," ucap Rani.
"Maaf Rani saya tidak ada niat apapun saat saya sedang di perjalanan menuju sini saya melihat mainan yang menarik dan saya teringat kepada kedua anakmu sehingga saya memberikan untuk mereka, saya juga sekalian pamit kepada kamu dan kedua anak kamu juga emak karena besok saya akan berangkat," ucap Rangga.
"Berangkat? berangkat ke mana?" tanya Rani.
"Iya, saya akan ke Singapura besok dan dalam waktu yang cukup lama berada di sana," ucap Rangga.
"Apakah bapak akan tinggal menetap di Singapura?" Tanya Rani.
"Memangnya kenapa Ran jika saya menetap si Singapura?" tanya Rangga.
Rani terdiam mendengar pertanyaan dari Rangga Ia pun tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal seperti itu seolah-olah tidak rela jika rangka menetap di Singapura.
"Apa kamu keberatan jika aku pindah dan menetap di Singapura?" tanya Rangga lagi.
__ADS_1