
"Kenapa kerjaan kamu minta uang terus sih, aku sudah beri kamu jatah masa beli kopi dan gula minta lagi," ucap Ridwan.
"Tapi Bang uang yang kamu kasih udah habis, kemarin kan Endi minta buat spp dua bulan," ucap Rani.
"Banyak alasan kamu, bilang aja ga mau melayani suami, aku tuh malas pulang kerumah begini ni, punya istri kerjaannya minta uang terus, mana ga ngurus badan bikin empet mata," ucap Ridwan sambil membanting pintu kamar dan pergi entah kemana.
Bintang yang sedang tertidur pun kaget dan menangis, akhirnya Rani memeluk dan menenangkan anaknya yang menangis.
Ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Ya Allah, kenapa Bang Ridwan semakin hari semakin keterlaluan, apa salahku, apa yang harus aku lakukan," ucap Rani.
Rani menghela nafasnya, mencoba memejamkan mata dan mencoba tak peduli pada suaminya yang pergi entah kemana.
Pagi harinya seperti biasa Rani mengerjaan pekerjaan rumah setelah itu bekerja di rumah Mbak intan.
Ridwan entah tidur di mana tadi malam hingga saat ini tidak pulang, hari ini adalah hari sabtu anak sambungnya yang bernama Endi masih bermalas-malasan di kamar.
"Eh Mbak Intan ga kerja?" sapa Rani saat melihat tetangga yang juga majikannya itu duduk bersantai sambil menyuapi makan anaknya yang usianya tidak jauh dari Bintang.
"Sabtu aku libur Ran, suami kamu juga libur kan?" tanya Mbak Intan.
Sebenarnya Mbak Intan dan Ridwan satu pabrik tempat kerjanya, namun beda bagian, Mbak Intan bagian staf penting di pabrik sedangkan Ridwan bagian mekanik mesin, pabrik tempat mereka bekerja memproduksi sepatu sepatu yang menggunakan mesin kecil maupun besar, jika ada kerusakan pada mesin Maka tugas Ridwan dan kawannya memperbaiki mesin tersebut.
"Gak tau Mbak Intan," ucap Rani.
"Loh kok ga tau, emang ga ada di rumah?" tanya Intan.
Rani menggelengkan kepala, sebenarnya ia ingin sekali bercerita tentang suaminya pada Mbak Intan, karna ia merasa berat menahan beban sendiri tanpa ada sandaran atau setidaknya teman berbagi keluh kesah, namun ia ragu karena perbuatan itu bisa saja salah, karena yang ia tau bahwa seseorang harus menjaga aib rumahtangganya.
"Mbak di pabrik lagi banyak produksi kah belakangan ini?" tanya Rani.
"Setau aku sih enggak, semua normal dan karyawan pulang selalu tepat waktu," jawab Intan.
Rani menghembuskan nafasnya, selama ini suaminya pulang selalu malam dengan alasan lembur produksi di pabrik sering banyak, namun nyatanya dia berbohong.
__ADS_1
"Mbak seandainya suami Mbak selingkuh di belakang Mbak, apa yang Mbak lakuin?" tanya Rani.
Intan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Rani.
"Tergantung Ran, lelaki selingkuh itu ada banyak faktor, bisa karna Khilaf bisa karena tabiat, kalau baru sekali selingkuh mungkin dia khilaf sebagai perempuan kita intropeksi diri, mempercantik diri, memberikan service terbaik di atas ranjang buat suami, agar suami ga tergoda pelakor di luar sana, tapi kalau kita sudah berusaha seperti itu dan suami ga berubah dan sering selingkuh itu artinya dia bukan khilaf, tapi itu tabiatnya, tabiat itu sulit di rubah, suami seperti itu lebih baik di tinggalkan," ucap Intan.
Rani termenung mendengar ucapan Intan ia melihat pantulan dirinya di cermin yang sedang ia bersihkan terlihat sosok wanita bertubuh gemuk, wajah kusam, baju daster lusuh dan rambut berantakan.
Apa mungkin karna ini Bang Ridwan selingkuh, apakah aku tak menarik lagi di matanya. Batin Rani.
Rani menghela nafas lalu melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai bekerja ia pun pamit pulang.
"Mbak Intan kerjaan saya selesai saya pamit pulang ya," ucap Rani.
"Sudah selesai, makasih ya ini uang jajan buat Bintang," ucap Intan seraya memberikan selembar uang berwarna biru pecahan lima puluh ribu rupiah.
"Bukannya gajih saya di bayar bulanan ya Mbak?" tanya Rani.
"Iya itu bukan gaji, itu uang jajan untuk Bintang, nanti tiap minggu aku kasih segitu buat Bintang," ucap Intan.
Sesampainya di rumah ada seorang tetangga yang memberikan undangan pernikahan anaknya.
"Assalamualaikum Mbak Rani," ucap tetangga.
"Waalaikumsalam," ucap Rani.
"Mbak, minggu depan saya menikahkan anak saya yang sulung, Mbak dan suami datang ya ke pesta," ucap tetangga.
"Oh iya insyaAllah saya dan suami datang bu," ucap Rani.
"Terimakasih Mbak, ya sudah saya keliling lagi mau undang tetangga yang lain," ucap tetangga.
Lalu Rani masuk ke dalam rumah dan membawa undangan tersebut, waktunya Bintang tidur siang dan dia masak untuk makan siang.
Hanya sayur kangkung, sambal dan ikan asin yang Rani masak karena uang dari ridwan semakin menipis.
__ADS_1
Suara deru motor terdengar di halaman rumah menandakan Ridwan pulang.
"Ran kamu masak apa, cepat ambilkan aku sudah lapar," ucap Ridwan tanpa memberi salam saat masuk rumah.
Rani segera membawa makanan yang sudah ia masak, di sajikan di hadapan suaminya yang sedang.
"Ini lagi masakannya, bosen banget, tapi ya udah lah aku udah laper banget," ucap Ridwan.
Lelaki itu lalu menyendok nasi dengan lauk pauk dan memakannya dengan lahap.
Kata dia bosen tapi kok makannya lahap banget kaya orang belum makan tiga hari aja. Batin Rani.
Selesai makan Rani merapihkan kembali sisa makanan dan piring kotornya, setelah mencuci bersih piring kotor ia kembali ke suaminya dan memberikan undangan pernikahan anak tetangga nya.
"Bang ini ada undangan pernikahan," ucap Rani menyodorkan undangan pernikahan itu.
"Dari siapa?" tanya Ridwan.
"Dari bu Nia dia nikahin anak sulungnya minggu depan," ucap Rani.
"Dimana acaranya?" tanya Ridwan.
"Di balai desa, bu Nia bilang halaman rumahnya sempit sedangkan tamunya banyak dari kota, kan besannya orang kota, jadi dia izin mengadakan hajatan di balai desa," ucap Rani menjelaskan.
"Oh,"
Ridwan hanya menanggapi dingin ucapan istrinya lalu ia mengambil remot tv, menyalakan tv dan mencari program kesukaannya.
"Nanti kita pergi bareng ya Bang naik motor, balai desa lumayan jauh kalau kondangan jalan kaki," ucap Rani.
Ridwan langsung membalikkan badan dan menatap wajah istrinya, lalu di lihatnya penampilan Rani dari ujung rambut sampai keujung kaki.
"Pergi bareng? Kondangan bareng aku sama kamu?" tanya Ridwan dengan nada mengejak.
"I-iya Bang emang salah? Aku kan istrimu wajar minta kondangan bareng kan?" ucap Rani.
__ADS_1