Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
Bahagia


__ADS_3

"Emak Pengan Rama berjodoh sama Dinda, dia itu cantik, baik, Sholeha, penyayang bertanggung jawab pada adiknya," ucap emak.


Seketika Rama memandang Dinda yang tengah tersenyum dan berbincang dengan teman-teman nya di acara pesta pernikahan Rani tersebut.


tak sengaja Dinda menengok kearah Rama dan pandangan mereka bersirobok persekian detik.


deg


deg


deg


Dinda memutus pandangan mereka lalu kembali berbincang dengan temannya.


"Dia cantik juga, selama ini dia selalu membantu kak Rani tapi aku tak pernah memperhatikan nya," gumam Rama dalam hati.


Pemuda tampan itu tersenyum dan hal itu di perhatikan oleh Riska.


"Emak kayanya pilih orang yang tepat, aku setuju punya ipar kaya Dinda, ya ga kak Rani," ucap Riska.


"Iya aku juga setuju, Dinda anak baik dan selama ini dia yang selalu aku andalkan," ucap Rani.


"Jadi gimana Rama, kamu mau di jodohkan sama Dinda?" tanya Rani.


Rama tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku akui dia memang cantik, tapi aku belum siap menikah kak, aku belum mapan, mau di kasih makan apa nanti dia, apalagi ada adiknya yang akan menjadi tanggung jawabku juga jika aku berjodoh dengannya," ucap Rama.


"Rejeki nanti datang dengan sendirinya Rama, Dinda juga bukan wanita yang manja yang hanya mengandalkan suami, kakak yakin nantinya dia akan menerima kamu apa adanya dan kalaupun kamu belum mapan dia mau membantu mencari uang meringankan beban rumah tangga," ucap Rani menjadi semangat menjodohkan Rama dengan Dinda, karna ia tau Dinda anak yang baik.


Rama lagi lagi menggelengkan kepalanya, ia menyeruput minuman yang sejak tadi ia genggam.


"Gak gitu konsepnya kak, memang Dinda itu perempuan baik sama seperti kakak, yang dengan ikhlas membantu mencari uang untuk menutupi dan meringankan beban rumah tangga, tapi aku sebagai lelaki ingin mapan sebelum menikah agar nanti kalau punya anak dan istri tidak memberatkan istriku, sudah lelah mengurus anak dan rumah masih lelah juga membantu mencari uang, aku ingin anak dan istriku bahagia dengan apa yang bisa aku berikan," ucap Rama dengan sungguh-sungguh.


Emak tersenyum dan mengelus punggung anak laki laki satu satunya itu, ia tak menyangka anaknya memiliki pemikiran dewasa dan bijak sana seperti itu.

__ADS_1


Rani dan Riska pun ternganga dengan ucapan saudara lelaki mereka, kedua kakak ipar Rama tersenyum dan merasa senang memiliki adik ipar yang punya pemikiran dan pendapat yang hampir sama dengan mereka.


"Udahlah jangan mikirin aku dulu, ini Hari bahagia kak Rani dan Mas Rangga, harusnya mereka yang jadi objek pembicaraan bukan aku," ucap Rama.


semua orang terkekeh mendengar ucapan Rama, dan akhirnya kembali memusatkan perhatian pada Rani.


"Kamu mau bulan madu kemana sayang?" tanya Rangga.


"Bulan madu? duh rasanya aku ga pernah memikirkan tentang itu," ucap Rani.


"Kenapa begitu?" tanya Rangga.


"Anakku dua Mas, ribet nanti," ucap Rani.


"Bulan sama Bintang ada Emak dan Rama yang jagain, kamu kalau mau bulan madu ga usah khawatir sama anak anak," ucap Emak.


Rani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sesungguhnya ia memang tak pernah memikirkan bulan Madu, menikah dan bisa hidup bahagia sudah sangat bersyukur bagi Rani.


"Nanti deh aku pikirin lagi, aku belum ada angan angan mau kemana," ucap Rani.


namun Rani tetap menjadi dirinya sendiri yang sederhana dan tak banyak maunya.


pesta berjalan lancar hingga satu persatu tamu pulang ke rumah masing-masing, kini Rangga dan Rani pun berada dalam kamar yang di penuhi bunga Mawar.


"Sini Mas bantu, kayanya kamu kesulitan," ucap Rangga.


Rani mengangguk dan Rangga membantu Rani membuka riasan pengantin yang melekat pada tubuh nya.


"Mau langsung ke kamar mandi?" tanya Rangga.


"Iya Mas, aku ga betah make up tebal dan rasanya badanku gerah memakai gaun pengantin itu," ucap Rani.


"Mau Mas bantu membersihkan badanmu?" tanya Rangga.


"Hah maksudnya gimana?" tanya Rani yang tak mengerti dengan ucapan lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya tersebut.

__ADS_1


"Ya kali aja gitu mau di mandikan sama Mas," ucap Rangga.


Rani melebarkan bola matanya mendengar ucapan Rangga, lalu memukul pelan tangan suaminya itu.


"Mas apaan sih, emangnya aku anak kecil pake di mandiin segala," ucap Rani.


Rangga tersenyum dan terkekeh melihat tingkah istrinya yang malu malu, dan akhirnya Rani pun memasuki kamar mandi sementara Rangga menunggu di tempat tidur.


Hampir satu jam Rani baru keluar dari kamar mandi dan terlihat lebih segar, ia memakai baju kimono berwarna pink muda sehingga warna kulitnya nampak semakin bercahaya.


"Mas aku sudah selesai, kamu mau gantian pakai kamar mandi?" Tanya Rani.


Rangga mengangguk dan akhirnya memasuki kamar mandi untuk membersihkan badan, setelah selesai ia melihat Rani duduk terdiam di pinggir ranjang.


"Kenapa? kok kamu diam aja, apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Rangga.


"Engga ada Mas, aku hanya merasa canggung aja," ucap Rani.


Rangga tersenyum lalu duduk di sebelah istrinya dan membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Rani, meskipun kamu bukan yang pertama untukku tapi aku ingin kamu adalah wanita terakhir ku," ucap Rangga.


"Aku juga berharap seperti itu Mas," ucap Rani menunduk.


"Jangan terus menunduk, pandang lah wajahku, aku sudah halal untukmu," ucap Rangga.


Perlahan Rani mengangkat wajahnya, lalu memandang wajah tampan laki laki yang menjadi suaminya itu.


Rangga mencium kening Rani lalu beralih ke hidung, pipi kanan, kiri lalu mendarat di bibir.


Rani terdiam dan menikmati permainan bibir suaminya hingga nafas mereka saling memburu satu sama lain.


Rangga menghentikan aksinya dan memandang wajah istrinya dengan tatapan sayu.


"Bolehkah aku meminta hakku sekarang?" tanya Rangga

__ADS_1


__ADS_2