
Setelah tadi malam menemani om Hans dan sudah mendapatkan bayaran pagi harinya Weni mendatangi Mami ina karna Mami Ina mengatakan bahwa ada satu cara yang mungkin bisa mendekatkan dia pada Rangga.
"Jadi apa cara nya Mi?" tanya Weni to the poin.
"Di pabrik milik Rangga ada lowongan kerja, kamu kerja di sana dan mulai dekati dia," ucap Mami Ina.
"Boleh mi, apa pekerjaanya?" tanya Weni.
"Jadi office girl," ucap mami Ina.
"Office girl? yang bener aja mami masa Weni yang cantik, manis dan laris ini jadi office girl," ucap Weni yang tidak percaya jika mami Ina merekomendasikan nya untuk menjadi office girl.
Weni menggelengkan kepala membayangkan dirinya bekerja sebagai office girl sedangkan mami Ina dengan santai menghisap sebatang roko di tangannya dan kembali berbicara.
"Di pabrik milik Rangga tidak butuh karyawan cantik atau tampan, yang mereka butuhkan adalah skil dan kemampuan, kamu cuma lulusan SMA gaak bisa menjahit juga,pabrik milik Rangga itu produksi baju yang cukup besar di jakarta, lagi pula jika kamu bekerja di posisi lain belum tentu bisa mendekati Rangga," ucap Mami Ina.
Weni menghembuskan nafas kasar nampaknya ia tak punya pilihan lain selain menjadi office girl di pabrik Rangga.
"Kalau kamu mau hari ini juga kamu berangkat melamar kerja dengan kenalan mami di paabrik Rangga," ucap Mami Ina.
"Ya sudah aku mau, demi Rangga aku rela jadi office girl," ucap Weni.
"Lagi pula kamu tau gaji karyawan di pabrik tidak sebesar pendapatanmu di sini Wen, pagi kamu mendekati Rangga malam kamu bisa melayani tamu di sini, jika kamu sudah benar-benar mendapatkan Rangga baru kamu berhenti melayani tamu di sini," ucap Mami Ina.
"Iya Mi, terimakasih," ucap Weni.
Wanita cantik yang selalu memakai baju ketat itu pun bersiap untuk pergi ke pabrik Rangga bersama orang kenalan mami Ina.
***
__ADS_1
Sementara di sisi lain Rani sudah selesai membuatkan sarapan untuk Rangga, hari ini Rangga kembali ke pabrik karna banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Mas mau sekalian di bekalin buat makan siang gak?" tanya Rani saatmelihat makanan suaminya sudah habis.
"Gak usah sayang, Mas lebih sering makan di luar, sering ada klient yang mengajak makan siang bersamna sambil membahas kerjasama," ucap Rangga.
"Oh gitu ya sudah kalau begitu," ucap Rani.
rani mengantarkan suaminya sampai depan pintu rumah setelah itu mencium tangan suaminya, Rangga mencium kening Rani lalu memeluknya.
"Mas ...," protes Rani yang malu Rangga memeliknya di depan pintu, Rani takut di lihat orang. tak lama kemudian Rangga melepaskan pelukannya.
"Andai hidup seenak di cerita novel, pemilik perusahaan bisa bebas bekerja atau tidak setiap hari, Mas malas bekerja masih ingin bersama kamu terus sayang, tapi kenyataan hidup tak seindah cerita di novel pemilik perusahaan malah sibuk banyak kerjaan yang ga bisa di tinggal begitu saja," ucap Rangga memdesah pelan.
Rani terkekeh mendengar ucapan suaminya, ia juga masih ingin bersama dengan suaminya menghabiskan waktu seharian bersama tapi ia tau suaminya memiliki tanggung jawab besar.
Rangga tersenyum lelu membelai lembut pipi istrinya, sungguh ia bersyukur memiliki istri seperti Rani yang pengertian berbeda dengan mantan istrinya, yang hanya mau uangnya saja tanpa tau tanggung jawab dan resiko pekerjaan, sering meminta liburan keluar kota bahkan keluar negri pada Rangga tak peduli banyaknua pekerjaan menumpuk yang harus Rangga kerjakan.
"Ya udah Mas pergi ya, jadi semangat krja kalau punya istrinkaya gini, doain rejeki Mas lancar bisa bahagiakan kamu dan anak-anak," ucap Rangga.
"Iya Mas berangkatnya Hati-hati di jalan ya, aku di rumah pasti doain suami, oh ya aku Izin ke warung nasi ya bawa anak-anak dan satu bibi," ucap Rani.
"Kamu pergi sama mang Jajat aja ya sopir kita," ucap Rangga.
Rani mengangguk dan Rangga pun pergi bekerja mengendarai mobilnya sendiri.
satu jam lebih Rangga mengendarai mobil memecah macetnya jalan ibu kota akhirnya ia sampai di pabriknya.
Satpam dan karyawan lain menyambutnya dan ada beberapa yang memberikan ucapan selamat pada Rangga karna telah melepas masa duda nya.
__ADS_1
Rangga tersenyum dan berjalan gagah menuju ruangannya dan mulai memeriksa beberapa laporan yang beberapa hari ini ia tinggalkan.
Sementara Weni yang baru saja di terima bekerja sebagai office girlkini memakai seragam office girl namun tetap memakai rok pendeknya.
"Eh anak baru, di sini jangan pake Rok pendek nanti di marahin kamu sama pak Ranggaa dan pak Nathan," ucap Nia office girl yang sudah cukup lama bekerja di pabrik Rangga.
Weni tak menghiraukan ucapan Nia ia masih terus bermain handphone berkomunikasi dengan orang kenalan mami Ina yang membawanya bekerja di sini.
Wahyu bekerja di bagian divisi pemasaran yang membawa Weni bekerja di sana selain dapat upah dari Mami Ina ia juga mendapat service gratis dari Weni satu malam, Wahyu mengabarkan pada Weni jika Rangga sudah mulai kembali bekerja hari ini.
"Yes, langsung aja aku mulai aksiku," gumam Weni.
Wanita itu membuatkan kopi manis ke ruangan rangga dengan sangat percaya diri.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk," ucap Rangga.
Weni pun masuk seraya membawakan kopi manis untuk rangga, sedangkan Rangga yang masih sibuk memeriksa pekerjaannya tak menyadari siapa yang datang, karna biasanya yang datang ke ruangnya hanyalah Nathan sang asisten, sebab semua lapora harus melalui Nathan sebelum sampai ke tangan Rangga.
"Ini kopinya pak," ucap Weni seraya menaruh kopi di atas meja Rangga, Rangga terkesiap mendengar suara seorang wanita sontak ia menghentikan pekerjaanya dan melihat ke arah Weni.
"Kamu? napain kamu di sini?' tanya Rangga.
Rangga mengenali wjah Weni karna sempat beberapa kali bertemu saat weni menjadi wanita penghibur di acara pesta temannya, namun Rangga tak mengenal namanya.
"Saya office girl di sini pak, saya uatkan kopi manis untuk bapak, pasti bapak akan suka dan saya mau membersihkan ruangan Bapak," ucap weni.
Rangga menatap Weni melihat penampilan wanita itu dari atas sampai bawah, Weni yang di tatap oleh Rangga merasa percaya diri malah mendekatkan tubuhnya pada Rangga.
__ADS_1