
"Apa syaratnya?" tanya Dinda.
"Syaratnya kamu harus rajin jujur dan juga mau bekerja keras karena di sini kerjaannya capek tapi saya nggak bisa gaji kamu besar pemasukan saya juga belum besar," ucap Rani.
"Insyaallah saya akan bekerja keras jujur dan juga rajin Bu Yang penting saya dan adik saya nggak kelaparan dan punya tempat untuk tidur," ucap Dinda.
"Ya mulai besok kamu kerja sama saya pagi-pagi sudah ada di sini ya, kalau untuk tempat tidur kamu sama adik kamu mau nggak tidur di warung ini soalnya saya juga masih menumpang sama emak saya terus kamarnya juga nggak ada lagi kalau kamu mau tinggal di warung ini untuk tidurnya nanti saya kasih kasur lantai," ucap Rani.
"Iya Bu mau banget," ucap Dinda.
Gadis berusia 15 tahun itu begitu semangat, Iya bisa menilai dari tatapan Rani bahwa Rani adalah orang baik tidak seperti orang yang mengaku relawan namun membuatnya menjadi pengamen di Jakarta, Dinda dan Dicky akhirnya tinggal di warung nasi Rani dan pagi Dinda sudah mulai bekerja dengan Rani.
Rani merasa sangat terbantu dengan kehadiran Dinda, warung nasinya pun setiap hari selalu ramai sehingga ia melupakan sejenak kisah rumah tangganya yang begitu pilu Bahkan ia sudah tidak sempat lagi memikirkan masalah perceraian yang belum sampai ia ajukan ke pengadilan agama.
"Kak ini bajuku yang udah pada kecil kasih buat Dicky aja," ucap ramal seraya memberikan satu kardus pakaian bekas namun layak pakai.
"Eh Iya Kakak sampai lupa mau membelikan Diki baju kasihan dia kemarin sih pakai baju kamu masih kebesaran," ucap Rani.
"Ya udah ini kasihan aja buat Diki, masih bagus dan layak pakai kok Kak aku baru bongkar-bongkar lemari ternyata masih ada baju yang dulu," ucap Rama.
Mendengar ucapan kakaknya, Riska pun ikut membongkar lemarinya dan memberikan baju yang sudah tidak terpakai untuk Dinda, lalu Rani memberikannya pada Dinda dan Dicky, kedua Kakak adik tersebut merasa sangat senang bisa bertemu dengan Rani dan keluarganya, mereka yang kini hanya bisa mengandalkan satu sama lain merasa bersyukur dapat bertemu dengan orang baik seperti Rani dan keluarganya.
"Makasih banyak Bu Rani, semoga Allah selalu membalas perbuatan baik Bu Rani dan juga keluarga," ucap Dinda tulus.
__ADS_1
"Aamiin, kita sebagai sesama manusia harus saling peduli, apalagi kamu kan sekarang bekerja dengan saya, gaji kamu di akhir bulan ya sekarang kamu dan adikmu cukup makan dari warung saya kan," ucap Rani.
Dinda mengangguk, Iya tidak memikirkan berapa banyak gaji yang diberikan oleh Rani, bagi Dinda diberikan kesempatan untuk mendapatkan tempat tinggal bersama adiknya dan dia tidak kelaparan pun sudah sangat bersyukur.
Hari terus berlalu warung nasi Rani semakin ramai Rani pun memberikan gaji yang lumayan besar kepada Dinda, adik Dinda yang baru berusia 9 tahun pun didaftarkan sekolah oleh Rani, sekolah swasta milik ustadzah Hafsah yang memberikan fasilitas gratis untuk orang-orang yang tidak mampu.
"Dinda ini kan makanan udah sedikit lagi nanti kalau sudah habis tutup saja ya warungnya saya hari ini ada jadwal untuk pemeriksaan kandungan," ucap Rani.
Kini kandungan Rani sudah menginjak usia 6 bulan, Ia pun terkadang merasakan gerakan dari janin dalam kandungannya, Hari ini jadwal ia memeriksakan kandungan ke bidan seperti biasa di bulan-bulan sebelumnya Rama sang adik yang menemani Rani untuk pemeriksaan kandungan ke bidan.
"Mas, cepetan dong daftar nih kayaknya udah banyak yang antri di bidan," ucap seorang wanita yang terdengar marah-marah kepada suaminya.
Rani yang sedang duduk mengantri di depan klinik bidan tersebut pun menoleh ke arah wanita yang terdengar marah-marah kepada suaminya.
"Weni?" gumam Rani.
Rani memalingkan muka berpura-pura tak melihat mereka berdua, mereka pun tak menyadari kehadiran Rani yang sudah duduk sejak tadi di kursi tunggu klinik bidan tersebut.
Hingga giliran Rani dipanggil oleh bidan dan Rani pun segera masuk ke ruangan periksa bidan tersebut di ekori oleh Rama.
"Usia kandungan sudah 5 bulan bu Alhamdulillah semuanya baik ya tekanan darah normal nggak ada keluhan lain Ibu juga sudah bisa USG untuk pemeriksaan lebih jelas dan merinci," ucap bu bidan.
"Kalau USG itu cuma buat lihat jenis kelamin bayi ya bu bidan?" tanya Rani yang tidak tahu karena waktu hamil anak pertama ia jarang memeriksakan kandungannya ke bidan karena Ridwan yang tidak pernah mau diajak ke bidan dan tidak pernah memberikan uang untuk periksa kandungan ke bidan, beruntung Bintang adalah anak yang kuat sejak dalam kandungan Rani meskipun Rani tidak pernah memeriksakan ke bidan keadaan Bintang sangat sehat hingga ia lahir ke dunia.
__ADS_1
"USG bukan hanya untuk melihat jenis kelamin saja Bu, di USG nanti kelihatan air ketubannya bagus atau tidak terus posisi bayi lalu pertumbuhan bayi sesuai umur kandungan atau tidak atau misalnya ada kelainan dalam kandungan bisa terlihat saat USG tersebut, sehingga seandainya ada kelainan dalam janin ibu bisa lebih awal mengantisipasi dan juga memberikan penanganan pada janin," jelas Bu bidan.
"Oh begitu ya Bu terus kalau misalnya saya mau USG bisanya kapan?" tanya Rani.
"Di klinik kami hanya mengadakan satu bulan sekali untuk jadwal USG, dan jadwal tersebut kebetulan minggu depan kalau memang Ibu mau USG bisa daftar dari sekarang," ucap bu bidan.
Rani pun mendaftarkan diri untuk USG minggu depan, kehamilannya kali ini tidak ingin seperti kehamilan pertamanya saat mengandung Bintang, Iya bersyukur kali ini bisa periksa rutin ke bidan dan juga setiap hari memakan makanan yang bergizi.
setelah selesai konsultasi ke bidan dan juga sudah mendapatkan vitamin Rani pun bergegas keluar Ia memakai kerudung dan masker sehingga Ridwan dan juga Weni tidak menyadari bahwa Rani yang baru saja keluar dari ruangan bidan.
saat keluar dari ruangan bidan dan melewati Ridwan juga Weni, Rani mendengar sekilas percakapan Ridwan dengan Weni.
"Lagian siapa suruh sih kamu pakai hamil segala, Kalau kamu hamil kan nanti nggak bisa kerja," ucap Ridwan.
"Astaga, aku ini hamil anak kamu loh bang, kamu yang doyan tiap malam minta sama aku, sampai aku lupa minum pil nanti kehamilan dan sekarang saat aku hamil kamu mengalahkan aku, masalah kerja namanya istri itu nggak wajib yang wajib nyari duit itu suami," balas Weni Ketus.
"Gugurin aja kandungannya di bidang seni bisa nggak mumpung belum besar itu kandungan kamu pusing aku dari Nurul udah dapat dua dari Rani juga mau dua sekarang nambah dari kamu juga," ucap Ridwan.
"Kamu tuh dasar benar-benar ya lelaki brengsek, kamu mau bikinnya doang tapi nggak mau bertanggung jawab gimana sih jadi suami kalau misalnya aku ngegugurin kandungan ini terus aku ikut mati saat proses pengguguran gimana kamu mau tanggung jawab?" ucap Weni tak kalah ketus.
Rani hanya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan antara suami istri tersebut, ia mengucap syukur kepada Allah mungkin jika dia masih bersama dengan Ridwan, Ridwan akan mengatakan hal yang sama kepada Rani.
"Kak, ayo cepet pulang malah bengong di situ sih," ucap Rama.
__ADS_1
Rani pun menaiki motor yang sudah dinyalakan oleh Rama lalu mereka meninggalkan klinik bidan tersebut.
sesampainya di rumah Rani dikejutkan dengan orang yang bertamu ke rumah Emak tanpa mengabari Rani.