Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
35.pertengkaran


__ADS_3

"Mau ke mana kamu Weni?" tanya Ridwan.


"Aku mau pergi aku nggak tahan hidup sama kamu, udah kere nggak punya duit banyak nuntut lagi, Aku juga nggak mau punya anak cacat seperti itu, Kamu urus sendiri saja dia lebih baik aku kerja seperti dulu menghidupi diriku sendiri, sebelum bertemu denganmu hidupku senang tapi setelah bertemu dengan hidupku sangat sulit menyesal aku berhubungan dengan mu," ucap Weni.


Ridwan membolakan matanya terkejut dengan ucapan Weni, baru kali ini ada wanita yang berani membentaknya seperti itu, Nurul dan Rani mantan istrinya tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada Ridwan, dan tentu saja Ridwan juga tidak mau mengurus anak hasil dia dan juga Weni yang ternyata lahir dengan kekurangan.


Semasa Weni mengandung ia masih sering meminum minuman keras, dan Weni juga tidak pernah meminum vitamin dari bidan karena memang Ridwan tidak pernah memberikan uang untuk Weni memeriksakan kandungan ke bidan, hal itu membuat perkembangan janin sangat tidak baik dan akhirnya bayi yang dilahirkan oleh Weni terlahir dengan ketidaksempurnaan.


"Enak saja kamu mau pergi ninggalin anak ini, kamulah yang urus mana mau aku ngurus anak cacat seperti ini, Nindy dan Endi saja diurus oleh Nurul, Bintang dan Bulan diurus oleh Rani, masa anak ini harus aku yang urus, lagi pula jika aku mengurus anak ini bagaimana bisa aku pergi kerja," ucap Ridwan.


"Kamu pikir aku mau mengurus anak cacat seperti itu, anakku di kampung lahir dengan sempurna tidak kurang satu apapun, dia sehat dan cantik seperti aku, Aku memiliki anak cacat karena kamu pasti itu adalah genetik bawaan kamu, ya jadi kamulah yang harus mengurusnya kan Kamu bapaknya," ucap Weni.


Weni dan Ridwan masih terus bertengkar selalu menyalahkan dan tidak ingin mengurus anak tersebut, sungguh Anak Yang Malang kelahirannya tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya, kondisinya yang lahir tidak sempurna karena sejak dalam kandungan yang tidak dirawat oleh orang tuanya hingga setelah lahir pun ia masih saja tidak dapat kasih sayang dan hanya mendapat hinaan dari kedua orang tuanya.


bayi itu terus menangis meskipun dia tidak mengerti apa yang dikatakan kedua orang tuanya, namun pertengkaran orang tuanya dengan suara yang cukup keras membuat bayi tersebut ketakutan.


Ridwan yang tidak sabar karena Weni terus saja membalas ucapannya akhirnya menamparan Weni dengan sangat keras hingga sudut bibir Weni mengeluarkan sedikit cairan berwarna merah.


"Dasar lelaki brengsek kamu, belum bisa menyenangkan istri kamu adalah selalu menyakiti istri pantas saja tidak ada yang betah berumah tangga dengan mu, udah pelit tukang selingkuh kasar pula aku benar-benar sudah tidak kuat hidup denganmu," ucap Weni berteriak sambil menangis.

__ADS_1


"Diam kamu ****** sekali lagi Kamu berani mengatakan hal itu hadapanku Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu, kamu satu-satunya wanita yang selalu membangkang tidak seperti Nurul dan Rani," ucap Ridwan.


"Iya aku memang berbeda Aku tidak seperti Nurul dan Rani yang bodoh yang hanya menangis saat kamu siksa dan kamu sakiti, Aku bukan mereka dan aku tidak ingin hidupku sia-sia bersama orang tidak berguna seperti kamu Ridwan,"ucap Weni berteriak dengan sangat emosi.


Ridwan semakin emosi mendengar ucapan wanita yang masih sah menjadi istrinya tersebut, dia benar-benar wanita yang selalu membangkang ucapan Ridwan.


tidak seperti Nurul dan Rani yang hanya bisa menangis saat Ridwan menyakitinya namun akhirnya karena kesabaran mereka sudah diambang batas akhirnya mereka menyerah dan meminta cerai dari Ridwan.


Weni terus saja mengumpat mengeluarkan isi hatinya tentang kekesalannya kepada lelaki yang beberapa bulan ini sudah menjadi suaminya, penyesalan terdalam Weni rasakan karena telah berhubungan dengan Ridwan.


mendengar umpatan yang tidak terhenti dari mulut Weni membuat Ridwan sangat emosi dan akhirnya mencekik Weni lalu membanting tubuh Weni sehingga tubuh Weni terbentur ke ujung meja dan membuat keningnya mengeluarkan darah.


Weni yang panik dan ketakutan melihat amarah Ridwan akhirnya berteriak meminta tolong kepada tetangga sebelum nyawanya meregang di tangan suami.


mendengar teriakan Weni Ridwan semakin kesal dan juga panik, Ridwan membekap mulut Weni agar Weni tidak berteriak dan menimbulkan masalah lebih besar namun Weni menggigit tangan Ridwan dan secepat kilat berlari ke luar rumah dan kembali berteriak meminta tolong.


"Tolong ... tolong ... saya mau dibunuh," ucap Weni.


warga sekitar yang mendengar teriakan Weni akhirnya berlari ke arah Weni, dan mereka terkejut melihat Weni yang dengan pakaian sudah compang-camping sudut bibir berdarah dan juga kening berdarah rambutnya berantakan.

__ADS_1


"Ya ampun Mbak Weni ada apa kenapa bisa seperti ini mbak?" tanya Bu Sari tetangga yang berada di depan rumah Ridwan.


"Bu Sari tolong saya bu Bang Ridwan mau membunuh saya bu, padahal saya cuma meminta uang untuk belanja beras tapi dia malah memukuli saya," ucap Weni kali ini malah memfitnah Ridwan.


"Bohong Jangan dengarkan ucapan wanita ****** Ini saya tidak pernah mau membunuhnya karena dia meminta uang, kami bertengkar karena dia mau meninggalkan anaknya yang cacat," ucap Ridwan.


warga semakin banyak yang berdatangan karena teriakan Ridwan dan juga tangisan weni, dan anak Weni juga menangis di dalam rumah.


"Ya ampun Pak Ridwan kok bisa-bisanya sih ngomong kayak gitu itu anak sendiri loh masa dibilang cacat bukan cacat namanya Pak tapi spesial, lagian Semarah apapun suami sama istri janganlah main kasar apalagi sampai istrinya berdarah-darah seperti ini itu namanya KDRT Pak bapak bisa dipenjara karena kasus KDRT," ucap Bu Sari.


Mendengar kata penjara tentu saja membuat tubuh Ridwan bergetar, tentu saja ia tidak ingin mendekam di penjara karena kasus KDRT tersebut.


"Bu Sari, Pak RT tolong saya laporkan saja Bang Ridwan ke polisi atas tindak kdrt-nya saya takut Bu saya takut nanti dibunuh oleh Bang Ridwan," ucap Weni.


"Jangan, saya tidak mau dilaporkan ke polisi, tidak mau dipenjara," ucap Ridwan ketakutan.


"Ya sudah kalau tidak mau dipenjara dan tidak mau dilapor ke polisi ayo sekarang kita ke Pak RT selesaikan masalah Pak Ridwan dengan Weni secara kekeluargaan dulu, dan itu kasihan anak kalian menangis terus di dalam pasti dia ketakutan melihat orang tuanya bertengkar sangat parah seperti ini," ucap Bu Sari.


Akhirnya Ridwan dan Weni pun dikirim ke rumah Pak RT oleh para warga, beberapa warga sangat geram dengan tingkah Ridwan yang tidak pernah memberikan kedamaian kepada kampung ini selalu saja membuat onar.

__ADS_1


ketika digiring hendak ke rumah Pak RT tiba-tiba Ridwan mengatakan ingin buang air besar, awalnya banyak warga yang tidak percaya sehingga ia dijaga hingga warga menunggu di rumah Ridwan, sedangkan Weni lebih dulu di ajak ke rumah Pak RT agar tidak jadi sasaran Ridwan kembali, namun sudah lama para warga menunggu di depan rumah Ridwan, Ridwan tak kunjung keluar dari rumah, saat dilihat ke dalam rumah ternyata Ridwan tidak ada Dan mungkin saja dia sudah kabur.


"kita lapor Pak RT aja bilang kalau Ridwan kabur," ucap salah satu warga yang menunggu Ridwan.


__ADS_2