Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
14. Tidak ingin


__ADS_3

Lima hari berlalu Rani masih saja suka mual tapi hanya di saat saat tertentu seperti saat mencium aroma kopi, bakso, dan juga bau asap kendaraan yang lewat.


"Ran, kenapa kamu pucet banget?" tanya Intan.


"Gak tau nih Mbak, sudah beberapa hari suka mual kalau cium aroma tertentu," jawab Rani.


"Masuk angin?" tanya Intan.


"Udah di kerok Mbak tapi masih suka mual," ucap Rani.


Intan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rani, bukan apa apa Rani kan kerja bersama Intan jika terjadi sesuatu Rani saat di rumah intan maka intan harus bertanggung jawab.


"Ke dokter aja Ran, kalau kamu lagi ga enak badan istriahat dulu nanti kalau sudah enakan kerja lagi," ucap Intan.


"Iya Mbak terimakasih," jawab Rani.


Intan mengangguk namun ia ingat dulu saat hamil anaknya ia juga merasa mual namun hanya saat mencium aroma tertentu saja.


"Ran, kamu kb enggak?" tanya Intan.


"Enggak Mbak, kan kalau kb berat badan saya naik terus, karna pengen tubuh langsing jadi saya olah raga dan berhenti kb," ucap Rani.


"Kamu udah haid bulan ini?" tanya Intan mulai curiga.


Rani terdiam ia mengingat ingat kapan kali terakhir dia haid namun ia tak mengingatnya.


"Lupa Mbak," jawab Rani.


Intan menghela nafasnya lalu berjalan ke kamarnya, tak lama kemudian ia kembali kehadapan Rani membawa benda pipih berukuran kecil.


"Ini aku punya persediaan tespek, kamu pakai besok pagi untuk cek, siapa tau kamu beneran hamil," ucap Intan.


Tangan Rani bergetar menerima tespek yang di berikan Intan, ia takut jika ia benar benar hamil lagi, Bintang sekarang baru berusia dua tahun setengah dan ia takut jika hamil nanti dia kembali gendut dan suaminya kembali berubah sifatnya tak semanis saat ini.


"Kenapa Ran?" tanya Intan saat melihat Rani terus melamun.


"Aku takut Mbak, kalau aku benar benar Hamil izinkan aku tetap kerja di sini ya Mbak," ucap Rani.


Intan mengehela nafasnya merasa iba pada wanita cantik di hadapannya.

__ADS_1


"Ya asalkan kamu sanggup dan kondisi kamu memungkinkan saya ga akan memberhentikan kamu," ucap Intan.


"Makasih Mbak, aku bener bener butuh kerjaan ini dan gaji ini," uca Rani.


Intan mengangguk meskipun hatinya kesal kepada suami Rani yang selalu memberikan nafkah kurang dan perlakuannya yang menyakiti Rani namun Intan tidak mau terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka.


Setelah selesai bekerja Rani pulang ke rumah dengan perasaan tidak karuan, ia menatap wajah tampan anaknya yang berusia dua tahun setengah.


Bintang gimana kalau kamu punya adik bayi, apakah kamu sudah siap ibu akan berbagi perhatian, apakah ibu bisa mengurus kalian nantinya. Batin Rani.


Lalu Rani menatap wajah mertuanya.


Ibu bagaimana jika nanti Rani hamil lagi, apa bisa Rani tetap mengurus ibu, apa Bang Ridwan akan melakukan hal yang sama seperti saat Rani hamil Bintang. Batin Rani.


Rani menghela nafasnya, seperti biasa ia memasak setelah itu memberi makan mertuanya dan mengerjakan tugas Lainnya, Ridwan pulang kerja seperti biasa, ia pun masih bersikap manis kepada Rani, tanda tanda Ridwan berselingkuh pun tidak ada.


"Kamu kenapa sih Ran?" tanya Ridwan saat melihat Rani menutup hidungnya saat menyuguhkan kopi padanya.


"Gak tau Bang, aku selalu mual kalau cium aroma kopi yang aku bikinin untuk abang," ucap Rani.


"Aneh kamu ini," ucap Ridwan tanpa memperlihatkan kekhawatiran pada istrinya.


Rani hanya bisa terdiam, sudah biasa melihat suaminya yang bersikap tak acuh padanya, asal suaminya tidak selingkuh dan tidak berbuat kasar padanya sudah cukup bagi Rani.


Rani ingat tespek pemberian Intan lalu ia mencoba menggunakannya.


Dengan tangan bergetar ia menunggu hasil dari tespek tersebut.


Rani terduduk lemas di kamar mandi, tangannya bergetar melihat hasil yang di tunjukan oleh tespek tersebut.


"Garis dua, ya Allah aku hamil," ucap Rani bergetar.


Dengan langkah gontai ia menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah.


Ia menangis di dalam kamar mandi saat memandikan Bintang anaknya.


"Ya Allah bolehkah aku menolak kehadiran bayi ini, maafkan aku, aku tidak mengingikannya, Bintang masih terlalu kecil untuk punya adik dan lagi aku takut bang Ridwan kembali selingkuh saat tubuhku membesar karna kehamilan," gumam Rani sambil menangis.


Seperti biasa ia kembali bekerja di rumah Intan, dan masih terlihat pucat sehingga Intan kembali bertanya pada Rani.

__ADS_1


"Gimana Ran sudah ke dokter?" tanya Intan.


Rani menjawab dengan gelengan kepala, ia masih merasa syok dengan apa yang baru saja ia ketahui.


"Aku ternyata hamil Mbak," ucap Rani.


"Alhamdulillah, rejeki itu," ucap Intan.


Namun Rani masih menunduk mendengar ucapan dari Intan.


"Kenapa kok kayanya gak seneng Ran?" tanya Intan.


"Aku belum siap hamil lagi Mbak, Bintang masih kecil, dan aku takut Bang Ridwan selingkuh lagi kalau aku gendut nanti," ucap Rani jujur.


"Astagfirullah Rani kamu cinta boleh tapi bodoh ya jangan, kalau suami kamu selingkuh saat kamu hamil dan berubah gendut harusnya kamu sadar berarti suami kamu memang brengsek, apa sih yang membuat kamu ingin bertahan dengan dia Ran, dia tidak tampan, tidak kaya tapi terus menyakiti kamu," ucap Intan sangat geregetan pada Rani.


Rani hanya menunduk, ia juga tak mengerti dengan apa yang ada di hati dan pikirannya, sering kali ia ingin berpisah dari suaminya saat suaminya menyakitinya namun jika mengingat anak dan mertuanya ia kembali ingin mempertahankan rumah tangga yang tak membuatnya bahagia itu.


"Lebih baik kamu katakan pada suami kamu kalau kamu hamil Ran, periksa kandungan ke bidan jangan sampai bayimu kurang nutrisi dan vitamin," ucap Intan.


"Iya Mbak," jawab Rani.


Rani kembali melanjutkan pekerjaannya walau dengan pikiran yang bercabang kemana-mana.


Malam harinya saat Ridwan pulang bekerja seperti biasa tepat waktu, Rani menyiapka kopi untuk suaminya dengan rasa mual yang coba ia tahan.


Setelah memberikan kopi pada suaminya Rani bergegas ke kamar mengambil tespek yang telah berisi garis dua, di dalam kamar pun ia masih ragu apakah harus memberitahu Ridwan atas kehamilannya atau tidak.


Kasih tau gak ya? Kok aku deg degan banget ya, Batin Rani.


Dengan langkah pelan ia menhampiri suaminya yang sedang menonton tv dan menikmati secangkir kopi buatan nya.


"Bang aku ingin bicara sesuatu," ucap Rani.


"Apaan?" tanya Ridwan singkat matanya masih fokus pada siara televisi yang menayangkan acara pertandingan bola.


"Bang, aku hamil lagi," ucap Rani dengan suara bergetar.


"Apa?" tanya Ridwan terkejut.

__ADS_1


"A-aku hamil lagi," ucap Rani dengan tergagap.


Dengan perasaan takut dan bercampur aduk ia memandang wajah suaminya menunggu reaksi apa yang akan di berikan oleh suaminya mengenai kehamilannya kali ini.


__ADS_2