Petaka Pernikahan

Petaka Pernikahan
7. Tak ada yang berubah


__ADS_3

"Ran kamu kembali, jangan tinggalin ibu Ran," ucap bu Minah.


"Ibu kenapa bisa begini," ucap Rani.


Rani menurunkan anaknya dari gendongan, lalu mengangkat tubuh mertuanya yang jatuh tak berdaya di lantai, dengan susah payah Rani mengangkat mertuanya kembali keatas kasur, setelah berhasil menidurkan mertua nya di atas kasur Rani mencium sesuatu yang tidak sedap.


"Ibu maaf, ibu BAB?" tanya Rani.


Bu Minah mengangguk dengan mata berkaca-kaca, ia ingat dengan perlakuan anak nya tadi malam.


"Tadi Malam Ran, ga ada kamu ga ada yang ngurusin ibu," ucap bu Minah.


"Ya ampun maafin Rani ya bu," ucap Rani.


Wanita itu segera ke dapur untuk mengambik baskom berisi air juga waslap yang biasa ia gunakan untuk membersihkan badan mertuanya, namun ia kaget dengan keadaan dapur yang sangat berantakan, ia menghela nafas panjang.


"Baru semalam aku tinggal, rumah ini udah kaya kapal pecah," ucap Rani.


Ia pun kembali ke kamar mertuanya lalu mulai membersihkan tubuh mertuanya, Rani menggelengkan kepala melihat ada sisa kotoran menempel, sudah mengering di kulit keriput mertuanya.


"Semalam ga di bersihin sama Bang Ridwan bu?" tanya Rani.


"Enggak Ran cuma di ganti aja diapersnya, mungkin dia jijik sama ibu sendiri," ucap bu Minah sedih.


Selesai membersihkan tubuh mertuanya Rani hendak mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.


"Bintang anak pintar, diem sini jagain nenek ya, ibu beres beres rumah dulu," ucap Rani pada anaknya yang berusia dua tahun.


"Iya bu," jawab bintang patuh.


Rani pun melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya, dan terakhir memberi makan pada mertuanya.


"Bu Rani kerja dulu di rumah Mbak intanĀ  ya, ibu ga apa apa kan di tinggal sebentar," ucap Rani.


"Gak apa apa Ran kerja aja dulu, maaf ibu selalu merepotkan kamu," ucap bu Minah.


Rani pun membawa Bintang, beruntung anak itu sangat patuh dan ibunya Mbak Intan tidak keberatan jika Bintang di ajak kerja di sana, Bintang cukup di beri mainan mobil-mobilan maka dia akan tenang dan tak mengganggu ibunya yang sedang bekerja.


Semantara di sisi lain, Ridwan memasuki jam istirahat kerjanya, ia mengambil handponnya yang berdering, panggilan itu dari wanita simpanannya Weni.


Ridwan mengangkat telepon dari Weni.

__ADS_1


Ridwan : "Hallo sayang,"


Weni : "Hallo, Abang lagi ngapain?"


Ridwan : "Baru istirahat ni sayang, mau cari makan,"


Weni : "Entar mampir lagi ke kost aku kan Bang,"


Ridwan : "Iya dong sayang, Abang ga bisa sehari ga ketemu kamu, bisa keriput joni Abang kalau ga masuk kandangnya sehari aja,"


Weni : "Hahaha ... Gak mungkin keriputlah Bang, gak ketemu aku juga kan ada istri Abang di rumah,"


Ridwan : "Udah ga napsu sama dia, ga ****, ga wangi, ga menarik kaya kamu pokoknya Abang dan joni cuma mau sama kamu, oh Ya kamu sengaja masukin bungkus bekas kontrasepsi ke kantong jaket Abang ya,"


Weni : "Aku jadi penasaran sejelek apa istri Abang di rumah, ya aku sengaja biar Abang ribut sama istri Abang."


Ridwan : "Kamu nakal, tapi Abang suka, kalau Abang datang siap-siap pake baju yang **** ya, yaudah abang tutup telponnya mau makan dulu,"


Weni : "Bye Abang sayang di tunggu ya di kost aku nanti sore,"


Ridwan pun mematikan sambungan teleponnya, tadi pagi ia berjanji pada istrinya untuk berubah dan tidak mengulangi kesalahannya namun janji itu hanyalah bualan semata, ia masih menikmati dosanya bersenang senang dengan wanita lain tanpa memikirkan perasaan istrinya sedikitpun, tidak ada yang berubah dari seorang Ridwan.


"Kamu ketahuan istri kamu selingkuh sama Weni?" tanya Edi.


"Terus gimana? Istrimu minta cerai ga?" tanya Edi.


"Enggak, semalam dia kabur ke rumah orang tuanya, pagi-pagi aku bujuk buat balik lagi ke rumahku, ya sebenarnya aku pengen cerai, tapi dia masih berguna," ucap Ridwan.


"Maksudnya?" tanya Edi tak mengerti.


"Ibuku di rumah kan Lumpuh kalau aku sampai cerai sama dia siapa yang urus ibuku nanti," ucap Ridwan.


Edi menggelengkan kepalanya mendengar pernyataan temannya itu, ia tak menyangka Ridwan sejahat itu pada istrinya, Edi juga selingkuh tapi karna di jauh dari istri dan dia tetap baik pada anak istrinya jika waktunya pulang ke rumah, tapi Ridwan memperlakukan istrinya lebih hina dari seorang pembantu di rumahnya sendiri.


Waktu semakin sore sudah saatnya Ridwan selesai bekerja, ia tak langsung pulang ke rumah seperti janjinya tadi siang ia menyambangi tempat kost kekasih gelapnya hanya untuk memuaskan napsu dan berbagi peluh bersama.


"Abang ribut ya sama istri abang?" tanya Weni dengan suara manja.


"Kerjaan nakal kamu tuh, tapi ga masalah wanita bodoh itu gampang di bujuk lagi," ucap Ridwan.


"Kenapa ga di tinggalin aja bang kalau abang udah ga cinta sama dia," ucap Weni.

__ADS_1


"Abang masih butuh dia buat urus ibu Abang yang lumpuh Wen," ucap Ridwan.


Weni membolakan mata mendengar ucapan kekasihnya itu, tadinya ia ingin membujuk Ridwan bercerai dengan istrinya agar dia bisa tinggal di rumahnya Ridwan yang lebih besar dari tempat kost nya dan tidak perlu pusing memikirkan biaya sewa tempat kost tersebut, namun mendengar ada ibunya yang lumpuh ia tak lagi berniat tinggal di rumah Ridwan.


"Tapi Abang janji ya kita akan tetap seperti ini," ucap Weni.


"Iya sayang, Abang juga ga bisa tanpa kamu," ucap Ridwan.


Weni butuh kehangatan yang di berikan oleh Ridwan, dan lagi Ridwan pun sering memberikan uang pada Weni, sebenarnya Ridwan sudah naik gaji tapi dia tak mengatakannya pada Rani istrinya, ia malah memberikan sebagian uangnya pada selingkuhannya itu, sedangkan istrinya di rumah di biarkan pontang-panting memikirkan cara menghemat uang agar uang yang di berikan Ridwan padanya cukup untuk satu bulan.


"Ayo bang anterin aku ke tempat kerja," ucap Weni.


Ridwan mengangguk lalu membersihkan tubuhnya setelah itu memakai jaketnya dan menyakalan sepeda motor untuk mengantarkan kekasih gelapnya ke tempat kerja malamnya.


Setelah mengantar kekasih gelapnya Ridwan pun melajukan motornya kembali ke rumah hingga sampai rumah jam sembilan malam.


"Baru pulang Bang," ucap Rani yang menunggu suaminya di sofa ruang tamu.


"Ya lembur," jawab Ridwan cuek lalu berjalan langsung ke kamar.


Rani hanya memperhatikan suaminya dari belakang.


"Ngapain kamu berdiri di situ, buatkan kopi untukku," ucap Ridwan.


Rani tersentak dengan ucapan suaminya, semakin hari semakin nyata Ridwan tak peduli padanya bahkan selalu kasar saat berbicara padanya.


Rani hendak membuatkan kopi hitam kesukaan suaminya namun ia melihat tempat kopi dan gula yang sudah kosong.


"Sudah habis ternyata," ucap Rani.


Rani kembali melangkah ke kamarnya dengan tangan kosong.


"Mana kopinya?" tanya Ridwan.


"Itu Bang, kopi dan gulanya habis," ucap Rani.


"Ya kalau habis beli lah Ran, warung di depan rumah masih buka," ucap Ridwan.


"Ya minta uangnya Bang," ucap Rani.


"Uang?" tanya Ridwan dengan nada tinggi dan memandang Rani dengan tatapan Nyalang.

__ADS_1


Rani mundur selangkah saat melihat tatapan mengerikan dari suaminya, ia takut suaminya marah dan melakukan kdrt padanya.


__ADS_2