
Bia meneguk air dan ikut pergi meninggalkan restaurant itu dengan perasaan senang karena rencana hari ini berhasil seperti harapannya. Bibinya tak kecewa, walupun mungkin lain hari akan kembali dituding dengan beribu pertanyaan lain. Namun, hari ini bisa menunda terlebih dahulu, itu adalah langkah baik yang diambil, menurutnya.
Malam ini dia aman, selama makan malam dengan Bibinya, tak sekalipun Wila menyinggung masalah tentang pernikahan lagi. Akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak.
Bia masuk ke kamar, baru saja ia mendudukkan bokongnya di atas ranjangnya, ponselnya berdering. Membuat ia mau tak mau mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.
"Siapa sih? Sudah tahu aku malas, kenapa ponsel ini harus diletakkan sejauh ini?" gerutunya kesal.
Tanpa mau melihat siapa yang menghubunginya, Bia langsung menerima panggilan masuk tersebut.
"Bi, kamu sudah menyiapkan barang-barang yang diperlukan untuk besok?" tanya Tasya dari seberang telepon.
"Sudah. Kamu tenang saja," jawab Bia sambil memejamkan matanya.
"Bi, hari ini kamu ke mana saja sih?" cecar Tasya dari seberang telepon. "Sore tadi Gavin mengantar aku ke rumahmu tapi kamu tidak ada di rumah," lanjut Tasya.
"Tadi sore aku menemui Bibiku, mengenalkan calon suamiku padanya," jawab Bia sekenanya. Dia memang tak pernah menutupi apapun dari Tasya, kecuali kejadian pada malam itu.
"Calon suami? Siapa? Jonathan?" Tasya mencecar Bia dengan banyak pertanyaan.
"Tentu saja bukan. Apa kau gila? Mana mungkin aku memperkenalkan si kodok brewok itu pada Bi Wila," bantah Bia.
"Lalu, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Cepat ceritakan padaku!" tuntut Tasya dengan rasa penasaran yang telah memuncak.
"Besok aku akan menceritakan semuanya di kampus. Sekarang aku mau tidur dulu." tanpa basa-basi Bia langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
...*****...
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Cuaca hari ini cerah. Secerah senyumanku saat melihatmu, secerah harapanku untuk membuat hari ini dan hari yang akan datang menjadi lebih baik lagi dan lagi.
Bia bangun pagi-pagi sekali, dikarenakan hari ini ada seorang motivator yang datang ke kampus mereka.
Bia sendiri mengambil jurusan business management karena dia telah diberi mandat oleh Wila agar kelak mau mengurusi butiknya.
__ADS_1
Setelah putus dari Jonathan, Bia sudah mengambil keputusan untuk bersungguh-sungguh dalam hal belajar.
Setibanya di kampus, Bia langsung menuju aula. Sangat ramai para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah berkumpul dan telah mengambil tempat duduk.
"Bia!" pekik Tasya memanggil Bia yang sedang celingak-celinguk di depan pintu. Dia mengedarkan pandangannya mencari asal suara, setelah ditemukan dirinya langsung menghampiri Tasya.
"Ramai sekali, ya? Dan identitas motivator kita kali ini sepertinya sangat dirahasiakan," ujar Bia sembari melihat sekelilingnya.
"Benar. Tapi, aku sudah mendapat bocoran tentang motivator kita kali ini. Katanya dia adalah seorang pria yang sangat tampan...." sahut teman mereka di sebelahnya dengan kegirangan.
Tasya menarik lengan Bia agar perhatian Bia beralih padanya, "Bi, cepat ceritakan masalah kemarin!" titah Bia.
"Tasya, kau menyelinap dari Jonathan?" ejek Bia.
"Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang aku hanya mau mendengar ceritamu yang kemarin. Laki-laki mana yang kau kenakan sebagai calon suamimu? Kau punya pacar baru, tapi tidak mengatakan apapun padaku. Sekarang cepat ceritakan!" sungut Tasya.
"Bukan pacarku, dan aku juga tidak kenal dengan pria itu. Karena aku baru dua kali bertemu dengannya."
Jawaban Bia membuat Tasya tambah penasaran, dia sampai harus berpikir beberapa kali untuk mencerna setiap perkataan Bia.
"Aku tidak sedang bercanda, Tasya. Bi Wila memintaku untuk mengenalkan pacarku dan segera menikah. Aku baru saja putus dari Jonathan. Kau pikir saja, siapa yang harus aku kenalkan pada Bi Wila?" tandas Bia sembari menghela nafas pasrah.
"Lalu, siapa laki-laki itu?" tanya Tasya yang sudah diliputi rasa penasaran yang semakin besar.
"Pamannya Gavin!" pungkas Bia.
Tasya berdiri dari tempatnya, sontak dia langsung berteriak, "kalian sudah berpacaran, Bia?"
Disaat itu juga berpapasan dengan masuknya beberapa orang dosen dan seorang pria tampan yang mereka yakini motivator mereka hari ini. Semua mahasiswi mulai berbisik-bisik dan mulai menunjukkan sisi cantik merek. Namun, itu tak berlaku untuk Bia. Dia malah ingin bersembunyi di lubang buaya.
"Tasya, duduk!" Bia menarik-narik tangan Tasya yang tengah tersenyum kikuk pada semua orang di sana.
"Tasya, bisakah aku keluar sekarang?" tanya Bia dengan berbisik.
"Sepertinya tidak. Para dosen itu pasti akan memarahimu, atau akan mengurangi nilaimu," jawab Tasya.
__ADS_1
Bia menghela nafas pasrah.
Sepertinya benar apa yang Tasya katakan. Tapi, kenapa aku terus-terusan bertemu dengannya? Mungkin ... hanya sebuah kebetulan saja.
Seorang wanita cantik yang sedari tadi ikut sibuk menebar pesona pada Brandon maju ke depan dan mulai berbicara.
"Tolong diam semuanya! Hari ini kita kedatangan seorang motivator yang akan berbicara untuk kita semua. Kalian pasti mengenal siapa Beliau karena Beliau termasuk seseorang yang terkenal di negeri kita. Langsung saja, kita panggil motivator kita untuk memperkenalkan dirinya...." ucap Clara memberikan kata-kata sambutan awal.
"Perkenalkan saya Brandon Wirastama, saya harap kalian bersedia mendengarkan hingga akhir," tuturnya. Kemudian dia mulai berbicara dengan sangat berwibawa.
Sepanjang Brandon berbicara, para mahasiswi terus saja mengagumi ketampanannya dan kehebatannya.
Tasya menyenggol lengan Bia, wanita itu terus-menerus menutupi wajahnya dengan buku.
"Bia, calon suamimu sangat hebat," goda Tasya.
"Sialan! Itu semua tidak seperti yang kau pikirkan!" balasnya sengit.
"Kenapa kau terus saja menutupi wajahmu dengan buku? Bahkan Paman Brandon tak melirik ke sini sedikitpun. Kau benar-benar terlalu percaya diri," seloroh Tasya sambil terkekeh.
"Mana mungkin aku menutup wajah karena dia. Aku hanya ... sedikit pusing!" jawabnya asal.
Tak terasa satu jam telah berlalu, kegiatan mereka hari itu juga usai.
Para dosen dan Brandon sudah beranjak hendak pergi. Namun, tepat di depan pintu, Brandon tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Bia menjadi pusat perhatian semua orang.
"Haninbia, aku menunggumu di taman. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!" ucap Brandon dengan wajah datar kemudian pergi begitu saja.
Maaf lama tidak update, soalnya kemarin-kemarin author lagi kurang sehat🙏🤗
Jangan lupa untuk tinggalkan dukungan berupa like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1