Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Licik


__ADS_3

"Protagonis prianya adalah Jonathan," jawab Clara, kembali menyuguhkan senyuman puasnya.


Mata Bia membelalak, "Jo-jonathan?" tanyanya lagi untuk memastikan.


"Ya." Clara mengangguk membenarkan.


Bia menggigit bibir bawahnya. Mulai bingung dengan keputusan apa yang harus diambilnya.


"Bisakah aku melihat script naskahnya terlebih dahulu?" pinta Bia.


"Kebetulan sekali. Sekarang mereka sedang menunggumu di aula. Ayo, lihat scriptnya di sana sambil berkenalan dengan yang lainnya," ujar Clara.


"Tapi, Bu, aku tidak bisa berakting. A-aku takut acara pentas seninya hancur karenaku," akunya jujur.


"Kalau tidak bisa, kamu kan bisa belajar pelan-pelan," ujar Clara dengan gampangnya.


"Tapi, kan, acaranya hanya tinggal dua hari lagi?" gumam Bia mengerucutkan bibirnya.


"Makanya kamu harus berusaha semaksimal mungkin. Jangan sampai mengecewakan orang yang telah menaruh harapan padamu," ucap Clara sambil terkekeh pelan.


"Aku tau, pasti Anda yang telah merekomendasikan aku hingga Pak Nugraha memilihku, kan? Anda, kan, tau aku tidak bisa. Apa ada sangkut pautnya dengan Brandon?" cecar Bia.


"Tidak ada. Aku hanya sedang membantu kampus kita untuk memberikan yang terbaik. Apa itu salah? Sudahlah, tidak perlu banyak bicara, ayo kita ke aula sekarang, mereka sudah menunggumu sejak tadi," tangkas Clara.


Aku hanya sedang mwmberikan pelajaran untukmu. Merebut sesuatu milikku, maka inilah balasannya!


Dia pikir berlatih yang sama sekali tidak kita ketahui dasarnya itu gampang. Tapi, aku tetap harus mencobanya.


Clara memandu jalan. Mereka berdua menuju ke aula. Dan benar saja, semua orang telah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka di sana.


Saat Jonathan melihat kehadiran Bia yang berjalan di belakang Clara, dia langsung mengernyit heran. Pasalnya, nama Bia tidak termasuk dalam daftar, tapi kenapa sekarang wanita itu datang ke sana.


"Haninbia, perkenalkan dirimu pada teman-temanmu yang lain," ucap Clara.


"Ingatlah, jika kamu menolak menjadi protagonis wanita, maka beasiswamu akan dicabut!" bisik Clara mengancam.

__ADS_1


Mau tidak mau, aku memang terpaksa untuk menerimanya.


"Halo, semua! Perkenalkan, aku Haninbia. Mohon bimbingan kalian semua," seru Bia menunjukkan senyuman pada semua rekannya.


"Selamat datang, Haninbia!" sahut rekan-rekannya.


"Jadi, Haninbia ini yang akan menjadi protagonis wanita, di drama yang akan kita mainkan kali ini," seru Nugraha.


"Apa?" tanya Jonathan sedikit mengeraskan suaranya.


"Kenapa, Jo? Apakah kamu merasa keberatan?" tanya Nugraha.


"Ah? Ti-tidak, Pak. Tapi, bukankah Protagonis wanitanya belum ditentukan, kenapa sekarang Bia yang terpilih?"


"Ah, itu? Bu Clara yang merekomendasikan Bia."


Sontak Jonathan langsung menoleh pada Clara yang menaikan sebelah alisnya pada Jo.


"Pak, apakah aku boleh melihat scriptnya terlebih dulu?" tanya Bia.


Bia melihat script itu dengan teliti, membaliknya lembar ke lembar dan turut membacanya dalam hati.


"Sepertinya aku akan menjadi wanita lemah yang selalu tersakiti di sini," ucap Bia, fokusnya masih pada lembaran naskah yang dipegangnya.


"Kemudian, karena suatu kejadian aku berubah menjadi wanita tangguh dan membalikkan keadaan. Membuat Suamiku yang dulunya semena-mena menjadi budak cintaku. Hum, menarik!" imbuhnya sambil tersenyum.


Namun, senyumannya seketika menghilang saat dia membuka halaman-halaman lain. Takut dirinya yang salah, Bia terus membacanya hingga berulang-ulang kali dengan serius. Namun, apa yang dilihat Mash tetap sama.


"Apa ini?" dia beralih menatap Pak Nugraha kemudian beralih menatap Clara yang bersedekap, melihatnya dengan senyuman puasnya.


"Kenapa? Apakah ada yang salah?" tanya Nugraha.


"Kenapa banyak sekali adegan intim di sini? Berciuman, berpelukan, ahhh ... apakah aku harus melakukannya sendiri?" tanya Bia bergidik ngeri.


"Tentu saja harus kamu sendiri yang melakukannya. Kita sedang membuat pertunjukan drama biasa, bukan serial drama yang akan ditayangkan di televisi. Mana bisa memakai pemeran pengganti!" celetuk Clara sengaja mau membuat Bia menjadi lelucon.

__ADS_1


"Maaf, tapi aku tidak terbiasa dengan adegan intim seperti ini!" balas Bia, dia masih bersikap sopan karena menghormati Pak Nugraha.


"Tidak perlu terburu-buru. Kamu bisa pelan-pelan membangun chemistry dengan pasanganmu, Jonathan. Bukankah sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik?"


"Pak Nugraha benar sekali," timpal Clara.


Dasar licik. Dia pasti tau hubungan masalalu antara aku dan Jo, makanya dia bisa menjodohkan aku dan pria itu di drama ini. Tapi, dari mana dia tahu? Hubungan kami tidak terlalu terbuka.


"Tapi, Pak, kenapa kalian memilih tema ini?"


"Kita hanya mau memberitahukan tentang rasa tanggungjawab seorang pria itu harusnya seperti apa. Dan juga ingin membangkitkan rasa percaya diri seorang wanita. Jangan sampai mereka mau ditindas hanya karena perbedaan status, karena pada hakikatnya derajat kita sama. Kita boleh terlihat lemah lembut di mata suami, tapi tidak untuk dilemahkan. Jangan sampai artian seperti ini disalahpahami oleh sebagian orang."


"Banyak pelajaran yang bisa kita petik di dalamnya," imbuh Nugraha.


"Adegan berciuman hanya ada dua kali take. Pertama saat sang istri memutuskan untuk merubah cara. Dan yang kedua saat akhir, agar suasana lebih mengena pada penonton," ujar Nugraha.


Bia manggut-manggut. Apa yang dijelaskan Pak Nugraha dibenarkan olehnya. Tapi, ada satu hal yang tetap tidak bisa ia terima, yaitu adegan berciuman. Meskipun hanya sekali saja, dia tetap tidak bersedia melakukannya. Apalagi, lawan mainnya adalah Jo, mantan pacarnya, pria yang memaksanya berciuman pada malam itu. Sungguh menjijikkan!


"Kalian bisa mulai latihan. Ingat, dua hari lagi kita akan tampil. Maka pergunakanlah waktu untuk latihan dengan sebaik-baiknya. Kalian bisa menambah waktu latihan di rumah atau di mana saja," seru Nugraha.


Langkah kaki Jonathan tergesa-gesa menemui Clara yang hendak keluar dari ruangan.


"Clara, apa maksudmu ini? Kamu yang merekomendasikan Bia, kan?" tatapan tajam Jo langsung menusuk Clara, tapi wanita itu tidak merasa takut.


"Ya, memang aku. Lalu, apa ada masalahnya denganmu?" Clara balik menantang.


Jo mengusap kasar wajahnya. "Kau gila, Cla. Kau tahu apa hubunganku dengannya, kan? Tapi, kenapa masih membawanya lebih dekat padaku?!"


"Seingatku, kau memang menginginkannya, kan? Aku sedang memberikanmu kesempatan, Jonathan. Di pentas, kau bisa menciuminya semaumu dan disaksikan oleh banyak orang. Apakah kau masih belum puas dengan rencanaku ini?"


-Bersambung-


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏🙏


Terima kasih❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2