
"Tenggat waktu?"
"Ya, aku tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tak pasti," ujar Bia
"Bagaimana kalau satu tahun?" imbuhnya lagi.
"Satu tahun?" tanya Brandon memastikan.
"Ya, satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika kita bercerai dalam kurun waktu satu tahun, kita bisa membuat banyak alasan atas perceraian itu, benar, kan?" terang Bia.
"Baiklah, hanya itu saja?"
"Sebenarnya aku masih memiliki satu persyaratan lain, tapi ... lupakanlah!"
"Katakan saja! Jika aku sanggup, maka aku akan memenuhinya," ujar Brandon sambil menyeruput kopinya.
"Setelah menikah, bisakah kita tinggal terpisah dari keluarga? Kita hanyalah orang asing yang berpura-pura menikah. Aku tidak mau kecanggungan antara kita terlihat aneh di kata keluargamu dan Bibiku," jelas Bia.
"Tapi, jika kamu tidak bisa menyanggupinya, aku tidak masalah. Kemanapun kamu membawaku, aku akan ikut!" imbuhnya lagi.
"Aku menyanggupinya. Apakah masih ada permintaan lain? Misalnya, apartemen seperti apa yang kau sukai?"
"Tidak ada, yang penting nyaman, tapi aku suka yang sederhana," jawab Bia.
"Bagaimana ... tanggapan keluargamu saat mengetahui pernikahan kita akan diadakan secara tertutup?" tanya Bia, dia sangat penasaran, akankah sama seperti bayangannya, keluarga pria itu akan marah dan langsung berteriak-teriak menyuruh Brandon untuk membatalkan pernikahan?
"It's okay, mereka memaklumi dan menghargai semua keputusanku," jawabnya enteng. Lagi, dia menyeruput minumannya.
"Seperti itu saja?" tanya Bia terkejut.
"Lalu, respon seperti apa yang kamu inginkan?"
"Tidak ada. Ingat, setelah menikah nanti jangan menyentuhku!" sungut Bia berkilah.
"Kenapa tidak boleh? Kita sudah pernah melakukannya, jadi--"
"Sssstttt!" Bia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir pria yang berbicara dingin tanpa rem itu. "Jangan berbicara sembarangan lagi, okay?"
"Sembarangan? Kita memang sudah pernah melakukannya, kan? Apanya yang salah?" tangkas Brandon tak mengerti wanita di depannya sudah gugup bercampur malu.
Bia menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata dan menarik nafas panjang.
"Haninbia, wajahmu kenapa memerah?" Brandon memegang pipi Bia dengan telapak tangannya bermaksud mengecek suhu. "Apakah kamu sakit? Tapi, tidak panas," gumamnya.
"Uncle, tolong pindahkan tanganmu!" pekik Bia. "Untuk kedepannya, jangan sembarangan menyentuhku! Bukankah itu sudah termasuk dalam persyaratanku, harusnya kamu mengingatnya dengan baik!" sungutnya.
"Aku tidak ingat!" jawaban pria itu membuat Bia semakin naik darah.
"Apa perlu kita menuliskan setiap poin-poin dari perjanjian itu?" sentak Bia.
"Tidak perlu, kedepannya aku akan lebih hati-hati," ucap Brandon.
__ADS_1
Laki-laki itu terlihat merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam yang biasa dikenal sebagai black card. Dia menyodorkan kartu yang digilai wanita itu pada Bia.
"Ambil! Itu untukmu!" seru Brandon.
Mata Bia membelalak hijau, bayangan uang yang berlimpah mulai menari-nari di pikirannya.
"Ini ... untukku?" tanyanya memastikan.
"Ya, ambilah! Aku harus pergi sekarang."
"Kamu jangan terlalu lama di sini, pulang nanti ... hati-hati. Sampai bertemu dilain waktu,," ujar Brandon, namun Bia tak memperdulikan ucapan pria itu, dirinya masih sibuk dengan black card yang diberikan Brandon.
Karena Bia tak merespon, Brandon pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.
Setelah Brandon keluar dari ruangan itu, Bia baru tersadar dirinya ditinggalkan sendiri.
"Aku perhatikan sejak tadi sikapnya lumayan berbeda. Banyak bicara, hangat, dan royal!" gumam Bia sambil memeluk kartu hitam yang diberikan oleh Brandon.
Sesampainya di dalam mobil, sudah ada Hansel yang menunggu. Saat melihat kedatangan Brandon, dia langsung tersenyum jahil.
"Bagaimana, Paman? Apakah caraku berhasil?" tanyanya yang terlihat antusias.
"Caramu sangat payah! Lidahku hampir keseleo gara-gara mengucapkan kata-kata penuh perhatian itu!" ungkapnya.
"Paman, kamu terlalu dingin makanya merasa seperti itu! Coba katakan padaku, apakah kamu sudah berbicara penuh kelembutan padanya?"
"Sudah!" jawab Brandon datar.
"Sudah!"
"Apakah sudah memberikan kemewahan? Biasanya wanita paling suka itu," cetus Hansel.
"Sudah! Aku sudah memberikan black card untuknya," jawabnya lagi.
"Black card? Kenapa harus memberikan kartu hitam itu untuk calon istrimu? Berikan saja untukku, Paman!" rengek Hansel manja.
"Minta saja pada Daddymu!" sahutnya.
"Daddy? Dia tidak akan memberikanku kartu hitam idamanku itu, selalu beralasan kalau aku akan boros! Sangat menyebalkan!" gerutunya sambil mencebikkan bibir.
"Maka dengarkanlah Daddymu!" ujar Brandon, tangannya masih fokus mengemudi.
"Memang itu yang harus aku lakukan, kan? Aku ini putra seorang pengusaha kaya raya, tapi hidupku luntang-lantung, menyedihkan!" keluhnya pasrah, dia menyandarkan punggungnya dan menaikkan kakinya.
"Paman, kau serius mau menikah dengan wanita itu?" tanya Hansel sambil tersenyum miring.
"Kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu!" celetuk Brandon.
"Paman, pernikahan membutuhkan cinta yang tulus, setahuku kalian belum lama saling mengenal, bagaimana bisa tiba-tiba langsung menikah?"
"Hans, terkadang anak kecil tidak perlu banyak memikirkan masalah orang yang lebih tua. Jangan sampai tua sebelum waktunya," ujar Brandon, pria ini paling enggan jika membicarakan hal pribadinya.
__ADS_1
Hansel melirik tajam pada Pamannya, kesal tapi hanya bisa meredam kekesalan itu.
Brandon melakukan itu semua karena dia tidak mau insiden yang pernah terjadi pad Embun terulang pada Haninbia. Meskipun mereka hanya pura-pura menikah, tapi kepahitan itu tidak akan diberikan pada Bia.
Dia cukup tahu diri sifatnya bagaimana, jadi dia mencari Hansel dan meminta diajari caranya menyenangkan hati wanita dan caranya bersikap hangat.
Tapi, sepertinya aku salah mencari orang.
*****
Di restaurant, Bia baru saja keluar dari ruang VIP. Matanya menangkap seseorang yang sangat dikenalinya, seseorang yang dulu selalu menyatakan cinta padanya tapi sekarang sedang mencium tangan wanita lain.
Sungguh miris, hati ikut teriris, ingin rasanya ia menangis. Namun, air mata yang akan dibuang serasa percuma, sebab di antara mereka tak ada lagi ikatan pengikat.
Air mata setetes mengalir di pipinya. Seberapa hancur ia saat terkhianati, namun perasaan yang telah ada selama tiga tahun ini tak mungkin bisa terhapus begitu saja.
"Sekarang bukan saatnya untuk menangis dan meratapi nasib, Bia! Ini bisa dijadikan bukti agar Tasya bisa mengakhiri hubungan palsu di antara mereka," gumamnya.
Bia mengambil tempat duduk di sudut dekat jendela, tempat yang lumayan tersembunyi. Bia mengeluarkan ponselnya dan langsung mengambil beberapa pose mesra Jo dengan seorang wanita seksi.
Setelah itu, Bia melihat hasil jepretannya, takut hasilnya menjadi buram.
"Selesai!" serunya sinis. "Sekali pendusta, selamanya akan tetap menjadi pendusta!" tandas Bia.
Bia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, berjalan mengendap-endap saat melewati Jo, mantan pacarnya.
Di luar, dia mengirimi pesan pada Tasya.
"Tasya, aku mendapatkan sesuatu yang bisa membuat hubunganmu dan Jo berakhir."
"Cepat kirimkan padaku sekarang! Aku sudah tidak sabar mengakhiri semuanya!"
Sesuai permintaan Tasya, Bia mengirimkan foto-foto yang tadi diambilnya pada sahabatnya itu.
*****
"Bia, kamu ke mana saja?" tanya Wila lirih.
"Maaf karena Bila tidak pamit dan membuat Bibi khawatir. Tadi Unc, eh... Brandon, memintaku untuk menemuinya. Jadi, aku buru-buru kesana, Bi!" jelasnya.
"Brandon mengajakmu bertemu?" tanya Wila, dia tersenyum senang, pemikiran aneh yang sempat terselip di benaknya seketika menghilang.
"Bi Wila, bolehkan Bia menanyakan sesuatu?" tanya Bia hati-hati.
"Bertanyalah, Sayang!?"
"Bibi baru pertama kali bertemu dengan Brandon, tapi kenapa langsung percaya padanya?" tanya Bia.
"Dia kan pacar kamu, Bi. Kamu yang membawa dia kepada Bibi. Kamu maunya Bibi menentang hubungan kalian?"
"Bukan seperti itu, Bi Wila. Biasanya, walaupun sudah menjalin hubungan lama sekalipun, pasti akan di tes terlebih dahulu, diuji kelayakannya, apalagi ini kami akan menikah, Bibi tidak takut dia akan mengkhianatiku atau melakukan KDRT?" racau Bia panjang.
__ADS_1
"Kalau memang kamu takut dia akan seperti itu kedepannya, kenapa dia yang kamu pilih untuk dibawa pada Bibi?" sanggah Wila.