
Bia memegangi kepalanya, sakit sekali. Rasanya, apa yang dilihatnya berputar-putar.
"Bia, kamu kenapa?" tanya Brandon khawatir.
"Kepalaku terasa pusing, Sayang!" jawab Bia, terus memegangi kepalanya yang terasa amat pusing. Pandangannya berkunang-kunang, dan perutnya juga terasa mual sekali.
Aku kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Apakah karena kurang beristirahat? Karena telat makan? Aku baru ingat, belum makan apapun sejak kemarin. Tapi, bagaimana mungkin aku memiliki selera makan saat dalam keadaan berduka seperti ini?
"Istirahat di kamar saja, ya?" ajak Brandon namun Bia langsung menggelengkan kepalanya berulang kali dia sangat menolak asalkan merendam untuk masuk ke kamar.
"Kenapa? Kamu harus beristirahat, Bia!" Brandon menekankan setiap kata-katanya agar dia mau menurut dengannya meskipun dalam keadaan berduka tapi dia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya itu.
"Aku di sini saja. Ini terakhir kalinya aku melihat wajah Bibiku. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah ini, aku tidak akan bisa melihat Bibiku lagi untuk selamanya. Jadi, kumohon tolong biarkan aku di sini. Aku masih bisa menahan rasa pusing ini, tolong biarkan aku di sini sebentar lagi sampai Bibiku dimakamkan!" mohon Bia memelas. Memang inilah terakhir kalinya dia bisa melihat wajah Bibinya. Karena, setelah Bibinya dimakamkan, dia hanya bisa mengirimkan do'a atau menciumi batu nisannya.
"Baiklah, di sini saja. Tetapi, jika kamu merasa bertambah pusing, beristirahatlah di kamar, Bia," ujar Brandon akhirnya memilih mengalah. Dia sadar, apa yang dikatakan Bia memang benar adanya. Dulu, dia juga merasakan hal yang sama.
*****
Semuanya sudah selesai, saatnya mengantarkan Wila pada peristirahatan terakhirnya. Bia sudah bersiap, entah mengapa rasa pusingnya tidak kunjung hilang bahkan bertambah. Namun, dia tidak memegang kepalanya atau mengeluh pada Brandon. Bia takut suaminya itu tidak akan mengizinkannya untuk mengantar bibinya pada peristirahatan terakhir.
Kenapa pusingku semakin menjadi-jadi?
Bia terus bertanya saya dalam hatinya.
__ADS_1
tiba-tiba pandangan yang menghitam apa yang dilihatnya terasa berpusing-pusing. perutnya terasa kram dan ia merasa ingin muntah. Berulang kali Bia menahan mual dengan menutup mulutnya. Tetapi, mualnya pun tak kunjung hilang.
"Bia, kamu kenapa? Sudah kukatakan, kita beristirahat di kamar saja. Kamu pasti kelelahan. Apalagi, sejak kemarin kamu belum mengisi perut, kan?" Brandon memegangi lengan Bia agar wanita itu tidak terjatuh dalam kerumunan.
Sekuat apapun Brandon berusaha merayu namun dia tetap terus menolak untuk masuk ke kamarnya.
"Aku tidak mau! Aku mau mengantar Bibiku!" kekeuhnya. Biarlah Brandon menganggapnya keras kepala, asalkan dia bisa menghantarkan sang Bibi menuju tempat terakhir, itu sudah sangat cukup baginya.
"Bia, tolong dengarkan aku jangan keras kepala ini untuk kesehatanmu juga!" Brandon mulai kesal.
"Maaf, kali ini aku memang tidak bisa mendengarkan kata-katamu," sahut Bia.
Setelah dia mengucapkan itu, tiba-tiba tubuhnya limbung ke belakang. Untung saja, Brandon dengan sigap memeluk istrinya.
"Sudah kukatakan, Tapi masih saja membantah!" gumam Brandon.
"Mana?" Embun mencari-cari keberadaan Brandon dan Bia dalam kerumunan.
"Kak, kita lihat apa yang terjadi dengan Bia!" ajak Belle.
"Hil, kamu hubungi Dokter keluarga kita dan minta dia untuk segera datang kemari ya!" pesan Embun sebelum menghampiri Brandon dan Bia.
Belle, Rena, dan Embun langsung menuju ke arah Bia yang sudah tidak sadarkan diri. Brandon langsung menggendong Istrinya ala bridal style, membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Berbeda dengan Rita, sejak tadi dia terus duduk di sudut sambil memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang berlalu lalang.
"Kenapa itu si Bia? Pakek pingsan lagi!" gerutunya sambil menatap Bia tidak suka. "Kebanyakan drama!" imbuhnya.
Embun, Belle, dan Rena masuk ke dalam kamar, mereka langsung menanyakan kondisi Bia yang pingsan.
"Brandon, Bia kenapa?" tanya Rena sambil memijat kaki Bia agar wanita itu merasa rileks.
"Entahlah, Kak, mungkin terlalu syok dan kelelahan. Kemarin dia ada pementasan drama, dari kampus sampai sekarang tidak sempat memakan apapun. Bahkan, tidur pun kurang," terang Brandon. Dia menatap lekat wajah istrinya, mata Bia terlihat membengkak sebab dia tak henti-hentinya menangis sejak kemarin.
"Dia pasti sangat kelelahan. Kakak sudah memanggilkan Dokter, mungkin sebentar lagi sampai di sini. Kita tunggu saja," ujar Embun.
"Brandon, sebagai gantinya Bia, kamulah yang menghantarkan Bibinya ke peristirahatan terakhir Bibinya. Biar kami bertiga yang menjaga Bia," ucap Belle.
"Baik, Kak, terima kasih sudah mau menjaga istriku!" ucap Brandon, segera berlalu keluar dari sana. Sekilas, tatapan matanya sempat beradu dengan Rita yang sejak tadi terus mengawasinya. Namun, Brandon langsung menyudahi tatapan mereka dan pergi begitu saja sebab dia tidak mengenal siapa Rita.
"Menantuku cukup sombong dan dingin, termasuk kriteriaku! Kaya pula! Aku sangat beruntung karena Bia bisa menikah dengan pria seperti itu. Aku harus mencari kesempatan untuk tinggal bersama mereka. Mungkin, jika aku melemparkan diriku pada Brandon, dia pasti akan menerima dengan senang hati. Kebanyakan orang kaya kan seperti itu, tidak peduli dengan perbandingan usia. Yang penting bisa hot di ranjang, sudah merupakan sesuatu yang Waw sekali!" gumam Rita memiliki ambisi tersendiri pada Brandon, menantunya.
Tidak berselang lama setelah Brandon pergi, Dokter yang dihubungi Hilsa pun tiba. Hilsa langsung membawanya ke kamar agar segera bisa memeriksa kondisi Bia.
Melihat Dokter masuk ke kamar anak yang pingsan Lita masih saja sungguh memainkan ponselnya. Tidak ada terbesit rasa khawatir sedikitpun dalam benaknya. Dia akan memainkan perannya jika Brandon sudah datang nanti. Karena, jika memulai aktingnya terlalu cepat tanpa dilihat Brandon, maka semuanya akan sia-sia saja.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏😁
Terima kasih ❤️❤️🤗